Kamis, 17 Oktober 2019
18 Ṣafar 1441 H
Home / Sharia insight / Counting the Edges, Keeping the Boundaries (Part 1)
FOTO I Dok. Sharianews
Terdapat tiga unsur besar yang terlibat dalam definisi ini, yaitu hal-hal yang terkait, sumber daya material serta risiko.

Sharianews.com, Keuangan sering didefinisikan sebagai berbagai hal yang terkait dengan penggunaan, peningkatan, atau pengalokasian sumber daya material beserta risiko yang melekat padanya. Terdapat tiga unsur besar yang terlibat dalam definisi ini, yaitu hal-hal yang terkait, sumber daya material serta risiko. Ketiganya merupakan sisi-sisi (edges) box yang disebut dengan keuangan. Mari kita bahas satu per satu secara singkat. Pada bagian ini akan dibahas mengenai pihak-pihak yang terkait.

Berbagai hal terkait yang disebutkan di atas berhubungan dengan lingkup individu, keluarga, maupun organisasi. Seorang individu, sebuah keluarga, maupun sebuah organisasi mungkin saja berbeda dalam perlakuannya terhadap sumber daya material. Namun seharusnya, sebagai seseorang yang menjalani kehidupan yang berkesinambungan, sumber daya material pada suatu waktu yang sama akan diberlakukan sama pada setiap unit lingkup baik ketika sedang bersendirian, bersama keluarga, maupun berorganisasi.

Karakter seseorang seharusnya tidak terpecah ketika dia sebagai individu, anggota keluarga, maupun anggota organisasi. Di sinilah kita dapat melihat kekuatan dari karakter seseorang. Sebagai contoh, ketika bersendirian, seseorang lebih memilih untuk membeli sesuatu yang fancy yang sangat disenanginya. Namun ketika bersama keluarga atau berorganisasi, maka ia menyisakan sesuatu yang buruk bahkan ia sendiri tidak mau memilikinya. Padahal, Rasulullah Saw telah bersabda:

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844).

Ketika pihak terkait ini berperilaku terhadap sumber daya material, James Heyman serta Dan Ariely, dalam artikel berjudul Effort for Payment a Tale of Two Markets yang sudah dikutip 475 kali, mengungkapkan bahwa terdapat dua pasar yang dikaitkan dengan perilaku terhadap uang, pertama adalah pasar uang dalam bahasa masyarakat umum, bukan dalam bahasa finansial (disebut juga dengan money market), yaitu pasar resiprokal antara usaha dan uang. Artinya, usaha seseorang sangat ditentukan dengan uang sebagai kompensasi usahanya. Pasar kedua adalah pasar sosial atau disebut juga dengan social market. Yaitu, pasar yang di dalamnya tidak saling berhubungan antara usaha dan uang. Artinya, usaha seseorang tidak didasarkan pada uang.

Mereka melakukan experimental research. Responden diminta bantuan untuk mengangkut sofa dengan empat kondisi: (1) Diberitahu bahwa responden tidak akan dibayar atas usahanya, (2) Diberitahu bahwa responden akan diberikan permen namun tidak diberitahu harga permennya, (3) Diberitahu bahwa responden akan menerima uang pada dua kategori: rendah dan sedang, serta (4) Diberitahu bahwa responden akan diberikan permen atau coklat yang juga diberitahu harganya dan senilai (seharga) dengan uang dengan dua kategori: rendah (permen) dan sedang (coklat).

Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi keempat menghasilkan pola yang signifikan sama dengan kondisi ketiga. Kondisi pertama dan kedua menghasilkan usaha yang signifikan lebih besar dibandingkan kondisi ketiga dan keempat. Kondisi pertama dan kedua menggambarkan social market. Kondisi ketiga menggambarkan money market. Kondisi keempat menggambarkan mixed market, yang ternyata kemudian lebih menggambarkan money market karena pola yang signifikan sama dengan money market. Mungkin sudah lumrah bagi masyarakat Indonesia ketika memberikan hadiah kepada orang lain, pricetag harus wajib dilepaskan agar penerima hadiah tidak mengetahui harganya sehingga masih dalam boundary of social market.

Lalu bagaimana agar “harga” dari hadiah tersebut dapat menjadi tidak signifikan mewakili resiprokal usaha, sehingga meskipun harga diketahui, penerima “hadiah” memandangnya insignifikan baik murah atau mahal? “Mixed market” ini dapat dieksplorasi pada kegiatan voluntir. Indonesia telah mendapatkan gelar negara paling dermawan oleh Charities Aid Foundation 2018 pada tiga indikator penilaian, yaitu memberi infak, menolong orang yang tidak dikenal, serta menjadi voluntir. Rupanya Indonesia sangat mendominasi indikator ketiga, yaitu menjadi voluntir. Sementara pada indikator pertama (infak), Indonesia belum mendominasi namun masih tinggi secara persentase dan sedang secara jumlah donatur. Apalagi untuk indikator kedua (menolong orang yang tidak dikenal), Indonesia masih jauh tertinggal.

Meski dikatakan voluntir, program-program voluntir bukan berarti free (gratis) secara menyeluruh melainkan mendapatkan kompensasi senilai akomodasi tempat tinggal, travel grant, dan daily stipend. Kegiatan voluntir mungkin tidak dibayar, tetapi tawaran akomodasi dapat menjadi daya tarik para voluntir untuk berkhidmat. Apakah boundary social market masih dapat dijaga atau bertukar menjadi money market? Apakah kemudian para voluntir justru mau merogoh sumber daya materialnya untuk berkhidmat, tanpa mendapatkan fasilitas akomodasi apapun? Apakah voluntir tidak memandang (preference) murah-mahalnya fasilitas akomodasi yang diterima untuk berkhidmat di mana pun dan kapan pun tanpa memilih tawaran yang dijanjikan?

Bagaimana indifferent ini membentuk pola permintaan (demand) dalam pandangan Islam? Penelitian mendalam mengenai hal ini sangat dibutuhkan dengan melihat dari perspektif Islam, bukan hanya dari perspektif konsumen sebagaimana yang telah kita pahami dalam teori ekonomi. Sehingga kemudian perilaku keuangan is driven by Islamic value, bukan driven by so called “significant” (dalam hal ini selain Islamic) value. Selanjutnya insyaAllah akan dibahas mengenai sumber daya material sebelum membahas mengenai risiko yang melekat padanya. (*)

 

Sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

 

Oleh: Laily Dwi Arsyianti Editor: Achi Hartoyo

Tags: