Sabtu, 8 Mei 2021
27 Ramadan 1442 H
Home / Lifestyle / Dorong Ekonomi Baru, Tenun Khas Leuwidamar Dikembangkan di Pesantren
Dukungan pengembangan potensi usaha produk fesyen dan sumber daya bidang fesyen di pesantren terus digenjot.

Sharianews.com, Lebak - Dukungan pengembangan potensi usaha produk fesyen dan sumber daya bidang fesyen di pondok pesantren (ponpes) terus digenjot. Bank Indonesia (BI) menggandeng Fashion Designer Wignyo Rahadi untuk mendukung hal tersebut.

Bukan tanpa alasan ponpes dipilih untuk dikembangkan, pasalnya, kemandirian ekonomi pesantren diproyeksi sebagai kekuatan ekonomi baru di Indonesia yang berbasis syariah. Di Banten yang dikenal sebagai Bumi Seribu Kiai Sejuta Santri terdapat banyak ponpes.

Dari beragam potensi usaha ponpes yang dapat dikembangkan di Banten, usaha konveksi dan fesyen termasuk unggulan yang dapat menggerakkan ekonomi ponpes. Ponpes berperan penting dalam menciptakan SDM yang semakin terampil dan inovatif menghasilkan produk fesyen, mulai dari tekstil sampai busana siap pakai yang berkualitas tinggi.

Untuk itu, Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Banten bersama Wignyo menyelenggarakan Program Pelatihan dan Pengembangan Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Khas Leuwidamar Lebak di ponpes wilayah Lebak, Banten.

Pelatihan untuk para santri dan masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al Jam’iyatul Washliyah di Leuwidamar, Kabupaten Lebak ini telah berlangsung pada tanggal 22 Maret-20 April 2021.

Wignyo selaku Fashion Designer nasional dan tenaga ahli Dewan Kerajinan Nasional yang giat mensosialisasikan pengembangan tenun Nusantara ini, memberikan pelatihan yang meliputi pengenalan benang sebagai bahan baku tenun, pengenalan warna dan teknik pewarnaan benang, penggunaan alat mehani, membangun dan setting ATBM, praktik menenun, hingga membuat dan motif tenun baru khas Lebak.

Desa Leuwidamar hanya berjarak waktu tempuh 45 menit dari Baduy. Namun, masyarakat Desa Leuwidamar tidak mengenal tradisi menenun, berbeda dengan Baduy yang dikenal dengan hasil kerajinan tenun gedog.

Dengan pelatihan tenun ATBM ini diharapkan dapat menjadikan sentra tenun baru di Kabupaten Lebak, selain sentra tenun Baduy, sehingga dapat mengembangkan kain tenun asal Lebak. 

Untuk menjaga eksistensi tenun Baduy, sesuai arahan Bupati Kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya, kelompok tenun yang baru di Leuwidamar ini tidak memakai nama Tenun Baduy, melainkan menggunakan nama Tenun Lebak dengan membuat dan mengembangkan motif-motif baru sebagai motif tenun khas Lebak.

“Alhamdulillah, 20 santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren yang menjadi peserta pelatihan sangat bersemangat untuk terus mengerjakan tugas-tugas dari para instruktur, sehingga pelatihan selama 26 hari kerja ini dapat menghasilkan 12 potong kain tenun,” jelasnya, kepada Sharianews.com, belum lama ini.

Perlu diketahui bahwa para peserta adalah anak-anak muda yang belum pernah melihat alat tenun karena di Desa Leuwidamar sebelumnya tidak ada kegiatan menenun.

Dengan adanya kegiatan kerajinan menenun ATBM ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan menjadi sentra tenun baru di Lebak, selain tenun Baduy.

Rep. Aldiansyah Nurrahman