Minggu, 26 Mei 2019
22 Ramadan 1440 H
Home / Keuangan / Dorong Ekonomi Syariah, 3 Literasi Ini yang Harus Ditingkatkan
FOTO I Dok. impuls.id
Aspek keuangan syariah, terdapat dana sosial, seperti zakat, wakaf, dan infaq yang perkembangannya postif. Ini dapat diintegrasikan dengan rencana pembangunan ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sharianews.com, Jakarta ~ Konteks pendalaman keuangan, ukuran dan volume sektor syariah dinilai masih sangat kecil. Demikian disampaikan salah satu peneliti kajian pendalaman keuangan Indonesia dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung Lathifa Hapsari dalam Seminar Hasil Kajian Pendalaman Keuangan di Indonesia, Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (28/1/2019).

Ia menjelaskan, hal ini sedikit banyak berkaitan dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah yang juga masih rendah. Upaya meningkatkan literasi keuangan makin dibutuhkan kalau sektor keuangan ingin terus dibangun.

Berdasarkan survei Otoriritas Jasa Keuangan di tahun 2016 indeks inklusi keuangan syariah nasional baru mencapai 11,1 persen sedangkan tingkat literasi berada pada level 8,1 persen.

Secara sektoral, literasi dan inklusi yang dicapai masih didominasi tentang institusi perbankan. Padahal, literasi perbankan syariah hanya 7 persen.  Menurut Lathifa, hal ini berdampak juga bagi perkembangan pangsa pasar perbankan syariah di kisaran 5 persen hingga 2018 ini.   

“Secara khusus keuangan syariah, meski sudah masuk lebih dari 10 tahun di Indonesia, tetapi literasinya sangat belum optimal atau masih rendah. Sehingga seperti perbankan syariah hanya berkisar 5 persen sangat wajar,” jelas Lathifa.

Istilah pendalaman keuangan sendiri, muncul sebagai penegas bahwa pembangunan yang berkualitas pada sektor keuangan tidak hanya berfokus pada aspek kedalaman, tetapi juga pada keterjangkauan serta efisiensi penyedia jasa keuangan.

Pendalaman keuangan tidak hanya cukup dengan meningkatkan ukurannya, melainkan juga perlu mengutamakan kualitas yang memungkinkan sektor keuangan menjalankan fungsinya, baik sebagai motor maupun penopang pertumbuhan ekonomi, tanpa memunculkan dampak negatif yang tidak terantisipasi dan teratasi.

Dari penelitiannya, perlu dipertimbangkan untuk melakukan pendalaman keuangan ini ke depan. Aspek keuangan syariah, terdapat dana sosial, seperti zakat, wakaf, dan infaq yang perkembangannya postif. Ini dapat diintegrasikan dengan rencana pembangunan ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Kaitan hal tersebut dengan inklusi dan literasi adalah, seperti yang terjadi dengan masyarakat Sumatera Utara. Dari temuan di sana, didapatkan bahwa sebagian masyarakat tidak memiliki dana yang bisa dimasukkan ke perbankan, sekalipun masuk, tidak lama dikeluarkan lagi. Untuk  itu lewat, dana sosial bisa menjadi solusi.

Kemudian penyaluran dana melalui mikro syariah itu sangat banyak sehingga perlu adanya integrasi dengan Bappenas. Demikian juga, dana haji pemanfaatannya masih sangat terbuka dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas pendalaman keuangan. Financial technology juga perlu dipertimbangkan, teknologi berpengaruh ke depan.

Dari paparan literasi tersebut, di dapatkan tiga poin kebutuhan untuk meningkatkan literasi keuangan bagi rumah tangga dan korporasi.

Pertama, literasi yang dibutuhkan tidak hanya pada bidang keuangan tetapi juga literasi digital. Pengembangan produk yang cepat perlu diikuti literasi.

“Misalnya di pasar modal dan perbankan yang memang hanya konsumer itu-itu saja sehingga jadi terbatas perkembangannya,” ujar Lathifa.

Kedua, peningkatan akses membutuhkan dukungan ketersediaan infrastruktur digital. Ia mencontohkan seperti daerah di Kalimantan. Masyarakat yang ingin mengakses internet, harus membangun tower komunikasi sendiri, jadi teknologi tersebut membutuhkan biaya.

“Artinya jika ada literasi tidak didiukung, infrastruktur yang tersedia itu juga tidak akan menjadi optimal,” imbuh Lathifa.

Ketiga, literasi keuangan tetap dibutuhkan dalam penyaluran kredit, dengan pendekatan sosoial seperti Lembaga Keuangan Mikro Syariah. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo