Minggu, 25 Oktober 2020
09 Rabi‘ al-awwal 1442 H
Home / Sharia insight / Counting the Edges, Keeping the Boundaries (Part 2)
Islam sendiri membagi tiga pilar utama ekonomi yang dapat dikaitkan dengan sumberdaya keuangan. Pilar pertama adalah pilar sector riil, kedua adalah sector keuangan, dan ketiga adalah sector sosial

Sharianews.com, Pada bagian pertama seri “Counting the Edges, Keeping the Boundaries”, telah disampaikan bahwa terdapat tiga unsur besar dalam keuangan: pihak terkait, sumberdaya material, dan risiko. Pihak terkait dengan keuangan telah dibahas pada tulisan tersebut, bahwa orang cenderung berperilaku keuangan pada dua pasar: pasar uang dan pasar sosial. Pada bagian kedua ini, saya akan membahas mengenai sumberdaya material.

Penggiat keuangan sudah familiar dengan sumber-sumber keuangan yang dapat diperoleh oleh seorang individu, keluarga, perusahaan maupun negara, bahwa secara umum, terdapat dua sumber keuangan utama: internal dan eksternal. Davis dan Cobb (2010) mengungkapkan dalam tulisan mereka yang berjudul Resource dependence theory: Past and future dalam buku In Stanford's organization theory renaissance, 1970–2000 yang diterbitkan oleh Emerald Group Publishing Limited, dan telah dikutip 667 kali oleh berbagai sumber tulisan, bahwa sumber keuangan sangat terkait dengan ketergantungan (dependency). Ketergantungan sendiri memiliki tiga unsur utama: konteks sosial, strategi, dan kekuasaan.

Manusia sebagai makhluk sosial tentu sangat bergantung antara satu dengan lainnya. Derajat ketegantungan inilah yang perlu diperhatikan dalam masalah keuangan, yang kemudian dapat ditelaah sumberdaya keuangan yang seperti apa yang mampu menjadi kekuatan dalam pemenuhan maqasid syariah. Islam sendiri membagi tiga pilar utama ekonomi yang dapat dikaitkan dengan sumberdaya keuangan. Pilar pertama adalah pilar sector riil, kedua adalah sektor keuangan, dan ketiga adalah sektor sosial (QS al-Baqarah: 275-276).

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (275). Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa (276).”

Sector riil merupakan sumber keuangan yang disebutkan dalam Quran Surat al-Baqarah 275 sering disamakan dengan sector keuangan yang mengandung riba. Padahal Allah telah membedakan keduanya, jual-beli itu berbeda dengan riba. Jual –beli sangat erat dengan sector riil yang mensyaratkan ketersediaan pihak-pihak yang bertransakti serta barang-barang yang ditransaksikan. Jadi, sumber keuangan pertama, mensyaratkan bahwa suatu transaksi yang dilakukan harus ada produk yang diusahakan baik berupa barang maupun jasa oleh salah satu pihak untuk ditukarkan dengan uang, ataupun produk lain, yang menjadi sumberdaya material bagi pihak lainnya. Artinya, jika seseorang ingin mendapatkan uang, memberlakukan sebuah harga, memperoleh profit, maka ia harus berusaha. Bahkan konsep iwad, yang melekat pada pemberlakuan harga, mensyaratkan adanya usaha dan tupoksi yang dijalankan, sehingga ia harus menanggung risiko yang mungkin terjadi jika tupoksi yang dijalankan menghadapi hal-hal yang tidak direncanakan. Menelaah ketergantungan pada sektor ini, win-win solution terpenuhi dengan ketersediaan barang dan uang yang ditukarkan menjadi equal dalam konteks sosial yang saling dibutuhkan, strategi pemenuhan akad, serta kekuasaan yang sama (tidak ada yang lebih superior).

Pilar kedua adalah sector keuangan. Pada pilar ini, peran penyedia modal dan perantara antara pemilik modal dengan pengusaha merupakan fokus utama yang menjadi sumber keuangan. Setiap transaksi harus terkait dengan pilar pertama, yaitu sector riil. Uang yang menghasilkan uang harus melalui perantara, yaitu produk yang diusahakan. Uang tidak dapat menghasilkan uang secara langsung, inilah yang disebut riba. Ini pula yang membedakan antara jual-beli dan riba. Perantara antara pemilik modal dengan pengusaha, sebut saja bank atau fintek atau perusahaan pembiayaan, ataupun berbagai penyedia jasa keuangan lainnya, harus selalu mengaitkan semua transaksinya dengan sector riil. Sebagaimana diterangkan dalam Quran Surat al-Baqarah 282 mengenai muamalah dengan tidak tunai hendaklah melibatkan saksi dan pencatat.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Transaksi peminjaman (utang) uang hanya ada satu, yaitu qard hasan (pinjaman yang baik), artinya jika pinjam 100 maka yang dikembalikan pun 100, tidak diperjanjikan lebih maupun kurang. Hanya inilah media sumberdaya keuangan yang memberikan uang dan dikembalikan dengan uang secara langsung, tanpa perantara produk. Hal ini difirmankan Allah dalam Quran Surat al-Baqarah ayat 245.

“Siapakah yang mau meminjamkan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadanyalah kamu dikembalikan.”

Hal yang menarik terkait dalil utang ini adalah, penempatan ayat meminjamkan pinjaman diletakkan terlebih dahulu dibandingkan dengan ayat bermuamalah secara tidak tunai. Demikian pula dalam pengaturan meminjamkan pinjaman yang disampaikan dalam ayat yang lebih sederhana, simple dan to the point, dibandingkan dengan pengaturan muamalah tidak tunai yang diungkapkan dalam ayat terpanjang dalam al-Quran, spesifik, dan sangat terinci. Pengungkapan ini mensiratkan bahwa meski berutang diperbolehkan, berutang merupakan alternative terakhir, malah yang lebih diutamakan adalah memberikan utang. Jika pun berutang, maka harus memenuhi syarat-syarat tersebut yang telah dirinci.

Terakhir adalah sektor sosial, seperti yang Allah ungkap dalam al-Baqarah 276 bahwa Allah akan menyuburkan sedekah. Sumber keuangan dari sektor sosial tentu sangat istimewa karena Allah secara spesifik akan menyuburkannya. Sektor sosial dalam hal ini berarti setiap individu akan berlomba-lomba saling memberi, bukan menerima. Saling berbagi, bukan meminta. Bahwa fokus penekanan pada pemberian sedekah adalah diutamakan, sehingga akan disuburkan atas keberkahan yang diberikan. Terlebih, pada situasi sekarang, ketika semua orang terjatuh maka tidak akan ada yang bangkit jika semua mengandalkan menunggu uluran tangan, melainkan semua akan bangkit jika semua memiliki keinginan untuk membantu, memberi, dan justru mengulurkan tangan. Wallahua’lam bishshowab.

Oleh: Laily Dwi Arsyianti