Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Inspirasi / Dian Pelangi, Ikon Mode Busana Muslimah Indonesia
-
Muda, produktif, dan berprestasi. Ia kini dianggap sebagai trendsetter dan ikon mode busana muslim Indonesia.

Muda, produktif, dan berprestasi. Ia kini dianggap sebagai trendsetter dan ikon mode busana muslim Indonesia.

Seperti namanya, dian adalah pelita yang memancarkan sinar bagi perkembangan dunia mode busana muslim. Dengan paduan beragam corak warna, desain karyanya anggun bak pelangi.

Dian Pelangi bisa dikatakan salah satu figur penting dalam perkembangan pakaian muslim(ah). Di usianya yang sangat muda karyanya sudah mendunia. Dari tangannya, perempuan 27 tahun ini mampu menyulap busana muslim(ah) yang dicitrakan ‘kolot’ atau ‘kuno’ menjadi modern, stylish, dan trendi.

Dengan membawa tren baru dalam dunia fashion muslim(ah), ia mengubah pola pikir masyarakat bahwa berpakaian muslim(ah) itu tidak mesti ‘ketinggalan zaman’. Dengan paduan beragam warna dan motif, ia selalu memberikan sentuhan nuansa Indonesia atau Nusantara dalam tiap karyanya.

Akhir Maret lalu, di tahun kesepuluh kariernya, desainer dan creative director ini kembali mendapat penghargaan internasional. Ia masuk dalam daftar 30 generasi muda inspiratif yang memiliki pengaruh besar se-Asia, '30 Under 30 Asia' versi Forbes 2018.

Dian satu-satunya desainer Indonesia yang masuk dalam daftar itu. Ia menyisihkan lebih dari 2000 nama dari berbagai negara di Asia dan Australia. Ia dianggap mampu menghidupkan tren busana muslim di Indonesia dan membawa pengaruh positif bagi perkembangannya.

Tak tanggung-tanggung, ia menyabet dua kategori dari 10 kategori yang ada, yaitu 'The Art' dan 'Celebrities'. Kategori ‘The Arts’ diisi nama-nama anak muda yang berhasil menciptakan gebrakan baru dalam dunia seni, mode, kecantikan hingga kuliner. Kategori ‘Celebrities’ diperuntukkan bagi mereka yang membawa pengaruh positif tehadap para penggemar melalui karya serta eksistensinya.

"Dian Pelangi membawa warna modern baru ke pasar busana muslim. Desainer dan influencer Indonesia ini punya desain khas dengan cetakan dan warna. Ia juga menunjukkan ke hampir lima juta pengikut di media sosialnya bahwa mereka tidak harus takut mengekspresikan diri," tulis Forbes.

Prestasi yang ditorehkan penulis buku Brain, Beauty, Belief ini bukan datang tiba-tiba. Tapi melalui berbagai proses panjang. Dari kecil ia dididik dan diarahkan orangtuanya untuk menjadi desainer andal. Mulai dari menggelola butik atau kios batik orangtuanya di Tanah Abang, Jakarta, hingga mulai mendesain karyanya sendiri.

Dian di Balik Pelangi

Nama aslinya Dian Wahyu Utami. Masyhur dengan nama Dian Pelangi. Dian Pelangi awalnya adalah brand yang dirintis orangtuanya sejak 1991. Tak lama setelah ia lahir. Brand itu kini melekat pada diri muslimah kelahiran Palembang, 14 Januari 1991 ini. 

Kedua orangtuanya, Djamaludin Sochib dan Hernani, sengaja menyematkan nama ‘Dian’ dalam usaha rintisan mereka itu. Dengan harapan, sang anak menjadi penerus bisnis kain jumputan milik mereka.  

Nama ‘Pelangi’ diambil dari teknik jumputan, proses pembuatan motif pada kain dengan cara mengikat kain kemudian dilakukan pencelupan, khas Palembang yang warna-warni itu.

Sebelum terjun ke dunia usaha, kedua orangtua Dian adalah karyawan swasta. Ayahnya bekerja di bidang konstruksi, dan ibunya pegawai di sebuah bank. Keduanya membuat keputusan besar dalam hidup mereka dengan banting stir menjadi pengusaha kain.

Bisnis kain ini mereka mulai dari bawah. Ayah Dian menanggani urusan batik-membatik, sedangkan ibunya fokus pada kain songket. Kain yang mereka jual adalah hasil produksi dari tangan mereka sendiri.

Kedua orangtuanya melihat Dian mempunyai minat, bakat, dan potensi dalam dunia mode. Sedari kecil, Dian suka menggambar, menjahit baju untuk boneka atau mengotak-atik gaya busana dan rambut Barbie miliknya.

Untuk itu, orangtuanya mengarahkan Dian masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pekalongan, Jawa Tengah, jurusan tata busana. Walau sempat menolak, tapi Dian tetap lanjut di sekolah itu hingga lulus.

Setelah lulus SMK, ia melanjutkan studi di The École des Arts et Techniques Supérieure de la Mode (ESMOD), Perancis.  Di ESMOD, ia banyak menyerap ilmu dari para maestro busana. Dari situ ia menemukan berbagai ide cemerlang untuk mengembangkan busana muslimah.

