Sabtu, 20 Juli 2019
18 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Keuangan / Cerita Direktur Bank Syariah yang Hijrah dari Bank Konvensional
Yuwono mengaku ketika masuk ke dalam lingkungan bank syariah perbedaan yang mendasar adalah soal hati yang lebih dekat dengan Allah.

Sharianews.com, Jakarta ~ Berpindah jabatan dari bank konvensional ke bank syariah, pastinya banyak perbedaan yang dirasakan. Hal itulah yang dialami Direkur Bank Mega Syariah Yuwono Waluyo.

Yuwono mengaku ketika masuk ke dalam lingkungan bank syariah perbedaan yang mendasar adalah soal hati yang lebih dekat dengan Allah. Secara moral, berada di lingkungan yang islami, jauh lebih menentramkan dibanding saat dirinya menjabat di perbankan konvensional.

Memahami filosofi yang bank syariah, menurut Yuwono sangatlah baik. Salah satunya adalah memahami skema bagi hasil yang diterapkan bank syariah. “Memang this is the real, sesuatu yang memang seharusnya kita jalanilah, tentunya dalam kehidupan di dunia,” tambahnya menegaskan saat ditemui Sharianews.com, di Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (11/7).

Nilai tertinggi yang dimiliki bank syariah terletak pada filosofi-filosofi transaksi halal. Namun, diakuinya, berdasarkan pengalamannya bekerja di lingkup yang baru, banyak pekerja bank syariah yang tidak melakukan pengembangan diri.

Sebagian pekerja tersebut bisa dikatakan kolot atau takut melakukan berbagai hal baru dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Padahal, begitu Yuwono berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengawas Syariah Mega Syariah yang juga merupakan Wakil Presiden Terpilih 2019-2024, K.H. Ma’ruf Amin, banyak hal yang bisa dilakukan saat mengelola bank syariah.

“Banyak hal yang saya lihat di bank syariah, beliau (Ma’ruf) memberikan pandangan bahwa banyak hal yang bisa kita (bank syariah) lakukan,” ujar dia.

Selama mengelola bank syariah, Yuwono mengaku sering melakukan riset dan kontemplasi. Terutama saat timbul pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan dirinya penasaran. Dari situ, Yuwono akhirnya melakukan banyak diskusi untuk mendapat jawaban. Yuwono berpendapat bahwa selalu ada ruang untuk bank syariah berkembang.

Yuwono juga mengaku bahwa mengelola bank syariah tidak bisa sembrono. Dia harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip bank syariah yang tidak boleh dilanggar. Misalnya soal riba, hal tersebut jelas tidak bisa ditolerir. “Tapi ternyata, ketika saya masuk ke sini (bank syariah) banyak hal yang belum dilakukan yang sebenarnya bisa dilakukan,” ucap Yuwono.

Sebagai gambaran, Yuwono menjabat sebagai direktur di Bank Mega Syariah sejak 2015. Warga negara Indonesia yang dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, pada 12 Mei 1966 ini merupakan sarjana dari Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta dan sarjana diploma dari Fakultas Sastra Inggris, Universitas Indonesia, Jakarta.

Yuwono juga telah menyelesaikan program Master in Business Administration di Asian Institute of Management, Manila, Filipina pada tahun 2009.

Sebelum bergabung dengan Bank Mega Syariah, ia pernah bekerja di Bank Summa, Bank Universal dan Bank Permata dengan berbagai jabatan, hingga kemudian bergabung dengan Bank Mega pada tahun 2003 dengan jabatan terakhir sebagai regional manager. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo