Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Inspirasi / Dari Buku Mimpi hingga Berkah Berhijab Defia Rosmaniar
Foto: Instagram Defia Rosmaniar.
Berhijab tak mempersempit ruang gerak peraih emas pertama Asian Games 2018 ini. Justru atlet taekwondo ini merasa mendapat banyak berkah dan kemudahan.  

Berhijab tak mempersempit ruang gerak peraih emas pertama Asian Games 2018 ini. Justru atlet taekwondo ini merasa mendapat banyak berkah dan kemudahan.  

Sharianews.com. Jakarta - Nama Defia Rosmaniar kian bersinar saat ia meraih medali emas pertama Asian Games 2018. Berkat usaha, kerja keras, dukungan serta doa dari orangtua prestasinya kian melambung sebagai atlet taekwondo yang ikut mengharumkan Indonesia.

Berhijab tak mempersempit ruang gerak Defia sebagai atlet. Sebaliknya, ia merasa mendapat banyak berkah dengan berhijab. Ia bisa menorehkan segudang prestasi.

“Ada berkahnya pakai hijab. Alhamdulillah, prestasi saya naik. Saya semakin menyadari banyak prestasi yang saya dapat itu mungkin karena pakai hijab,” jelasnya kepada Sharianews.com di Jakarta.

Defia mulai menggunakan hijab setahun yang lalu. Awalnya, ia merasa bahwa memakai hijab itu menyulitkannya saat latihan, tapi lambat laun Defia mulai beradaptasi.

“Setelah Sea Games 2017 memang sudah niat untuk pakai hijab. Awal-awal memang pakai hijab itu ribet. Tapi lama-kelamaan enak-enak saja,” ujarnya.

Perempuan kelahiran Bogor, 25 Mei 1995 ini mulai serius menekuni dunia taekwondo sejak tahun 2007, saat masih duduk di bangku sekolah di Bogor. Awalnya, ia mengikuti ektrakulikuler taekwondo hanya sekadar untuk mengisi waktu luang.

“Tadinya sekadar iseng ikut ektrakulikuler taekwondo. Setelah itu saya sering diikutkan dalam berbagai kejuaraan dan menang,” paparnya.

Motivasi utamanya menjadi atlet taekwondo, kata Defia, adalah ingin membanggakan dan membahagiakan orangtua dan mengharumkan nama Indonesia.  

“Dengan tekad yang kuat, saya berlatih dengan keras agar bisa berprestasi untuk membahagiakan orangtua dan mengharumkan nama Indonesia,” urainya.

Buku Mimpi Defia

Defia punya cara unik saat merasa lelah latihan atau semangatnya turun. Untuk menambah energinya ia kembali membuka “buku mimpi.” Dalam buku ini ada catatan tujuan dan target hidupnya. 

“Saat sedang melawati masa down atau capek ketika sedang latihan, saya akan buka ‘buku impian’ saya. Di dalamnya saya punya catatan tujuan dan target hidup saya dalam satu tahun ke depan,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Dengan membuka lembaran dalam buku impian itu, lanjut Defia, semangatnya bangkit lagi dan ia kembali fokus ke tujuan dan targetnya.

“Kalau lagi down, saya buka lagi buku impian saya. Melihat lagi catatan tentang tujuan saya selama satu tahun ke depan. Dalam catatan itu tertulis kejuaraan apa saja yang bakal saya ikuti. Rasa malas saya berubah menjadi semangat,” imbuhnya.

Ia mengakui, terkadang mengalami sindrom malas, bosan, apalagi saat mengalami kelelahan akibat padatnya jadwal latihan.  

“Dengan buku impian itu, tujuan dan fokus saya bisa kembali dan tujuan serta target ke depan jadi tidak melenceng,” paparnya. 

Dukungan dan Doa Orangtua

Prestasi yang ditorehkan Defia tak lepas dari dukungan, restu, dan doa dari orangtuanya. Ia mengakui banyak peran orangtua, khususnya ibu, dalam kesuksesan Defia.

“Orangtua tentu merestui. Dukungan orangtua luar biasa besar. Selain memberi semangat, juga didoakan khusus supaya sukses. Pastinya, doa yang baik-baik semua,” ulasnya.

Saat galau, sedih atau putus asa, selain melihat kembali ‘buku impian,’ Defia selalu tak lupa peran ibunya.

“Banyak sekali peran ibu. Ibu selalu bisa menenangkan kalau saya lagi sedih atau nangis dan terus kasih support,” ujarnya.  

Sejak kecil, sambung Defia, orangtua selalu mendidiknya dengan penuh cinta, motivasi, dan selalu memberi arahan yang baik dan benar.

“Saya masih sering labil. Kadang-kadang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Orangtua rutin telepon untuk bertanya kabar dana terus mengarahkan saya,” terangnya.

Defia mengakui bahwa sejak tinggal di Cibubur, Jakarta Timur, ia jarang bertemu dengan orangtuanya yang berdomisili di Bogor. Bahkan tak jarang di momen spesial seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, tambahnya, ia tak bisa kumpul bersama orangtua dan keluarga.

“Pastinya sedih puasa dan lebaran tidak bersama keluarga. Kegiatan saya padat. Latihan maupun kuliah. Walaupun hanya lewat telepon itu sudah senang. Apa yang saya lakukan juga buat keluarga,” imbuh atlet 23 tahun ini.

Demi membanggakan orangtua dan mengharumkan nama Indonesia, ia rela berbulan-bulan pisah dengan keluarga. “Saya tahu kalau ibu lagi kangen. Tapi ibu pasti tidak mau bilang kangen. Takut anaknya sedih,” tambahnya.

Mengukir Prestasi

Prestasi yang Defia raih sekarang ini tidak datang tiba-tiba. Ada proses panjang hingga ia berada di posisi sekarang ini. Tidak mudah jalan yang ia tempuh untuk meraih medali emas Asian Games 2018 ini.  

“Persiapannya selama satu tahun. Latihan tiga dalam kali sehari. Mulai dari jam 8 sampai 10 pagi. Kemudian lanjut pukul 14.30 sampai 17. Malamnya sekitar 1,5 jam latihan,” paparnya.

Dengan kerja keras dan latihan rutin, ia telah menyumbang 11 emas untuk Indonesia. Selain di Asian Games 2018, ia juga meraih dua emas di Korea Open 2012 di Gwangju, Korea Selatan untuk tunggal putri dan pair mixed; satu emas di ajang Malaysia Open 2014; dua emas di nomor individual putri dan pair mixed di Korea Open 2015 Chunceon, Korea Selatan; satu emas di ajang Indonesia Open 2015 Jakarta, Indonesia; satu emas di Taekwondo World Hanmadang 2016, Korea; dua emas di di nomor individual putri dan beregu putri pooomsae di ajang 1st Bankimon Open Korea 2016; dan satu emas di Kejuaraan Taekwondo Asia 2018.

Di tahun 2017, Defia juga meraih medali perak di ajang Asian Indoor and Martal Arts Games di Turkmenistan. Di Sea Games 2013 di Myanmar, ia meraih dua medali perunggu di nomor beregu putri dan campuran poomsae.

Di tengah padatnya jadwal latihan dan banyaknya prestasi sebagai atlet, hal itu tak menyurutkan tekadnya untuk terus menuntut ilmu di bangku kuliah. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswi di dua perguruan tinggi sekaligus. Yaitu, Jurusan Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan dan Jurusan Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Semua ini saya lakukan untuk membahagiakan orangtua dan mengharumkan nama Indonesia,” pungkasnya (*) 

Reporter: Linda Sarifatun. Editor: A.Rifki.