Jumat, 22 Maret 2019
16 Rajab 1440 H
x
Coach Pribadi Ludiro Seto (Dok/Foto Istimewa)
Kesalahan pertama adalah sebuah persepsi yang mengatakan ‘saya tidak bakat berbisnis’.

Sharianews.com, Pribadi Ludiro Seto, Firm Owner Coach dari Hijrah Coach mengungkapkan empat kesalahan mindset atau pola pikir seseorang ketika ingin memulai berbisnis. Pasalnya kesalahan-kesalahan tersebut seringkali terjadi dan ditemui oleh setiap orang.

Kesalahan pertama adalah sebuah persepsi yang mengatakan ‘saya tidak bakat berbisnis’. Menurut Pribadi Ludiro Seto atau biasa disebut Ludi, bisnis bukanlah tentang sebuah bakat melainkan sebuah kemauan.

“Saya bertemu dengan banyak orang yang tidak memilik background (latar belakang) sebagai pebisnis, misalnya orangtuanya sebagai pegawai negeri atau karyawan tapi ketika dia mau untuk berbisnis, maka bisa,” ujar Ludi, pada hari Selasa (12/02).

Jadi sebenarnya, lanjut Ludi bisnis itu adalah sebuah ilmu yang bisa dipelajari. Sehingga tidak ada alasan karena bakat, yang ada hanyalah seseorang itu mau belajar atau tidak.

“Kedua, mungkin bagi orang-orang yang biasa bekerja atau sebagai karyawan atau PNS (Pegawai Negeri Sipil), berbisnis dan menghasilkan uang bukan suatu hal yag real (nyata), suatu hal hal yang jauh disana dan hanya ada pada orang-orang tertentu saja dan tidak ada pada dia gitu,” jelas Ludi.

Hal tersebut juga kesalahan. Dikatakan demikian, sebab pada kenyataannya bisnis dapat menghasilkan penghasilan yang besar, bahkan lebih besar dari karyawan biasanya. Dalam artian bisnis ini real atau nyata dapat menghasilkan uang.

“Rasulullah saw sendiri kan seorang pebisnis, para pendahulu, sahabat Rasul,  juga seorang pebisnis dan itu real bahwa mereka menghasilkan uang atau dahulu namanya dinar dan dirham. Dimana itu didapatkan dari hasil bisnisnya. Dan ini merupakan sebah kepercayaan yang harus ada bahwa bisnis adalah suatu hal yang real bukan angan-angan yang jauh di luar sana,” lanjut Ludi.

Kemudian yang ketiga, adanya sebuah prasangka bahwa bisnis bukan untuk kita. Dengan berbagai alasan, hingga akhirnya prasangka tersebut dapat menghentikan langkah kita untuk memulai bisnis.

“Misal kita udah tua nih, udah setengah baya. Dan kita berpikir kalo kita terlambat nih. Kita berpikir bahwa bisnis itu untuk anak muda yang masih semangat dan masih bergerak cepat. Atau mungkin bagi orang muda ’bisnis ini bukan untuk saya, karena belum punya pengalaman jadi saya nunggu dulu sampai tua,” tandas Ludi.

Pemikiran tersebut dikatakan keliru karena hakikatnya bisnis itu diperuntukkan untuk semua orang. Tidak terbatas pada sebuah kelompok usia tertentu.

Kesalahan terakhir dalam memulai bisnis sebagaimana dituturkan oleh Ludi adalah munculnya mental gratisan. Atau hanya bergabung pada sebuah bisnis yang tidak memiliki modal maupun investasi awal atau memiliki modal yang hanya sedikit, seperti halnya bisnis MLM atau strategi pemasaran berjenjang (berantai).

Ia menuturkan, mental gratisan ini merupakan salah satu yang dapat merusak seorang pebisnis. Karena ketika menghadapi suatu tantangan di tengah perjalanannya baik berupa uang, waktu dan tenaga, seorang tersebut akan lebih menahan diri.

“Nah hindari yang gitu tuh. Kalo kita baca biografi orang-orang sukses gitu, mereka bisa mengeluarkan effort (upaya) besar untuk mencapai cita-citanya. Dengan berinvestasi di ilmu, mentoring, coaching bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang banyak,” pungkas dia.

Keempat hal tersebutlah yang harus sebisa mungkin dihindari oleh semua orang, khususnya yang ingin serius dalam berbisnis. Sebab secara tidak langsung hal ini dapat menjadi penghambat anda untuk sukses di kemudian hari.

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah