Sabtu, 28 November 2020
13 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Keuangan / Dampak Resesi Terhadap Perbankan Syariah
Foto dok. Pexels
Pandemi Covid-19 merembet langsung terhadap aktivitas sektor riil atau terjadinya resesi ini turut berdampak pada kinerja perbankan syariah. 

Sharianews.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak 2 Maret 2020, menyebabkan aktivitas ekonomi berkurang secara signifikan, khususnya dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 10 April 2020. 

Selain itu, pandemi yang sedang dihadapi oleh hampir seluruh dunia ini juga mengurangi interaksi antar negara. Hal tersebut menyebabkan anjloknya beberapa indikator ekonomi. Maka tidak heran hal ini mengakibatkan Indonesia kini masuk ke dalam resesi.

Resesi diartikan sebagai kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut.

Direktur Jasa Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Taufik Hidayat mengatakan pada kuartal III 2020 ekonomi Indonesia minus 3,49 persen, melanjutkan laju ekonomi di kuartal II 2020 yang tercatat minus 5,32 persen. Selain Indonesia, sejumlah negara juga mengalami resesi imbas dari pandemi Covid-19 yang melanda hampir semua negara di dunia, 

Namun demikian, perlu dicatat bahwa kontraksi ekonomi ini tidak hanya dirasakan Indonesia, karena efek dari pandemi juga berimbas kepada pertumbuhan negara lain yang bahkan mengalami kontrakasi yang lebih dalam, seperti India yang mengalami kontraksi hingga 24 persen pada kuartal II 2020. 

“Beberapa negara lainnya yang juga telah mengalami resesi di antaranya Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, hingga Hong Kong,” paparnya, kepada Sharianews.com.

Pandemi Covid-19 merembet langsung terhadap aktivitas sektor riil atau terjadinya resesi ini turut berdampak pada kinerja perbankan syariah. 

Taufik mengungkapkan dampaknya antara lain terjadi peningkatan risiko likuiditas pada bank-bank syariah yang dinilai memiliki kualitas lebih rendah. Terdapat potensi perpindahan dana dari bank dengan kualitas rendah ke tinggi di tengah ketidakpastian.

Kemudian, penurunan kualitas aset keuangan baik pembiayaan maupun surat berharga sehingga terjadi penurunan profitabilitas karena peningkatan biaya provisi dan dana.

Lalu, peningkatan Non Performing Financing (NPF) yang umumnya terjadi pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dibiayai, sementara pembiayaan berbasis konsumtif relatif aman. Terakhir berdampak pada ekspansi bisnis yang sulit seiring dengan perlambatan ekonomi.

“Namun, dampak diatas dapat diminimalisir dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BI (Bank Indonesia), serta otoritas lainnya dalam rangka menangani Covid-19,” pungkasnya.

Rep. Aldiansyah Nurrahman