Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Lifestyle / Farah Qoonita: Muslimah Mengalami Kemunduran Jika Jauh dari Alquran
Farah Qoonita (Dok/Foto Bandung.Pks.id)
Kadang-kadang kita, muslimah banyak berjuang untuk menjadi modern. Padahal sebaliknya, hal yang menurut kita modern hari ini jangan-jangan itu yang menyeret kita mundur ke belakang.

Sharianews.com, Kesalahan persepsi manusia saat ini menganggap budaya barat adalah budaya paling modern. Sehingga tidak sedikit mereka mengikuti perkembangan budaya barat yang bertolakbelakang dengan adat ketimuran.

Farah Qonita, penulis buku Seni Tinggal di Bumi mengungkapkan pada acara Gebyar Muslimah 2019 di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, menuhankan budaya barat membuat muslimah menurunkan kualitas dirinya.

“Kadang-kadang kita, muslimah banyak berjuang untuk menjadi modern. Padahal sebaliknya, hal yang menurut kita modern hari ini jangan-jangan itu yang menyeret kita mundur ke belakang,” ujar wanita yang akrab disapa The Qoonit ini.

Selain Barat, budaya yang mempengaruhi muslimah adalah budaya Korea. Korea yang konsen memperkenalkan budaya Korea ke seluruh dunia melalui jaringan media secara masif berhasil merekrut banyak penggemar.

“Ini yang akhirnya mencabut rasa cinta muslimah kepada Al Quran, lalu kepada cerita-cerita sahabat Rasulullah dan lainnya,” kata Qoonit.

Qoonita melanjutkan, di dunia saat ini terdapat dua kekuatan besar yang dapat mengusai sesuatu. Yaitu  hard power dan soft power. Apabila hard power meliputi perang secara fisik seperti yang terjadi di Palestina saat ini, Soft Power menguasai sesuatu melalui nilai-nilai kebudayaan.

“Dan hari ini soft power paling kuat adalah budaya korea. Dimana mereka memainkan perang kebudyaan melalui empat F (fun, food, fashion, film). Inilah yang mengalihkan seorang muslimah untuk mengurangi produktifitas yang semestinya Akhirnya kuta konsumtif dan kebawa budaya mereka,” Lanjut dia.

Padahal, saat umat muslim tengah mundur dan mengikuti budaya Barat, justru orang Barat sendiri tengah mempelajari Al-Qur’an.

"Mereka (Barat) yang notabennya lebih maju dalam hal ilmu pengetahuan, ketika bertemu dan mempelajari Al-Qur’an justru semakin maju. Bahkan banyak ilmuan-ilmuan Barat yang pada akhirnya mempelajari Al-Qur’an dan masuk islam."

Sebagai contoh, Profesor dari barat Dr. Maurice Bucaille misalnya, seorang peneliti mumi Fir’aun dia menemukan adanya kandungan garam disana, dimana hal tersebut telah tercantum dalam Al-Qur’an bertahun-tahun lalu. Ada pula seorang peneliti yang ketika menyelam ke dasar laut menemukan ada batas di antara dua air dimana faktanya sudah ada di surah Ar-Rahman.

“Jadi mereka mengakui, bahwa ternyata semua itu sudah keren dari ilmu pengetahuan yang ada dalam Qur’an. Sebaliknya orang Barat ketika mereka sudah maju dan memiiki kemajuan intelektual lalu mereka bertemu Al Quran mereka justru menemukan keimanan. Karena dasarnya sumber modern yang paling modern itu adalah Al-Qur’an yang dibuat bertahun-tahun lalu tapi relevan hingga akhir kehidupan nanti,” pungkas dia.

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah