Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H

Dua Sayap Zakat

Selasa, 12 Februari 2019 19:02
FOTO I Dok. Sharianews
Bisa saja kanan dan kiri pesawat diilustrasikan sebagai muzaki dan mustahik dan badan pesawat sebagai lembaga amil zakat seperti Baznas.

Sharianews.com, Menyimak sambutan Ketua Umum Baznas Bambang Sudibyo, dalam tasyakuran milad Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tanggal 17 Januari 2019. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa di usianya yang ke-18 tahun, Baznas semakin menunjukkan jati dirinya sebagai pengelola zakat yang terpercaya di dunia.

Baznas berupaya bekerja semaksimal mungkin untuk menggerakkan dakwah zakat, tak hanya dalam skala nasional tetapi juga menyentuh skala  internasional. Tercatat hingga saat ini Bambang Sudibyo dipercaya sebagai Sekjen World Zakat Forum (WZF).

Posisi atau kedudukan tersebut sangat strategis dalam tata kelola perzakatan dunia. Kepercayaan sebagai Jenderal WZF secara tidak langsung juga menjadi pengukuh bahwa peran Baznas dalam pergerakan  zakat dunia sangat diperhitungkan.

Di usianya yang ke-18 tahun Baznas mengusung sebuah tagline, #ZakatTumbuhBermanfaat. Angka 1 digambarkan dengan sebuah pohon lebat dan angka 8 dengan lekukan infinity. Pohon menjadi tamsil bermakna bahwa Baznas terus menerus tumbuh untuk memberikan manfaat lebih besar bagi umat, bagi bangsa ini.

Baznas berfokus pada manfaat yang diterima oleh umat, khususnya bagi muzaki dan mustahik. Kemudian lambang angka delapan menjadi sebuah tamsil tentang kontinuitas, infinity atau tak berhingganya gairah kebangkitan zakat. Menggambarkan energi yang meletup-letup, sebuah semangat membangkitkan gerakan zakat seantero bumi.

Ada dua sisi yang sangat penting dalam pengelolaan zakat yaitu tentang muzaki dan mustahik. Keberadaan muzaki dan mustahik seperti dua buah sayap di pesawat terbang. Muzaki dan mustahik memiliki peran penting. Mereka tak bisa menafikan siapa yang lebih penting.

Muzaki dan mustahik menjadi sebuah simbol tawazun, keseimbangan, jika merka berjalan selaras maka kehidupan akan nyaman dan nikmat. Semua saling bersyukur dan bersabar atas segala nikmat yang telah Allah berikan.

Berbicara tentang sayap dan pesawat terbang ada sebuah peristiwa besar yang mungkin luput dari perhatian kita. Telah terjadi sebuah peristiwa yang menggembirakan yang seharusnya menjadi euforia, kegembiraan yang luar biasa.

Pada hari jumat 21 Desember 2018 sebagaimana yang diwartakan oleh kompas.com dan sejumlah media nasional bahwa prototipe atau purwarupa pesawat kedua N219 melaksanakan flight test untuk pertama kalinya.

Uji terbang dilakukan oleh pilot perempuan, Captain Esther Gayatri Saleh selaku Chief Test Pilot PT Dirgantara Indonesia (DI). Dia didampingi oleh Captain Ervan Gustanto sebagai first officer (FO). “(Uji terbang ini), jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Ada improvement lebih besar di sini. Salah satunya flight control improvement”, ujar Esther dalam keterangan resmi, Jumat (21/12/2018). Purwarupa pesawat kedua N219 ini take off dari Bandara Husein Sastranegara pukul 07.50 WIB dengan lama penerbangan sekitar 20 menit. Pesawat terbang di atas Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat menuju ke arah Sukabumi, kemudian mendarat dengan baik pada pukul 08.10 di Bandara Husein Sastranegara.

Peristiwa tersebut semakin menguatkan rasa percaya diri bangsa, bahwa kita mampu. Bangsa ini adalah bangsa besar yang tak kalah dengan bangsa lain dalam hal industri pesawat terbang. PT Dirgantara Indonesia (DI) sangat concern dan  konsisten dalam upaya pengembangan industri dan teknologi pesawat terbang Indonesia.

Penulisan ini tidak bermaksud untuk mengupas lebih detail  tentang sosok purwarupa pesawat N219 atau profil  PT DI,  tetapi ingin mengajak pembaca untuk bersama–sama dengan penulis mencoba mencari persamaan antara  pesawat terbang dengan sebuah lembaga amil zakat. Mungkin ajakan ini terasa sangat memaksakan diri, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Mungkin saja nanti akan ditemukan persamaan tersebut.

Sebuah pesawat terbang setidaknya memiliki dua komponen utama yaitu badan dan sayap pesawat. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengajak melihat lebih dekat sayap pesawat terbang. Bentuknya sangat khas, kadang diposisikan dibawah, ditengah, dan bahkan diatas badan pesawat. Penempatan tersebut tentu bukan tanpa alasan. Ada serangkaian kajian yang mendalam ketika menentukan posisi atau letak sayap pesawat terbang.

Pesawat modern terutama pesawat untuk tujuan transportasi atau komersil biasanya menempatkan sayap dibawah bodi atau badan pesawat, satu alasan yang diungkapkan adalah posisi tersebut memberikan daya angkat yang lebih kuat dibanding posisi lainnya. Tetapi dengan alasan tertentu bisa saja sayap diletakkan di atas bodi pesawat, seperti penggunaan sayap pada pesawat militer.

Sayap merentang di sisi kanan dan kiri pesawat denganbentuk, ukuran dan berat yang sama. Sayap berfungsi sebagai bagian utama untuk mengangkat pesawat ke udara atau terbang di angkasa. Sayap memilki peran vital bagi sebuah pesawat terbang, selain sebagai media untuk menghasilkan daya angkat, sayap juga menjadi tempat bergantungnya roda, mesin, dan bahan bakar. 

Penulis kembali mengajak pembaca untuk melihat apakah ada korelasi atau hubungan antara sosok sayap di pesawat udara dengan tata kelola perzakatan. Sebagaimana disampaikan di awal bahwa ada dua sisi sayap yaitu sisi kanan dan sisi kiri, di antara keduanya terdapat bodi pesawat terbang.

Bisa saja kanan dan kiri pesawat diilustrasikan sebagai muzaki dan mustahik dan badan pesawat sebagai lembaga amil zakat seperti Baznas.

Badan pesawat sebagai titik sentral dalam mempertemukan kedua sayap tersebut, dalam hal ini Baznas berperan sebagai penguat hubungan antara muzaki dan mustahik. Dalam tugas dan fungsinya Baznas mengelola sedemikian rupa kedua golongan tersebut supaya dapat menjadi dua sisi yang saling menguatkan.

Baznas berupaya menumbuhkan kesadaran kepada muzaki untuk senantiasa bersyukur atas karunia yang didapat dengan cara menunaikan zakat dan menginfakkan sebagian hartanya. Dan menumbuhkan etos kerja dan semangat produktifitas kepada mustahik.

Muzaki tidak boleh larut dalam euforia sebagai pemilik harta sehingga dalam pemanfaatan harta dilakukan sesuai selera, jauh dari norma agama. Atau sebaliknya mustahik dengan segala keterbatasan yang ada, hidup terpuruk penuh dengan pesimis dan putus asa. Disinilah peran Baznas untuk menjembatani kedua sisi tersebut, yaitu muzaki dan mustahik. Untuk menguatkan jiwa solidaritas dan tepa selira, saling bekerjasama dalam kebaikan.

Baznas dalam tugasnya selalu mengingatkan para muzaki atau wajib zakat (baca: para aghnia) bahwa dalam harta halal yang mereka miliki masih ada hak orang lain. Bahkan pada level tertentu hartanya bisa menjadi haram karena masih ada hak mustahik yang masih tertahan dalam harta yang mereka miliki.

Demikian juga dengan mustahik, mereka tak boleh lemah. Baik itu lemah dari sisi fikiran, fisik, bahkan (mohon maaf) lemah iman atau tergadai aqidahnya.

Jangan sampai kemiskinan menjadi justifikasi atau pembenaran untuk melakukan tindakan haram. Janganlah istilah mencari yang haram saja sulit apalagi mencari yang halal menjadi bagian dari prinsip hidupnya.

Selamat milad ke-18 Badan Amil Zakat Nasional, 17 Januari 2019. Semoga Baznas semakin kuat perannya dalam tata kelola perzakatan nasional, semakin luas rentangan manfaatnya, seluas angkasa.

Suatu hari nanti kita akan raih sebuah peradaban bangsa yang mendapat ampunan dan rahmat dari Allah Swt, “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo“,  Menjadi sebuah negeri dengan kekayaan alam berlimpah dan rakyatnya hidup tenteram sejahtera bahagia. (*)

-Kabag PID BAZNAS

 

Oleh: Taris
#zakat #Baznas