Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Dua Tantangan Bank Syariah ke Depan
FOTO I Dok. Business Today
Masyarakat awam berpendapat bahwa tidak ada bedanya syariah dengan bank konvensional. Terlebih bagi mereka yang selama ini sudah berhubungan dengan bank konvensional, akan cenderung tetap di bank konvensional.

Sharianews.com, Jakarta ~ Bank syariah memiliki dua tantangan untuk berkembang ke depannya. Pengamat ekonomi syariah, Dumairy mengatakan ada dua hal yang menjadi tantangan perbankan syariah.

Pertama adalah tantangan dari bank konvensional, perbankan konvensional lebih luas bergerak. Karena tidak dibatasi dengan aturan agama. Dengan begitu perbankan syariah harus lebih kreatif.

“Ambil contoh saja, uang yang mereka (bank konvensional) mau lempar ke masyarakat sebagai pinjaman atau kredit itu tidak neko-neko, semua boleh.” Jelas Dumairy saat ditemui Sharianews, di sela acara Sharing Discussion yang diselenggarakan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Harta Insan Karimah (HIK), di Hotel Horison Ciledug, Jakarta, Sabtu (23/2).

Sementara bank syariah tidak bisa, karena ada lahan-lahan yang tidak bisa dimasuki dengan bebas.

Kemudian, tantangan kedua yaitu adalah kemauan dari orang Islam itu sendiri untuk berhubungan dengan perbankan syariah. Kemauan berkaitan erat dengan sosialisasi.

Masyarakat awam berpendapat bahwa tidak ada bedanya syariah dengan bank konvensional. Terlebih bagi mereka yang selama ini sudah berhubungan dengan bank konvensional, akan cenderung tetap di bank konvensional.

“Tantangannya dari masyarakat kita sendiri. Masyarakat kita, karena belum tersosialisasi dengan baik, ya menganggap kasarnya, beda bank syariah dan bank konvensional adalah bahasanya saja, kalau bank konvensional itu istilahnya ke-inggris-inggrisan, sementara bank syariah ke-arab-araban. Padahal banyak perbedaan yang lebih hakiki, jadi harus diterangkan,” papar Dumairy.

Ia berharap, bank syariah mampu menjalin relasi dengan pihak-pihak yang berkaitan atau berhubungan dengan masyarakat luas untuk sosialisasi.(*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo