Senin, 28 September 2020
11 Ṣafar 1442 H
Home / For Beginners / Dikti: Regulasi Indonesia Bernafaskan Syariah Islam
Regulasi yang dianut Indonesia mengandung nilai-nilai bernafaskan syariah Islam. Itu terlihat di dalam Undang-Undang.

Sharianews.com, Jakarta - Regulasi yang dianut Indonesia mengandung nilai-nilai bernafaskan syariah Islam. Itu terlihat di dalam Undang-Undang.

Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Paristiyanti Nurwardani mengungkapkan regulasi di Indonesia bernafas syariah Islam ini seperti yang tertuang di Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Di Undang-Undang itu tercantum sangat jelas, bahwa tujuan pendidikan itu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia.

“Baru kemudian, ada sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, menjadi warga negara yang demokratis, bertanggung jawab dan untuk Indonesia diminta juga untuk mencintai Indonesia dan Pancasila, serta berbudaya untuk kepentingan bangsa,” ujanya, belum lama ini.

Dari tujuan pendidikan tersebut, dungkapkapannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam kebijakannya membuat konsep profil pelajar Pancasila untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul di masa depan.

Konsep itu terbagi enam. Pertama, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Kedua, mandiri. Ketiga, berkebhinakaan global. Keemapat, bergotong royong. Kelima, kreatif. Keenam, bernalar kritis.

“Berakhlak mulia, saya kira ini sangat baik. Terkait hal ini saya kira ini bisa bekerjasama dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Paristiyanti menyatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan SDM untuk era industry 4.0 dan Society 5.0. Prioritas utama di perguruan tinggi (begitu juga kementerian) dalam lima tahun ke depan adalah penciptaan SDM unggul pemimpin masa depan. Proses utamanya adalah pembianaan, pembelajaran, pencetakan karkater mahasisiwa perguruan tinggi.

Rep. Aldiansyah Nurrahman