Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Cost of Fund Kok Syariah

Kamis, 30 Agustus 2018 12:08
-
Istilah dalam transaksi menentukan alur, risiko, dan hukum transaksi. Jangan sepelekan istilah dalam transaksi. Di Bank Syariah tidak ada Cost of Fund [COF]. Adanya adalah Proyeksi Bagi Hasil (PBH).

Istilah dalam transaksi menentukan alur, risiko, dan hukum transaksi. Jangan sepelekan istilah dalam transaksi. Di Bank Syariah tidak ada Cost of Fund [COF]. Adanya adalah Proyeksi Bagi Hasil (PBH).

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Saya pernah menemukan pernyataan salah satu Direktur Bank Syariah yang menyebut istilah Cost of Fund di Bank Syariah. Apakah di Bank Syariah ada Cost of Fund?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Nada, tinggal di Jakarta.

Jawaban:

Saudari Nada yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten hanya mau menggunakan Lembaga Keuangan Syariah saja dalam menjalankan transaksi keuangan. Amin.

Fenomena penyebutan cost of fund di Bank Syariah ini menggejala di kalangan praktisi, baik praktisi Bank Syariah yang tidak pernah bekerja di Bank Konvensional maupun praktisi Bank Syariah mantan bankir konvensional. Fenomena ini merupakan kelatahan dan ketidakakuratan bankir dalam menggunakan istilah. Semoga bukan karena regulasinya yang tidak tepat.

Bank Syariah tidak mengenal skema cost of fund (biaya dana). Di Bank Syariah tidak ada cost of fund. Cost of fund atau COF adalah biaya yang harus dikeluarkan Bank untuk membayar kewajiban terhadap nasabah tabungan, giro, dan deposito (Dana Pihak Ketiga/DPK).

Istilah cost of fund ini muncul karena di awal transaksi pendanaan, Bank Konvensional sudah berjanji secara legal untuk memberikan hasil pasti kepada nasabah DPK dengan jumlah bunga tertentu (X persen x pokok simpanan). Karena sudah janji memberikan bunga x pokok (yang jumlah nominal hasilnya pasti sudah diketahui dari awal), maka janji ini menjadi kewajiban (harga atau cost) yang harus dibayar secara pasti untuk produk pendanaan (fund), apapun hasil pengelolaan dana yang dilakukan.

Sejatinya ini sama persis dengan transaksi yang mendahului kehendak Allah, padahal manusia bukan Allah. Uang belum diapa-apakan, namun sudah berani menjanjikan hasil pasti atas pokok uang yang disetorkan.

Skema tersebut menyebabkan munculnya istilah Dana Murah dan Dana Mahal. Dana Murah adalah sumber DPK yang dijanjikan bunga rendah, yakni produk giro [current accout] dan tabungan [saving account]. Dana Murah ini disebut dengan Current Accout & Saving Account (CASA). Dana Mahal adalah sumber DPK yang dijanjikan bunga tinggi, yakni deposito.

Bank Syariah tidak mengenal istilah Dana Murah atau Dana Mahal, karena tidak ada biaya bunga. Tidak ada hasil pasti yang dijanjikan di awal untuk nasabah DPK. Skema DPK Syariah hanya ada dua jenis. Yakni, Titipan (yang bisa dipakai) atau Kongsi Investasi. Keduanya bukan jual-beli uang. Keduanya tidak menjanjikan hasil pasti. Adapun yang dijanjikan Bank Syariah adalah jika ada hasil, maka hasil akan dibagi sesuai dengan kesepakatan nisbah bagi hasil.

Hasil usaha akan muncul dari dana pembiayaan Bank Syariah yang pilihan kontraknya adalah jual-beli atau kongsi. Jual-beli meliputi jual-beli barang atau jual-beli manfaat. Jual-beli manfaat meliputi jual-beli manfaat barang (sewa) dan jual-beli manfaat perbuatan (jasa). Setelah Bank Syariah memeroleh hasil atas skema kongsi dan jual-beli tersebut, maka baru ketemu hasil yang bisa dibagikan kepada nasabah DPK.

Berdasarkan skema tersebut jelas terlihat bahwa nominal angka hasil di Bank Konvensional diawali dari bunga yang dijanjikan sejak awal transaksi. Sedangkan nominal angka hasil di Bank Syariah akan diawali dari hasil usaha Bank Syariah atas penyaluran dana pembiayaan, baru bisa diketahui jumlah dana yang dibagihasilkan kepada nasabah DPK.

Dengan demikian, di Bank Syariah valid tidak ada Cost of Fund [COF]. Adanya adalah Proyeksi Bagi Hasil (PBH) untuk nasabah DPK, sehingga di Bank Syariah juga tidak ada skema Dana Murah atau Dana Mahal.

Bank Syariah boleh mengelompokkan DPK berdasarkan CASA dan Deposito. Bank Syariah dan nasabah boleh melakukan proyeksi bagi hasil yang rendah untuk produk giro dan tabungan serta proyeksi bagi hasil yang tinggi untuk produk deposito. Sangat wajar ketika Bank Syariah pun senang jika porsi CASA lebih besar jumlah dan nominalnya dibanding Deposito.

Jika ada bankir syariah atau akademisi yang mengatakan bahwa ada cost of fund di Bank Syariah, mari kita ingatkan mereka agar meralatnya. Sebagai gantinya, gunakan istilah Proyeksi Bagi Hasil (PBH).

Jika masih ada regulasi legal formal yang masih menyebut adanya cost of fund di Bank Syariah, mari kita sampaikan hal ini kepada regulator agar mengubah istilah cost of fund (COF) menjadi Proyeksi Bagi Hasil (PBH).

Perhatikan bahwa istilah dalam transaksi menentukan alur, risiko, dan hukum transaksi. Jadi, jangan sepelekan istilah dalam transaksi. (*)

ShariaCorner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin