Selasa, 18 Juni 2019
15 Shawwal 1440 H
Home / Keuangan / Dampak Penurunan Nilai Tukar Rupiah Kecil terhadap Perbankan Syariah
FOTO | Dok. fakta.news
Dampak menurunnya nilai tukar rupiah terhadap LKS relatif kecil dibanding terhadap bank konvensional, karena pangsar pasar perbankan syariah masih relatif kecil.

Dampak menurunnya nilai tukar rupiah terhadap LKS relatif kecil dibanding terhadap bank konvensional, karena pangsar pasar perbankan syariah masih relatif kecil.

Sharianews.com, Jakarta. Secara makro melemahnya nilai tukar rupiah pasti ada dampakmya terhadap ekonomi domestik, lantaran ekonomi Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka.

Demikian dikatakan oleh Rifki Ismail, Kepala Divisi Kerjasama Ekonomi dan Keuangan Syariah Domestik dan Internasional, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia (BI). 

Dikatakan oleh Rifki, kegiatan transaksi  internasional jelas memiliki dampak terhadap kondisi makro ekonomi domestik, hanya apakah besar atau kecil itu yang harus diukur. Seperti apa dan sebesar apa dampaknya terhadap lembaga keuangan syariah (LKS), seperti apa dan sebesar apa dampaknya terhadap perbankan syariah, juga terhadap perbankan konvensional.

Meski begitu, menurutnya dampak penurunan rupiah terhadap perbankan Islam relatif kecil dibanding terhadap bank konvensional, karena beberpa sebab.

“Pertama, perbankan syariah relatif tidak terdampak dibanding bank konvensional, karena pangsar pasar perbankan syariah masih kecil, sehingga dampaknya tidak akan sebesar bank konvensional yang skalanya sudah besar,”jelas Rifki, di Jakarta, Jumat (24/8). 

Kedua, sambung Rifki, bank konvensional stok valuta asing (valas) jumlahnya banyak, jadi exposure nilai tukar rupiah tentu lebih besar di bank konvensional.

“Sementara bank syariah, stoknya kebanyakan masih rupiah. Valasnya tidak sebanyak bank konvensioanl. Artinya jika ada tekanan rupiah dampaknya kepada bank syariah lebih rendah ketimbang yang konvensioanal,” papar Rifki.

Lebih lanjut, ia mengatakan tidak banyak bank syariah di Indonesia yang memiliki stok valas besar, hanya tiga bank syariah terbesar yang memiliki stok valas, sedangkan sisanya lebih banyak menyimpan mata uangnya dalam bentuk rupiah. 

Ketiga, terkait pembiayaan oleh bank syariah, umumnya untuk transaksi domestik dan dalam mata uang rupiah. "Tentu berbeda, jika perbankan syariah membiayai ekspor impor di luar negeri,"ujarnya.

Menurutnya, belum ada perbankan syariah yang melakukan pembiayaan sampai ke luar negeri. "Orientasi bank syariah di Indonesia masih sebatas pembiayaan di level domestik,” jelasnya.

Sehingga, dengan fakta-fakta tersebut, seharusnya dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap perbankan syariah tidak begitu signifikan. Kecuali jika kinerja ekonomi nasional itu sudah memberikan pengaruh kepada penurunan daya beli masyarakat.

Meski begitu, jika daya beli masyarakat sudah menurun, umumnya hal tersebut merupakan dampak lanjutan dari inflasi. “Inflasi tinggi dan berlaku dalam beberapa waktu, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat,”kata Rifki. 

Selanjutnya, jika daya beli masyarakat terpengaruh, sementara perbankan syariah umumnya memberikan pembiayaan ke Usaha Kecil Menengah (UKM) yang sangat sensitif dengan daya beli masyarakat, barulah hal ini bisa mempengaruhi kinerja perbankan syariah. 

"Tetapi selama ini infalasi di Indonesia masih terjaga. BI masih bisa menjaga inflasi di Indonesia pada level yang ditargetkan, sehingga bank syariah ikut terjaga,"papar Rifki. 

Dampak faktor eksternal

Ke depan permasalahan turunnya nilai tukar rupiah masih belum pasti. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah, mayoritas dari faktor eksternal bukan karena faktor ekonomi domestik atau faktor internal. 

“Amerika Serikat (AS) perang dagang dengan China. AS perang juga dengan Turki. Jika raksasa sama raksasa berperang, semua negara, tidak hanya Indonesia yang kena dampaknya,”ujarnya.

Ia mencontohkan, China sebagai salah satu target ekspor besar Indonesia. “China perang dagang dengan AS, nanti produk-produk AS tidak bisa masuk ke AS, tentu China minta barang-barang mentah dari Indonesia juga berkurang,”katanya

Jadi permasalah turunnnya nilai tukar rupiah, bukan karena kinerja domestik yang rendah, tetapi permasalahan internasional. "Faktor ekternal tidak mudah dikendalikan,"tutupnya. (*)

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil