Minggu, 25 Oktober 2020
09 Rabi‘ al-awwal 1442 H
Home / Sharia insight / Dualitas BMT di Tengah Pandemi covid-19: dari UMK Hingga Rumah Tangga Marjinal
Kinerja usaha mikro dan kecil mulai mengalami penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, dan terhambatnya proses distribusi. Jika wabah ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, tentunya akan cukup besar memukul usaha mikro dan kecil, dimana 99,9% dari sektor UMK adalah usaha mikro dan kecil.

Sharianews.com, Penyebaran virus corona secara langsung berdampak pada keberlangsungan sektor usaha mikro dan kecil. Jika pada saat krisis ekonomi 1998, sektor  usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu bertahan dan menjadi andalan perekonomian, saat ini kondisinya jauh berbeda. Beberapa pelaku usaha mikro dan kecil mulai melaporkan ke Kementerian Koperasi dan UKM terjadi penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, dan terhambatnya proses distribusi. Jika wabah ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, tentunya akan cukup besar memukul usaha mikro dan kecil, dimana 99,9% dari sektor UMKM adalah usaha mikro dan kecil.

Selain usaha mikro dan kecil, terdapat juga pelaku usaha informal yang jumlahnya tidak sedikit seperti pemilik warung, pedagang kaki lima, dan pedagang keliling. Pelaku usaha ini juga merupakan sektor yang paling rentan terkena dampak karena pendapatan mereka bersifat harian. Mereka mau tidak mau harus terus berjualan setiap harinya untuk menghidupi keluarga mencukupi kebutuhan sehari-hari, sementara adanya kebijakan social distancing  (PSBB) secara langsung dapat berpotensi menurunkan pendapatan harian mereka secara drastis. Dalam kondisi ini, mereka dapat berada dalam kondisi rentan kemiskinan. Bantuan pemerintah sebagaimana dijanjikan pemerintah maupun pemerintah daerah ternyata tidak memenuhi daftar keluarga di sejumlah RT/RW/Kelurahan.

Di tengah masa seperti ini, jasa-jasa rentenir banyak bergentayangan mencari mangsanya baik secara online ataupun offline. Dengan janji memberi pinjaman dengan cepat dan tanpa administrasi yang sulit, lembaga non formal ini mencari keuntungan ditengah kesempitan banyak orang. Mereka mencari kesempatan ketika para pelaku usaha informal, mikro, dan kecil mengalami kesulitan likuiditas harian ditambah dengan kemungkinan meningkatnya kebutuhan untuk persiapan ramadhan dan hari raya.

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dalam hal ini dapat menjadi salah satu penolong bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan informal. BMT merupakan lembaga keuangan mikro berprinsip syariah yang umumnya berbadan hukum koperasi. BMT ini banyak kita temui di daerah sekitaran pasar. Beberapa BMT bahkan mengganti namanya menjadi KSPPS (koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah). Anggota lembaga ini umumnya pedagang kecil dan biasanya dilayani dengan sistem jemput bola.

Bagi pedagang kecil keberadaan BMT ini cukup membentu terutama bagi mereka yang tidak bankable. Meskipun jika dibandingkan bank syariah marjin yang ditawarkan reltif lebih tinggi namun BMT menawarkan kemudahan dan layanan jemput bola tidak hanya diambil cicilannya sehingga mereka tidak repot-repot harus transfer atau pergi ke kantor BMT namun mereka secara “paksa” diajak untuk biasa menabung. Salah satu tabungan yang paling populer dari semua BMT adalah tabungan hari raya yang biasanya akan ditarik anggota disekitar bulan ramadhan menjelang hari raya. Sehingga menjadi sesuatu yang jamak, setiap mendekati hari raya  idul fitri banyak BMT yang  mengalami masalah likuiditas.

Dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini, kesulitan yang dialami BMT pastinya akan lebih besar. Kebijakan social distancing, lockdown,PSBB dan sejenisnya tidak hanya menyulitkan dikarenakan meningkatnya nasabah yang menarik tabungan, namun juga kondisi tabungan per hari menjadi lebih sulit dikumpulkan, belum lagi kemungkinan beberapa nasabah yang tidak dapat mencicil angsurannya sehingga menurunkan pendapatan BMT. Dana pihak ketiga pun menjadi semakin sulit, meskipun  bagi hasil yang ditawarkan lebih tinggi. Hal ini merupakan perjuangan yang tidak mudah bagi BMT.

Tidak hanya itu, bahkan dalam kondisi seperti ini,  BMT dengan dualitasnya sebagai lembaga ekonomi dan sosial juga  sangat diharapkan keberadaannya. Bukan hal yang tidak mungkin jika diantara anggota ada yang terdampak menjadi miskin dengan adanya pandemi ini. Pedagang kecil, pekerja harian, buruh/pegawai yang dirumahkan dan lainnya. Beberapa berita yang saat ini viral menceritakan tentang kematian warga yang kelaparan dan bahkan tidak ada bantuan sama sekali. Dalam kondisi seperti ini, sisi sosial BMT diharapkan banyak membantu keluarga-keluarga marjinal, minimal untuk anggota dan rumah tangga di sekitar BMT. BMT perlu mendata kembali nasabahnya, terlebih tidak tertutup kemungkinan adanya anggota BMT yang menjadi golongan penerima zakat. Sekali lagi peran BMT sangat diharapkan untuk dapat mengatasi hal ini.

Di tengah kondisi penurunan ekonomi, kiprah BMT ini tentunya harus didukung oleh segenap karyawan dan pengurusnya. Tidak hanya dibutuhkan kesehatan jasmani secara fisik, namun juga kesehatan rohani sehingga BMT dapat menjalankan fungsinya baik fungsi bisnis sekaligus sosialnya. Jika pengurus dan karyawan BMT sehat secara fisik mungkin hanya akan fokus pada bisnisnya namun jika segenap pengurus dan karyawan BMT sehat jasmani dan rohani maka BMT tidak akan kehilangan sisi kemanusiaannya sehingga akan menjalankan aspek sosialnya disamping bisnisnya. Sebagai salah satu lembaga yang langsung berhubungan dengan penyaluran pembiayaan usaha mikro, kecil, dan informal, BMT harus mampu mempertahankan kedekatan emosional dan memberi manfaat bagi para nasabah dan masyarakat.

Kondisi ini tidaklah mudah, tapi selalu ada optimisme dalam setiap masalah yang dihadapi. Dalam hal ini benarlah apa yang dikatakan peraih nobel fisika 2019, Michel Mayor: the most important point is to be prepared for the unexpected. Semoga kita semuanya siap.

 

Oleh: Ranti Wiliasih & Yuridistya Primadhita