Senin, 20 September 2021
13 Ṣafar 1443 H
Home / Ziswaf / Empat Cakupan Pengelolaan Wakaf Produktif
Pengelolaan wakaf produktif tidak terlepas dari bagaimana menjaga financial sustainability dengan pelayanan maksimal yang bisa menjangkau banyak orang, sehingga bisa menghasilkan low cost economy.

Sharianews.com, Jakarta - Pengelolaan wakaf produktif tidak terlepas dari bagaimana menjaga financial sustainability dengan pelayanan maksimal yang bisa menjangkau banyak orang, sehingga bisa menghasilkan low cost economy.

“Hal itu bermakna wakaf produktif tidak sekadar mendapatkan keuntungan dari investasi, namun bisa  memberikan kemudahan akses terhadap berbagai layanan sosial,” kata Wakil Direktur Waqf Center for Indonesian Development and Studies (WaCIDS) Imam Wahyudi Indrawan, dalam keterangan tertulis, Jumat (10/09).

Senada dengan itu, Direktur WaCIDS Lisa Listiana menyampaikan empat cakupan materi dalam upaya pengelolaan wakaf di sektor produktif.

Pertama, yaitu konsep investasi secara umum dan dari perspektif Islam. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup yang dimiliki seharusnya tidak hanya dunia saja.

“Namun perlu memiliki perspektif akhirat yang diinternalisasi bagi individu, khususnya bagi nazir dan pengggiat perwakafan. Hal ini dikarenakan semua aktivitas yang dilakukan nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat,” jelas Lisa.

Lisa juga menyampaikan bahwa dilihat dari perspektif Islam, nazir selaku pengelola wakaf perlu melakukan investasi yang mempertimbangkan kemaslahatan umat. Indikator keberhasilan hasil investasi terkait wakaf perlu dilihat dari dampak nyata kepada sosial, dibandingkan dengan seberapa banyak anggaran yang dikeluarkan dalam menjalankan program.

Kedua, ada dua tipe investasi yang cocok bagi lembaga wakaf, yaitu sektor riil dan keuangan.  Sektor riil yaitu investasi yang dilakukan pada aset fisik, proyek, dan fintech.

Sedangkan sektor keuangan merupakan investasi yang dilakukan melalui deposito syariah, saham syariah, reksadana syariah, dan sukuk. Salah satu peluang investasi yang juga bisa dilakukan oleh lembaga wakaf yaitu dengan mendanai sektor strategis melalui wakaf uang.

Ketiga, ada beberapa contoh pengelolaan investasi aset wakaf di dalam negeri dan luar negeri yang bisa dijadikan referensi oleh lembaga wakaf. Di Indonesia, pengelolaan aset wakaf diantaranya telah dilakukan oleh Global Wakaf dengan beberapa programnya seperti Lumbung Pangan Wakaf, Lumbung Ternak Wakaf, dan Ritel Wakaf.

Selain itu, Sinergi Foundation juga memiliki beberapa program, seperti RM Ampera, bisnis makanan, dan properti, serta Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS).

Di samping itu, pengelolaan aset wakaf secara produktif juga telah dilakukan oleh negara tetangga, yaitu, Malaysia dan Sigapura. Pengelolaan aset wakaf di Malaysia diantaranya telah dilakukan oleh Waqf An-Nur Corporation Berhad (WANCorp): Waqf Saham Larkin Sentral, MyWakaf campaign, iTEKAD, dan Labuan International Waqf Foundation (LIWF). Sedangkan Waqf Revitalization Scheme: The Red House dan Finterra Waqf Chain, merupakan contoh pengelolaan aset wakaf secara produktif di Singapura.

Keempat, konsep manajemen risiko pada lembaga wakaf. Lembaga wakaf sedikitnya memiliki dua risiko, yaitu risiko investasi dan risiko manajemen. Untuk memitigasi risiko tersebut, diperlukan adanya usaha lembaga wakaf seperti melaksanakan standardisasi wakaf di dunia dan di Indonesia dan meningkatkan sumber daya yang amanah.

Hal tersebut penting untuk memenuhi ekspektasi wakif dan bisa menjaga keberlanjutan aset wakaf agar bisa menjangkau banyak manfaat untuk para penerima wakaf (mauquf ‘alaih).

Rep. Aldiansyah Nurrahman