Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. The Takeout
Dalam teori ekonomi konvensional tujuan konsumsi adalah untuk memperoleh kepuasan (utility) dari kegiatan konsumsi tersebut. Semakin banyak yang dikonsumsi oleh seseorang maka dia semakin puas.

Sharianews.com, Menurut data Bank Dunia, jumlah populasi penduduk dunia saat ini sekitar 7.6 milyar. Sementara sepuluh persen atau sekitar 783 juta penduduk dunia berada di bawah garis kemiskinan, dengan asumsi pendapatan perhari kurang dari USD 1.9. Ini menunjukan bahwa hampir 800 juta penduduk dunia kesulitan mendapatkan makanan atau kelaparan, karena penghasilan yang didapat tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

Sementara menurut FOA ada sekitar 1/3 atau lebih dari 30 persen makanan yang mubazir terbuang percuma di seluruh dunia. Seandainya masyarakat dunia mengalokasikan makanan yang dibuang tersebut untuk konsumsi 10 persen orang miskin di dunia, maka tidak akan ditemukan orang miskin atau kelaparan di dunia ini. Hal ini menunjukan bahwa ada sekelompok orang yang konsumsi berlebih, sehingga banyak makanan yang dibuang. Di sisi lain ada kelompok yang sangat kekurangan dalam konsumsi karena pendapatannya sangat rendah.

Penelitian yang di lakukan di IPB  terkait food waste untuk komoditas beras ada sekitar seperempat beras yang diproduksi di Indonesia loss dan waste atau sekitar 24 persen mubazir terbuang percuma. Komoditas beras yang terbuang tersebut terjadi di tingkat rumah tangga, rumah makan atau restoran, dan rumah sakit di Indonesia. Dari penelitian tersebut ditemukan sekitar 86.6 triliun kerugian yang disebabkan oleh pola konsumsi yang salah.

Selain itu juga ada kerugian dari sisi lingkungan berupa pemborosan sumber daya alam, seperti air dan udara. Kerugian di atas baru melihat dari satu komoditi saja, yaitu beras yang menjadi kebutuhan pokok penduduk Indonesia, belum menghitung dari pola konsumsi sayuran, buah-buahan, ikan, daging, telur dan lainnya. Jika dihitung semuanya maka kerugian yang disebabkan oleh pola konsumsi yang mubazir akan lebih besar lagi.

Perilaku Konsumsi dalam Islam

Konsumsi merupakan pemanfaatan barang dan jasa, seperti pakaian, makanan, kendaraan, peralatan dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam teori ekonomi konvensional tujuan konsumsi adalah untuk memperoleh kepuasan (utility) dari kegiatan konsumsi tersebut. Semakin banyak yang dikonsumsi oleh seseorang maka dia semakin puas.

Sedangkan tujuan konsumsi dalam Islam tidak hanya untuk memperoleh kepuasan melainkan untuk mewujudkan maslahah dunia dan akhirat. Konsumsi dalam Islam sendiri memiliki dua tujuan yaitu dunia dan akhirat. Sehingga ada alokasi harta untuk ibadah, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, haji, umrah dan lainnya.

Perilaku konsumsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama faktor pendapatan. Dalam teori ekonomi, ketika pendapatan meningkat maka konsumsi akan meningkat mengikuti pendapatan dengan proporsi lebih kecil daripada pendapatan. Konsekuensi dari peningkatan pendapatan maka akan dialokasikan untuk konsumsi dan untuk tabungan.

Semakin tinggi tingkat pendapatan penduduk suatu negara biasanya tingkat konsumsinya lebih banyak, dan semakin tinggi tingkat konsumsi, maka prilaku tabzir juga akan lebih tinggi. Sebagai contoh, pendapatan warga negara di Amerika lebih tinggi dari warga negara di Indonesia, maka konsumsi mereka lebih tinggi dari warga negara Indonesia, karena konsumsinya lebih tinggi maka food waste dan food loss-nya juga lebih banyak.

Islam dengan tegas melarang perilaku mubazir, seperti yang difirmankan dalam Al-Quran “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan,” (QS. Al A’raf: 31). Dalam ayat lain Allah berfirman “Dan berikanlah kepada keluarga dekat hak mereka (infak, shodakoh, dll), dan kepada orang miskin, orang dalam perjalanan (zakat, infak, shodakoh), dan janganlah kamu berbuat tabzir atau boros (membuang harta atau makanan). Sesungguhnya perilaku boros (mubazir) itu adalah saudaranya setan”.  (QS.Al-Israa’ 26-27).

Perilaku tabzir, atau buang-buang makanan sangat dilarang oleh Islam, bahkan dianggap pelakunya saudara syaitan. Kalau kita perhatikan ayat di atas, kita dapat menemukan korelasi antara perintah zakat, infak dan sedekah dan larangan untuk tabzir. Ayat di atas diawali dengan perintah agar kita membantu kerabat kita yang dekat dengan memberikan kelebihan harta yang kita miliki, bisa berupa infak atau sedekah, kemudian juga perintah untuk memberikan hak orang miskin dan dalam perjalanan berupa zakat, infak, atau sedekah.

Kemudian dalam ayat yang sama (al-Isra, 26) ada larangan untuk berbuat tabzir. Isyarat dari ayat di atas menunjukan bahwa ada korelasi antara ZIS negatif antara ZIS dengan tabzir. Semakin tinggi kesadaran untuk berzakat dan berinfak maka akan semakin rendah perilaku tabzirnya, sebaliknya semakin rendah kesadaran berzakat dan berinfak, maka semakin tinggi perilaku tabzirnya.

Hubungan Zakat dengan Food Waste

Zakat diperintahkan oleh Allah kepada mereka yang sudah memenuhi syarat nisab atau batas minimum pendapatan kena kewajiban zakat. Zakat diperintahkan kepada mereka yang memiliki kelebihan harta dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika pendapatan naik, maka jumlah zakat yang harus dikeluarkan juga ikut naik. Seperti kita ketahui bahwa pendapatan merupakan salah satu faktor perilaku konsumsi rumah tangga.

Ketika seseorang mendapatkan pendapatan yang lebih, biasanya konsumsinya pun lebih banyak. Dengan instrumen ZIS maka diharapkan dapat mengerem keinginan untuk konsumsi lebih banyak, karena sebagian hartanya dialokasikan untuk disalurkan kepada kelompok miskin.

Surplus konsumsi dari kelompok rumah tangga kaya akan beralih kepada kelompok rumah tangga miskin, sehingga kelompok rumah tangga miskin yang tadinya kekurangan harta untuk konsusmi dapat dipenuhi dari ZIS dari kelompok rumah tangga kaya. Sehingga di sini akan ada perpindahan volume konsumsi dari kelompok rumah tangga kaya ke kelompok rumah tangga miskin.

Seperti dibahas di awal, bahwa yang mendorong prilaku tabzir salah satunya adalah konsumsi yang berlebih. Konsumsi yang berlebih salah satunya dipengaruhi oleh pendapatan yang berlebih. Sebaliknya kelaparan disebabkan kerena kekurangan konsumsi yang disebabkan oleh rendahnya pendapatan rumah tangga.

Maka dengan zakat, infak, dan sedekah kesenjangan konsumsi antara yang kaya dan miskin bisa diminimalisir, sehingga perilaku tabzir dari kelompok rumah tangga kaya akan dapat dikurangi karena dialihkan surplus konsumsinya kepada mereka yang berhak menerimanya.

Tentunya dalam Islam tidak hanya zakat, infak, dan sedekah saja yang dapat dijadikan instrumen untuk pemerataan dan meminimalisir food waste, ada juga instrumen lain seperti wakaf, hibah, hadiah, dan lainnya yang dapat dioptimalkan untuk mengurangi kemiskinan, kelaparan dan food waste.

Secara psikologis orang yang dermawan atau suka berbagi kepada orang miskin, maka empatinya akan lebih besar dibandingkan dengan orang yang pelit. Orang yang empatinya lebih besar terhadap orang yang kesulitan biasanya hidupnya lebih sederhana dan dapat menjaga dirinya dari perilaku tabzir.

Semakin sering seseorang menolong orang miskin maka akan semakin tinggi kasih sayangnya dan dia tidak akan rela membuang-buang makanan, sementara saudaranya membutuhkan makanan tersebut. Rasulullah bersabda “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak). Dengan sedekah memberi makan anak yatim dan fakir miskin maka hati seseorang akan lebih lunak dan lebih berempati.

Angka food waste cukup tinggi di dunia ini, sementara tingkat kemiskinan dan kelaparan di dunia juga masih cukup tinggi. Seandainya food waste dapat dialihkan kepada rumah tangga miskin maka angka kemiskinan akan turun. ZIS merupakan salah satu instrumen untuk mengurangi food waste, dengan mengalihkan surplus komsumsi dari rumah tangga kaya ke rumah tangga miskin.

Sehingga rumah tangga kaya mengurangi konsumsinya sehingga food waste-nya juga berkurang. Sementara rumah tangga miskin akan dapat menutupi kekurangan konsumsinya dengan limpahan surplus konsumsi ruamh tangga kaya lewat instrumen zakat, infak, sedekah, wakaf dan instrumen lainnya. Sehingga kelaparan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial akan berkurang dan kesejahteraan akan merata. (*)

Oleh: Deni Lubis