Sabtu, 21 September 2019
22 Muḥarram 1441 H
Home / Lifestyle / Dwiki Darmawan Siap Bantu MUI Produseri Musik Islami Nusantara
FOTO | Dok. hiburan.metrotvnews.com
Indonesia menurutnya juga layak memiliki festival musik islami bertaraf internasional.

Sharianews.com, Dwiki Darmawan yang dikenal sebagai maestro komposer dunia ini kedepannya siap memproduseri musisi-musisi nusantara dengan tema musik islami. Menurutnya ada banyak seni musik nusantara yang layak untuk ditampilkan di luar negeri. Indonesia menurutnya juga layak memiliki festival musik islami bertaraf internasional.

Ditemui dalam acara halaqah musisi dan ulama yang digelar oleh Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI), musisi  yang juga keyboardist band legenda Krakatau ini menuturkan keinginannya untuk memproduseri musisi-musisi nusantara dengan tema musik islami.

"Saya jadi tergerak untuk kedepannya membantu MUI bidang seni budaya ini dengan pengalaman yang saya miliki untuk memproduseri, mengemas, sehingga layak untuk ditampilkan di luar negeri  dan Indonesia juga harus punya festival musik islami di level internasional,"ujarnya ketika di ditemui di MUI, Rabu (31/10/2018).

Menurutnya, jejak-jejak seni dan budaya bernapaskan Islam  sebenarnya juga banyak dijumpai  dari tanah nusantara ini. Termasuk seni di bidang musik. Namun demikian,  Dwiki merasa Indonesia belum percaya diri unjuk kehebatan musik Islami Indonesia.

"Jadi kita belum mengeksplorasi kehebatan budaya itu sendiri  dengan percaya diri. Saya mengalami self confidence justru ketika saya di luar negeri membawa itu, seprti di Portugal saat membawa seni  music khas budaya Kalimantan, termasuk lagu paris barantai, suara sampek diaransemen dan di sana menjadi sangat dikagumi sekali,"sambungnya.

Lebih lanjut Dwiki memaparkan aneka jenis musik tradisi bernapaskan Islami yang tersebar di nusantara, bahkan sejak dahulu kala.  Ia mencontohkan ada beragam  jenis musikalisasi zikir nusantara yang sejatinya bisa ditampilkan secara kolosal dalam pagelaran seni budaya bertaraf nasional.

"Di Gunung Kerinci,  itu ada Sike, itu zikir rebana. Jadi aktualisasi zikir dan rebananya itu macam-macam. Ada yang untuk putra, putri, anak-anak. Nah itu sudah jarang dimainkan lagi, tetapi ketika saya ke sana saya coba kumpulkan lagi ternyata ketika panen, tidak yang animisme yang diangkat, tetapi yang islami, bersyukurnya dengan  musikalisasi  zikir itu. Wah saya terharu lihat itu, seandainya itu diangkat ke dalam konser panggung kan bisa juga,”tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Dwiki juga mengatakan bahwa sejatinya, perbedaan musik islami dan tidak ialah terletak pada pencipta  dan pendengarnya  yang sama-sama pakai hati. "Antara pencipta lagu dan yang mendengarkan itu pakai telinga hati yang menciptakan itu inspirasi dari hati.  Dari atas turun ke hati," tutupnya berfilosofi. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil