Kamis, 21 Maret 2019
15 Rajab 1440 H
x
Heni Sri Sundani. (Dok/Foto Majalah Kartini)
Hingga akhirnya selama di Hongkong, selain bekerja sebagai baby sitter, Heni juga berjuang menamatkan kuliah D3 jurusan IT di Topex dan melanjutkan S1 di St. Mary’s University jurusan manajemen kewirausahaan secara bersembunyi dari majikannya.

Sharianews.com, Heni Sri Sundani, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong, kini dikenal sebagai sosok inspiratif penggagas Gerakan Anak Petani Cerdas, AgroEdu Jampang sekaligus penggagas Empowering Indonesia Foundation. Tapi siapa sangka Heni melalui semua hal tersebut dengan luar biasa. 

Konon, Ia rela berangkat ke negara pemilik jembatan Tsing Ma ini untuk menjadi TKW demi mengejar cita-citanya menjadi guru. Hingga akhirnya selama di Hongkong, selain bekerja sebagai baby sitter, Heni juga berjuang menamatkan kuliah D3 jurusan IT di Topex dan melanjutkan S1 di St. Mary’s University jurusan manajemen kewirausahaan secara bersembunyi dari majikannya. Bahkan ia menjadi lulusan terbaik di kampusnya tahun 2011.

Tidak seperti teman-teman dan keluarganya yang hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD), perempuan asal Ciamis ini dengan segala keterbatasan keluarganya mencoba mengambil pendidikan lebih jauh hingga tingkat kuliah. Sebab ia meyakini betul bahwa pendidikan merupakan jalan keluar untuk mengentaskan kemiskinan.

Meskipun tidak jarang para tetangga mencemooh dirinya dengan dalih ‘anak yang tidak tahu malu’. Pasalnya mereka (tetangga) hanya berpikir bahwa dengan kondisi kekurangan, yang seharusnya dilakukan Heni adalah membantu dengan bekerja bukan untuk meningkatkan pendidikan.

Kendati demikian, Heni yang hanya tinggal dengan neneknya lantaran ayah dan ibunya bercerai, tidak mempedulikan komentar tetangganya dan berfokus pada pendidikan dan karirnya dengan upayanya sendiri.

Kini aktivitas Heni adalah salah satunya sebagai guru, sebagaimana cita-citanya dahulu. Menjadi guru dengan memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak petani menjadi pilihanya ketimbang mengajar di sekolah swasta elite dengan gaji yang sangat tinggi sebagaimana yang ia lakukan sebelumnya.

Ibu dari seorang anak ini meninggalkan sekolah mewah itu dan memilih mengajar anak-anak petani lantaran ingin menunaikan keinginan anak petani yang merasa kesulitan untuk sekadar sekolah.

“Karena yang saya ajari, anak-anaknya sangat menghargai ilmu. Sangat menghargai guru. Mereka sangat ingin sekolah,” ujar Heni

Tidak sekadar itu, lanjutnya, ia memilih keluar dari sekolah swasta tersebut disebabkan pengalaman pahitnya dahulu ketika menempuh pendidikan.

Menurutnya, anak-anak kampung lebih membutuhkan pendidikan. Sehingga ia tidak ingin nasib buruknya menimpa anak-anak lain. Disisi lain Heni mengaku berasal dari keluarga tak mampu.

Sejak kecil ia hanya diasuh oleh neneknya karena orangtuanya bercerai dan ibunya bekerja di luar kota. Tiap hari dia harus berjalan kaki selama dua jam untuk bisa ke Sekolah Dasar dan empat jam ketika SMP, sedangkan SMK nya ia memilih untuk kos karena jarak yang sangat jauh, sembari mencari uang sendiri.

Saat ini, melalui gerakan anak petani cerdas yang digagas, ia sudah memiliki kurang lebih sekitar 1500 anak petani dari berbagai kampung yang belajar di tempatnya.

Dengan pengorbanannya tersebut, Sociopreneur ini telah menerima beberapa penghargaan, baik nasional maupun internasional seperti, HER Times Awards Singapura 2018, Forbes Summit Manila Philippina 2017, 30 Under 30 Forbes Asia 2016, Top 300 Young Leader Asia versi Forbes 2016, dan Tokoh Inspiratif Indonesia 2015.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah