Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Kamus / Dagang bukan Pinjaman

Dagang bukan Pinjaman

Jumat, 28 Desember 2018 01:12
FOTO | Dok. jurnal.id
Alquran juga membedakan istilah dagang dengan jual beli. Alquran menyebut jual beli dengan istilah bay'. Sedangkan istilah dagang dengan tijarah. Bagaimana perbedaan hukum di antara keduanya?

Sharianews.com. Jakarta ~ Tidak sedikit masyarakat yang suka menyebut pembiayaan di Bank Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah (LKS) sejenisnya dengan sebutan pinjaman. Padahal, dagang dan pinjaman memiliki istilah yang berbeda, arti dan makna yang berbeda pula.

Alquran menyebut kata dagang dengan istilah tijarah. Pelaku dagang disebut dengan tajir. Alquran menyebut kata tijarah sebanyak 8 kali.

Alquran juga membedakan istilah dagang dengan istilah jual beli. Alquran menyebut jual beli dengan istilah bay'. Alquran menyebut kata bay' sebanyak 6 kali.

Dagang dibagi menjadi dua besaran yakni syirkah dan bay'. Bay' adalah jual beli. sedangkan, syirkah adalah kongsi, persekutuan usaha, investasi dan sejenisnya. Dalam jual beli, terjadi pertukaran objek akad.

Sementara, dalam kongsi terjadi percampuran objek akad. Dalam jual beli, nominal harga dipastikan sejak awal akad. Dalam kongsi, nominal bagi hasil tidak boleh dipastikan sejak awal akad. Keuntungan dalam kongsi diperoleh jika sudah melalui jual beli.

Pinjaman = qardh 

Sedangkan istilah pinjaman dalam Alquran, disebut dengan kata qardh. Pinjaman merupakan aktivitas memberikan sesuatu kepada orang lain untuk nanti wajib dikembalikan seperti semula kepada si pemilik sesuatu tersebut.

Akad pinjaman ini sendiri masuk dalam kategori transaksi motif non-profit. Hal ini berbeda dengan akad dagang yang masuk dalam kategori transaksi motif profit.

Agar mudah dicerna, mari kita cermati perbandingan akad dagang di Bank Syariah dengan akad pinjaman di Bank Konvensional.

Produk tabungan dan giro syariah menggunakan dua alternatif akad, yakni akad investasi modal (mudharabah) dan akad titipan yang bisa digunakan (wadiah yad dhamanah) alias pinjaman (qardh) tanpa bersyarat bunga. Produk tabungan dan giro konven menggunakan akad simpanan yang bisa digunakan yang bersyarat bunga (qardh bi syarthi jarri faidah).

Perbedaan istilah Indonesia dan Arab

Perhatikan bahwa istilah Indonesia dan istilah Arab antara produk tabungan dan giro syariah, berbeda dengan istilah Indonesia dan istilah Arab yang digunakan pada skema tabungan dan giro konven. Risiko, perhitungan dan hukumnya jadi ikutan berbeda.

Contoh lain pada skema pembiayaan dan kredit. Pada pembiayaan syariah, ada banyak alternatif akad. Sebut saja salah satu contoh akad paling populer adalah akad jual beli tegaskan untung (murabahah). Akad ini akad dagang.

Perhitungan, risiko dan hukumnya berlaku sistem perhitungan, risiko dan hukum dagang sesuai istilah yang dipergunakan yakni jual beli yang menegaskan nominal pengambilan keuntungannya. Inilah akad paling populer pada KPR Syariah.

Sedangkan akad kredit di Bank Konvensional hanya mengenal kredit (qardh) atau pinjaman (qardh) bersyarat bunga ( qardh bi syarthi jarri faidah) bagi pemberi kredit (li muqridh). Perhitungan, risiko dan hukumnya berlaku hukum riba.

Bank Syariah juga menggunakan akad pinjaman sebagai akad pelengkap pada akad dagang. Namun, setiap muncul akad pinjaman, maka Bank Syariah tidak akan berani mensyaratkan manfaat yang diambil Bank Syariah, sehingga tidak ada riba.

Selanjutnya, mari konsisten, ketika kontrak di Bank Syariah tidak menyebutkan kata pinjaman, jangan sebut kontraknya sebagai pinjaman, agar tidak gagal paham. Ketika akadnya dagang, siapkan diri juga untuk menerima kenyataan bahwa kontraknya kontrak dagang, risiko dan hukumnya berlaku skema dagang.

Sebagai contoh, pada KPR Syariah akad jual beli tegaskan untung dengan wakalah (kuasa beli), pencairan dana kepada Konsumen/Nasabah adalah dana pembiayaan atau dana untuk membeli rumah dari Developer dengan kuasa beli.

Jika pencairan ke rekening Nasabah sebesar Rp.200 juta, maka itu adalah dana milik Bank Syariah untuk beli rumah dari Developer lewat tangan Nasabah (melalui mekanisme kuasa beli). Selanjutnya Bank Syariah menjual rumah tersebut kepada Nasabah, misalnya ambil untung Rp.150 juta sehingga total hutang Nasabah ke Bank Syariah adalah Rp.350 juta.

Akan beda risiko ketika akadnya Pinjaman cair ke rekening Nasabah sebesar Rp.200 juta. Berarti tambahan atas pinjaman berupa bunga melebihi Rp.200 juta tersebut adalah Riba. Karena istilah yang digunakan adalah Pinjaman atau Kredit atau Qardh, maka manfaat bunganya valid disebut riba.

Perhatikan bahwa aktivitas fisik antara dagang dan pinjaman tersebut sama saja, namun istilah kontraknya berbeda. Jumlah pencairan ke rekening Nasabahnya, sama saja. Namun, yang satu menggunakan akad jual beli, satunya lagi menggunakan akad Pinjaman. Ternyata istilah yang berbeda ini menyebabkan skema, perhitungan, risiko dan hukumnya berbeda.

Demikian uraian tentang dagang dan pinjaman. Dagang bukan pinjaman. Pinjaman bukan dagang. Jangan gagal paham. Wallahu a'lam.

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholilin