Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Ziswaf / Empat Rekomendasi Berbasis Filantropi untuk Tangani Covid-19
Foto dok. IDEAS
Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mendorong peningkatan peran Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dalam penanggulangan Covid-19 ke depan, dengan memberi beberapa rekomendasi ke semua pihak terkait.

Sharianews.com, Tangerang Selatan - Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mendorong peningkatan peran Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dalam penanggulangan Covid-19 ke depan, dengan memberi beberapa rekomendasi ke semua pihak terkait.

Pertama, IDEAS mendorong diversifikasi penghimpunan dana OPZ. Meski minat berdonasi meningkat pesat di saat pandemi ini, namun sebagian besar OPZ mengalami penurunan penghimpunan dana yang cukup signifikan, dalam rentang 20 hingga 50 persen.

Hal ini hasil dari kombinasi jatuhnya basis utama donatur tradisional yang terkonsentrasi pada zakat penghasilan/profesi, yang di sisi lain tidak mampu ditutup oleh kenaikan basis donatur baru yang terkonsentrasi pada sedekah terikat atau dana kemanusiaan.

Peneliti IDEAS Ahsin Aligori mengatakan dibutuhkan upaya diversifikasi penghimpunan dana yang masif oleh OPZ ke segmen donatur non tradisional, termasuk optimalisasi dana CSR/PKBL dari perusahaan hingga individu-individu ultra kaya.

“Kemampuan OPZ yang kuat dalam inovasi program, jaringan kerja yang luas, identifikasi penerima yang tepat sasaran dan kecepatan respon yang tinggi, menjadi daya tawar OPZ terhadap perusahaan dan lembaga donor,” jelasnya menegaskan, belum lama ini.

Ahsin menyarankan OPZ juga perlu melakukan komunikasi khusus ke donatur individual ultra kaya yang perilaku donasinya masih cenderung berorientasi jangka pendek, desentralistis dan interpersonal, sehingga lebih menyukai pemberian donasi secara langsung ke kelompok miskin, bahkan dilakukan secara demonstratif ke publik.

“Kedua, IDEAS mendorong dilakukannya kemitraan pemerintah-OPZ dalam pelaksanaan program jaring pengaman sosial, terutama dengan menjadikan OPZ sebagai mitra pelaksana program Bansos dan Distribusi Sembako, baik untuk 1,9 juta keluarga di Jabodetabek maupun untuk 9 juta keluarga di Non Jabodetabek,” tutur Ahsin.

Dia menambahkan bahwa kekuatan OPZ dalam identifikasi sasaran dan kecepatan respon dapat menjadi solusi untuk menutup carut marut distribusi bantuan sosial pemerintah yang seringkali lamban dan tidak tepat sasaran.

Disaat yang sama, dibutuhkan upaya besar untuk menyerap tenaga kerja kerah biru yang kini banyak menganggur atau setengah menganggur.

“Dibandingkan program Kartu Prakerja yang menelan anggaran hingga Rp 20 triliun, program padat karya atau cash for work yang banyak dilakukan OPZ dapat menjadi solusi, memberdayakan pengangguran dengan memberi mereka pekerjaan, sekaligus membangun kapasitas lokal dan menyediakan peluang-peluang ekonomi produktif, yang akan memfasilitasi perekonomian untuk kembali ke jalur normal dengan cepat,” ungkap lelaki lulusan magister IPB ini.

Ketiga, IDEAS mendorong kelompok masyarakat terkaya untuk berpartisipasi, berbagi dan berdonasi secara lebih masif melalui lembaga filantropi, terutama melalui OPZ. Insentif moral dan spiritual perlu dikedepankan disini, mengingat kepemilikan kekayaan kelompok teratas ini yang sangat signifikan.

Per Maret 2020, sekitar 100 ribu pemilik rekening menguasai hingga Rp 3 ribu triliun dana simpanan di perbankan nasional. Jika 100 ribu pemilik rekening ini bersedia berdonasi 0,3 persen saja, akan terhimpun dana setidaknya Rp 10 triliun, setara dengan penghimpunan dana seluruh OPZ saat ini dalam setahun.

“Inilah saatnya bagi kelompok terkaya untuk membantu sesama dan menyelamatkan bangsa dari krisis,” tutur Ahsin.

Keempat, IDEAS mendorong pemerintah untuk secara intensif mengadopsi pendekatan pembiayaan defisit anggaran untuk penanggulangan Covid-19 yang lebih berbasis instrumen filantropi, bukan instrumen komersial murni.

Pemerintah dapat menarik potensi investor untuk instrument pembiayaan defisit berbasis filantropi dengan menekankan pada transparansi, tata kelola dan akuntabilitas penggunaan dana untuk penanggulangan pandemi dan perlindungan kelompok miskin, termasuk menekankan eksistensi kemitraan pemerintah dengan OPZ untuk jaring pengaman sosial.

“Instrumen berbasis filantropi yang perlu diintensifkan dalam pembiayaan defisit anggaran ini antara lain adalah socially responsible investment (SRI) bond dan sukuk wakaf (cash-waqf linked sukuk),” tutup Ahsin.

Rep. Aldiansyah Nurrahman