Minggu, 28 November 2021
23 Rabi‘ at-akhir 1443 H
Home / Keuangan / Direktur Eksekutif Asbisindo : Bunga Dalang Inflasi
-
Al-Qur'an menyatakan, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Al-Qur'an menyatakan, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Sharianews.com, Jakarta. Direktur Eksekutif Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Herbudi S. Tomo mengatakan bila semua ekonomi di Indonesia pindah ke ekonomi syariah faktor inflasi akan berkurang sekali. Karena bunga atau riba itu fungsi dari pada inflasi.

"Artinya, bila orang itu nabung sama dengan inflasi, tidak ada yang mau, harus lebih besar dari inflasi supaya untung, baru nabung dia. Jadi fungsi bunga itu korelasinya dengan inflasi," jelas Tomo, di Jakarta, Selasa (25/7/2018).

Tomo memaparkan bahwa, pola bagi hasil tidak berkaitan dengan inflasi, karena yang didapatkan, hasilnya dahulu. "Panen dulu baru berbagi," imbuhnya.

Lebih lanjut Tomo menuturkan, "Bunga tidak seperti itu, orang menaruh di bank konvensional biar dapat bunga. Menaruh sekarang, bulan depannya dapat," ujar Tomo.

Sementara untuk bagi hasil, menaruh di bank syariah, ada nisbah, jalankan terlebih dahulu sampai ke sektor ril, jadi hasil dahulu baru dibagi.

"Bayangkan bila saat ini, suku bunga naik, BI naikkan rate, suku bunga deposito pasti naik. Supaya mempertahankan uangnya jangan keluar dari bank," kata Tomo.

Bila bunga ini naik di deposito, sambung Tomo, otomatis kreditnya naik juga. Karena naik, berarti kredit masalahnya juga naik."Bila semua pakai syariah, tidak ada kaitannya dengan itu," jelasnya.

Tomo menjelaskan bahwa tidak ada yang berani menyatakan untuk tidak lagi menggunakan konsep dan pola pikir seperti itu. "Padahal Al-Qur'an menyatakan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba," tandasnya. 

Kata jual beli dalam perspektif mikro dan makro, pasar uang sama dengan pasar barang. Tomo mencontohkan seperti pasar, ada barang dan ada uang.

"Tidak ada kata inflasi di sana, jadi dalam jual beli ada untung. Untung itu dibagi, begitu pola pikirnya. Itulah yang membedakan ekonomi syariah dengan konvensional," jelas Tomo.

Begitu juga bank syariah dan konvensional, bank syariah dan bank konvensional itu seperti membaca Alquran dan koran. Koran dibaca dari kiri ke kanan. Al-Qur'an dari kanan ke kiri.

"Bila datang ke bank konvensional tetapkan dulu bunga depositonya, baru kita lempar, dari kiri ke kanan. Misal Kita perlu depositonya 6 persen, jual 12 persen dapat selisih 6 persen," katanya

Sementara di bank syariah, belum pasti. Nisbah terlebih dahulu, misal 60 banding 40. Bila nanti hasil dibagi. "Bila ada hasil, seperti Al Qur'an dari kanan ke kiri," jelasnya.

Jadi, beranikah kita mengubah paradigma dan pola pikir untuk beralih ke sistem perbankan syariah? (*)

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil