Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Inspirasi / Dakwah bil Qolam, lewat Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka
Kegiatan belajar di Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka | FOTO | Dok. silumantulen.blogspot.com
Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka mengajarkan pelbagai gaya jenis-jenis tulisan atau khat secara detail dari huruf-huruf tunggal, tata letak, komposisi, harmoni, proporsi, cara menggores, etika kaligrafi, dan teknik gubahan dengan cara demonstratif.

Sharianews.com, Jakarta. Diawali dari sejarah panjang pendirian Lembaga Kaligrafi Al-Quran (Lemka) oleh sekelompok mahasiswa yang diinisiasi oleh Drs. Didin Sirojuddin AR. di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1985), lahirlah Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka tahun 1998.

Dari pesantren ini pula, muncullah tangan-tangan terampil pemuda-pemudi yang fokus dalam menekuni seni tulis indah Islam berskala nasional hingga global.

Pimpinan Pesantren Lemka Drs. Didin Sirojudin AR atau biasa disapa Kyai Didin, menuturkan, tujuan pendirian pesantren antara lain untuk menyeru atau mengajak kepada jalan Islam melalui tulisan atau dakwah bil qolam.

“Motif utama pendirian pesantren ialah pengembangan seni kaligrafi Islam secara lebih luas di Indonesia dengan menampung para santri dari berbagai kota dan negara. Sedangkan tujuan lainnya adalah dakwah bil qolam,”papar santri lulusan Pondok Modern Gontor ini kepada sharianews.com (2/9/2018).

Pesantren Kaligrafi Lemka dibangun di daerah asri dan sejuk di Jln. Bhineka Karya no. 53 Rt. O3/Rw.06, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi dengan luas tanah saat ini hampir sekitar 1 hektare atau 9.800 meter per segi, yang awal pendiriannya hanya memiliki luas kurang lebih 800 meter per segi.

Sampai saat ini, luasan lahan tersebut yang telah difungsikan untuk bangunan gedung dan fasilitas penunjang kira-kira baru 2.000 meter per segi. Beberapa fasilitas bangunan yang telah tersedia, antara lain wisma asrama puteri dan putera, dapur, dua masjid, mushala khusus puteri, warung makan, toko peralatan tulis kaligrafi, serta gedung pena.

“Selain itu, ada juga gedung khusus untuk mengembangkan toko daring (online) Lemka dengan situs web resminya www.tokolemka.com, gedung sentra pelatihan, bangunan sentra produksi kerajinan, dan lain sebagainya. Jumlah bangunan fasilitas ini secara keseluruhan sekitar 11 gedung,”imbuhnya.

Jumlah santri, dari dalam dan luar negeri  

Tahun 2018 ini pesantren Lemka, memiliki jumlah santri baru 177 orang dari 25 daerah yang berbeda di Indonesia, ditambah beberapa santri dari luar negeri seperti Oman, Malaysia, dan lain-lain. Selain itu, ada pula beberapa santri lama yang tinggal menetap dengan jumlah kira-kira 240 orang.

“Santri yang kami terima memang terbatas, dan setiap tahunnya kurang lebih kami hanya menerima 200-an orang, tidak lebih. Ini dikarenakan gedung yang kami miliki saat ini tidak bisa menampung terlalu banyak santri,”jelas Kyai Didin. 

Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka mengajarkan pelbagai gaya jenis-jenis tulisan atau khat secara detail dari huruf-huruf tunggal, tata letak, komposisi, harmoni, proporsi, cara menggores, etika kaligrafi, dan teknik gubahan dengan cara demonstratif. Yakni, memberikan materi sekaligus mempraktekkannya. 

Lebih lanjut, di dalamnya juga diajarkan melukis serta mendiskusikan seni kaligrafi dari beragam perspektif. Kegiatan belajar dan mengajarnya, tidak melulu di dalam ruangan (indoor). Adakanya di luar ruangan (outdoor). Semisal, di tepi bukit, dan tepi pantai atau tempat-tempat indah lainnya.

Lima orientasi belajar pesantren Lemka    

“Belajar kaligrafi Islam tidak boleh hanya bertujuan untuk mencari uang, meski hal demikian itu juga boleh. Karenanya kami tetapkan lima standar tujuan atau orientasi belajar pada para santri, saat mencari ilmu di Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka,” tegas juri lomba kaligrafi mulai dari tingkat nasional hingga ASEAN ini.

Pertama, al-Ahdad at-Ta’limiyyah. Yaitu, tujuan memperdalam ilmu, khususnya seni kaligrafi Islam. Kemudian, orientasi pendidikan bagi diri sendiri atau pun untuk orang lain, baik lahir maupun bathin atau disebut dengan al-Ahdad at-Tarbawiyyah.

“Selanjutnya, tujuan praktis atau al-Ahdad al-‘Amaliyyah. Maksudnya, belajar kaligrafi dengan niatan untuk berbagai kepentingan duniawi, seperti membuat iklan dan semacamnya, yang tidak terkait dengan mencari uang,” tambahnya.

Berikutnya, al-Ahdad al-Fanniyyah atau tekad estetis. Dalam artian, mempelajari ilmu kaligrafi Islam karena ingin memperlihatkan atau membuktikan keindahannya. Terakhir, tujuan ekonomis atau untuk memperoleh finansial yang disebut dengan al-Ahdad an-Naf’iyyah.

“Itu lah tujuan belajar di Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka. Jadi, intinya, walaupun dibolehkan hanya berorientasi mencari uang. Tapi, kami memberi tuntunan, bahwa belajar kaligrafi tidak hanya tujuan untuk itu, banyak,” terangnya. (*)

      

Reporter: Emha S. Asror Editor: Ahmad Kholil