Jumat, 22 Januari 2021
09 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Global / Dorong Industri Halal, Fintech Syariah Terus Dikembangkan di Asia Tenggara
-
Sertifikasi saja tidak cukup. Faktor-faktor seperti kualitas, harga, penentuan merek,dan logistik, dan inovasi produk, tidak boleh diabaikan.

Sertifikasi saja tidak cukup. Faktor-faktor seperti kualitas, harga, penentuan merek,dan logistik, dan inovasi produk, tidak boleh diabaikan.

Sharianews.com, Jakarta. Finance technology (fintech) berbasis syariah terus bersaing dan dikembangkan di beberapa negara Asia Tenggara demi mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di sektor non perbankan. Di antaranya ialah Malaysia dan Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari Salaam Gateway, untuk meningkatkan laju pertumbuhan industri syariah non keuangan di akhir tahun 2018 ini, pemerintah Malaysia meluncurkan master plan berbasis teknologi, Halal 2.0.

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dr. Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, Halal.20 merupakan teknologi pendukung transaksi keuangan non perbankan untuk memudahkan konsumen, yang menyasar ke industri baru seperti makanan, minuman, dan kosmetik halal yang berkelanjutan untuk periode 2018 hingga 2030.

“Malaysia harus meningkatkan laju pertumbuhan segmen industri baru melalui teknologi ini, jika ingin tetap memimpin dalam industri halal di mana banyak negara lain yang juga menginginkannya," paparnya.

Dr. Hamidi melanjutkan, diluncurkannya fintech syariah Halal 2.0 ini, juga karena Malaysia tidak bisa hanya bergantung pada standar dan sertifikasi halal yang berada di tangan Departemen Pembangunan Islam Malaysia (JAKIM) dan Halal Industry Development Corporation (HDC).    

“Sertifikasi saja tidak cukup. Faktor-faktor seperti kualitas, harga, penentuan merek,dan logistik tidak boleh diabaikan. Ada kebutuhan untuk teknologi baru, sementara inovasi memainkan peran penting, terutama karena semakin banyak perusahaan yang beralih ke digital,” Hamidi memperingatkan.

Perkembangan Fintech Syariah di Indonesia

Sementara itu, pengamat fintech syariah Ronald Yusuf Wijaya mengatakan, demi bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, beberapa pengusaha di Indonesia mulai mengembangkan fintech syariah ke berbagai sektor industri selain non perbankan, seperti di sektor pertanian, pendidikan, makanan dan minuman, dan donasi kebencanaan.

Selain sektor di atas, tambahnya, fintech syariah di Indonesia juga sudah banyak dikembangkan di sektor perumahan dan usaha kecil dan menegah (UKM).

Di masa mendatang, katanya, fintech juga akan merambah ke beberapa sektor lagi seperti pendidikan, peternakan serta pendanaan sosial lainnya.

Ronald melanjutkan, perkembangan fintech syariah tahun ini dibanding tahun 2017 akan mengalami perkembangan pesat. Menurutnya, salah satu indikasinya adalah banyak organisasi fintech syariah yang bermunculan di Indonesia dibanding Malaysia. Salah satunya Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI).

Dukungan regulasi

Regulasi, ia menjelaskan, juga menjadi faktor pendorong perkembangan fintech syariah lebih pesat di tahun 2018 daripada tahun sebelumnya, sebagaimana tertuang dalam Peraturan OJK No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Langsung Berbasis Teknologi dan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 19/12/PBI/2017 tentang penyelenggaraan teknologi finansial pada 29 November 2017

“Di tahun 2017 tidak berkembang seperti sekarang. Karena undang-undang fintech syariah baru dibuat, dan implementasinya baru di tahun setelahnya. Itu pun belum sepenuhnya. Baru tahun 2018 ini kita mulai jalan. Selain itu, banyak organisasi fintech syariah yang bermunculan seperti AFSI”, imbuhnya.

Di tahun 2019, ia memperkirakan, potensi fintech syariah akan mencapai 24 persen dari seluruh penduduk di Indonesia dari 8 persen di tahun 2018. Peningkatannya sekitar 16 persen.

Untuk bisa mendongkrak potensi itu, menurutnya, caranya adalah dengan mensosialisasikan produk-produk fintech syariah kepada masyarakat, baik yang sudah dibuat atau baru dikembangkan.

Lebih lanjut, peran media untuk memberikan edukasi pada masyarakat luas mengenai fintech syariah juga sangat diperlukan.

“Saya optimis potensi ini bisa tercapai. Selain itu saya meyakini ke depannya Indonesia bisa jadi pusat fintech syariah dunia, karena belom ada pesaingnya”, tutup Ketua Umum AFSI kepada Syarianews. (*) 

 

Reporter : Emha S. Asror Editor : Ahmad Kholil