Lulus di ESMOD dengan nilai tinggi pada 2008, ia mulai menapaki awal karier profesionalnya. Ia diberi kepercayaan untuk menggelola dan mengembangkan butik atau kios batik orangtuanya di Tanah Abang, Jakarta. Sambil mengelola butik orangtuanya, Dian mulai menyalurkan kemampuannya dengan membuat desain busana sendiri serta mengurus promosi dan pemasarannya secara mandiri.

Kisah Dian dalam membangun bisnisnya ini dituangkan dalam film bertajuk Dian di Balik Pelangi (2015). Menceritakan lika-liku perjalanan hidupnya sebagai perancang busana dan pebisnis hingga mencapai kesuksesan.

Bukan Anak Bawang

Dengan membawa perubahan dan gaya baru dalam tiap rancangannya, awalnya nama Dian belum dikenal dan bisnisnya terlihat belum menjanjikan. Pasar belum terbentuk. Dian sosok pekerja keras dan tak mudah patah semangat. Ia terus berupaya untuk maju.

Tak lama setelah lulus ESMOD, perempuan yang masuk 8 Desainer Terbaik versi Harper’s Bazaar Singapore ini bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Ia sosok termuda di asosiasi itu dan sempat dianggap anak bawang. Semangatnya kian berkobar dan terus berupaya mematahkan anggapan itu.

Acara Jakarta Fashion Week 2009 jadi titik awal perhelatan Dian dalam industri mode di usianya yang 18 tahun. Dari sini nama Dian mulai dikenal sebagai desainer muda berbakat. Namanya kian bersinar setelah ikut dalam pameran di Melbourne dan London tahun 2009 dan 2010 yang diadakan Kementrian Pariwisata, juga pameran di Abu Dhabi yang dihelat Kementrian Perindustrian dan Perdagangan.

Namanya kian meroket saat CNN mewawancarainya pada 2010. Ia dianggap sebagai trendsetter mode busana muslim di Indonesia. 

Salah satu pendiri Hijabers Community ini mendobrak konvensi umum dalam busana muslim(ah) dengan menghadirkan ragam warna terang, corak prints dan tie-dye yang cerah, serta teknik layering untuk nuansa bohemian yang trendi, songket yang indah, dan batik yang mewah. Ia juga dikenal sebagai salah satu pionir yang mempopulerkan premium modest wear di Indonesia.

Berkat variasi blus, kemeja, rok panjang dan tunik yang cantik dan sedap dipandang, rancangannya menjadi favorit banyak kalangan, bahkan non-Muslim.

Dengan berbagai rancangan dan kemampuan pemasarannya yang mumpuni serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana branding, bisnisnya kian melesat. 

Perancang busana yang masuk dalam daftar 500 pelaku mode paling berpengaruh di dunia versi majalah Business of Fashion (BoF) ini kini menjadi salah satu ikon dunia fashion muslim. Bahkan dianggap setara dengan para perancang senior kondang seperti Itang Yunasz.  

Beragam karyanya telah diparmerkan di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Kairo, Pakistan, Amman, Praha, Budapest, London, Melbourne, Belanda, Thailand, Amerika hingga Eropa.  Ia mampu menunjukkan bahwa busana muslim dapat menjadi ikon fashion yang mendunia.

Klien Dian juga tersebar di berbagai negara. Mulai dari selebritis Dewi Sandra dan Siti Nurhaliza hingga Bangsawan Putri Basma Binti Talal dari Yordania dan Putri Nadja dari Hanover Jerman.

Selain kreasi busana muslimnya, kini Dian Pelangi juga merambah ke gaun pengantin dan baju anak. Harga rancangannya dibandrol mulai dari Rp 800 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. 

Kini berbagai cabang galeri miliknya tersebar di berbagai daerah Indonesia, dengan lebih dari 350 orang karyawan, dari sebelumnya hanya lima karyawan dalam bisnis keluarganya.

Geliat industri mode busana yang terus meningkat di dunia. Berbagai merek tersohor pun seperti Gucci, Lanvin, Max Mara atau Marc Jacobs sudah menampilkan dan memasarkan busana tertutup lengkap dengan hijabnya di berbagai pameran.  

“Saya boleh sedikit berbangga hati bahwa muslim market is the next emerging market and modest fashion is the next big thing,” paparnya.

Bukan Dian namanya jika tak optimis. Menurutnya, busana muslim Indonesia tidak kalah saing dengan busana muslim di luar. Setidaknya, bagi Dian, karena tiga hal.

Pertama, konsisten dalam berkarya dan terus berinovasi untuk menghasilkan karya terbaik agar industri mode busana muslim terus tumbuh dan berkembang. Kedua, dengan penduduk muslim terbanyak sebagai pasar yang sangat besar, Indonesia juga punya modal kuat dengan rancangan dari kalangan muslim yang sendiri yang punya ciri dan corak khas Indonesia.

Terakhir, kolaborasi. Maju secara bersama-sama, tidak berjalan sendiri-sendiri. “We are stronger when we are together. Tinggal dikukuhkan dan dibantu pemerintah, insya Allah, bisa terwujud,” papar salah satu pemain dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa ini.

Pada 2020, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat mode busana Muslim dunia. Dian sangat menyambutnya dan optimis bahwa Indonesia bisa menjadi pusat mode busana Muslim dunia. *(dari berbagai sumber)

 

Penulis: Achmad Rifki.