Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Lifestyle / Cek Kehalalan Cemilan Lebaran
Foto dok. Inforesepku.com
Pada Hari Raya Idulfitri atau Lebaran tak afdal rasanya tanpa adanya cemilan yang khas. Umat muslim biasanya menyajikan beragam santapan yang bisa dinikmati sendiri atau untuk para tamu yang datang.

Sharianews.com, Jakarta - Pada Hari Raya Idulfitri atau Lebaran tak afdal rasanya tanpa adanya cemilan yang khas. Umat muslim biasanya menyajikan beragam santapan yang bisa dinikmati sendiri atau untuk para tamu yang datang.

Tapi, terkadang kehalalan dari cemilan itu kurang diperharikan. Minimnya pengetahun mengenai kehalalan menjadi salah satu penyebabnya. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dalam laman resminya, menerangkan beberapa bahan utama memiliki titik kritis halal.

Tepung terigu, misalnya, bahan ini menjadi salah satu bahan utama dibuatnya kue kering. Bahan ini kaya akan kandungan karbohidrat, namun sangat sedikit kandungan vitamin dan mineralnya.

Untuk memperkaya kandungan nutriennya, beberapa bahan tambahan pangan sering ditambahkan sebagai fortifikan tepung terigu, yang meliputi zat besi (Fe), seng (Zn), vitamin B1, vitamin B2, serta asam folat. Vitamin-vitamin tersebut berubah status menjadi tidak halal manakala diproduksi secara mikrobiologis menggunakan media yang tidak halal.

Kemudian, Advisor of Halal Audit Service Directorate LPPOM MUI Mulyorini R. Hilwan mengjelaskan, margarin dibuat dengan bahan dasar lemak tumbuhan. Dalam proses pembuatannya, sering kali ada bahan penstabil (stabilizer), pewarna, maupun penambah rasa (flavor) yang ditambahkan yang perlu dikritisi kehalalannya.

Gula pasir melalui beberapa tahapan, mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan. Tahapan-tahapan proses ini berpeluang menggunakan bahan dekolorisasi yang menggunakan karbon aktif.

“Apabila karbon aktif ini berasal dari hasil tambang atau dari arang kayu, maka tentu tidak menjadi masalah. Akan tetapi, apabila menggunakan arang tulang, maka harus dipastikan status kehalalan asal hewannya. Arang aktif yang dipakai harus berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai syariat Islam,” kata Mulyoroni.

Bahan lain yang sering menjadi topping atau campuran kue adalah keju dan cokelat. Keju berasal dari susu sapi, domba, kambing, atau unta. Kemudian dibutuhkan mikroorganisme, seperti enzim rennet, pepsin, renin, dan renilasi, dalam proses penggumpalan susu.

“Enzim rennet yang dipakai bisa berasal dari proses mikrobial atau lambung anak sapi. Jika berasal dari proses mikrobial, maka harus dipastikan media yang dipakai untuk pertumbuhan mikrobanya tidak mengandung bahan yang diharamkan. Sementara jika berasal dari lambung anak sapi, cara penyembelihan menjadi penentu kehalalannya,” ungkap dia.

Pada cokelat, terkadang membutuhkan emulsifier dalam proses pembuatannya. Bahan ini berasal dari produk nabati atau hewani. Selain itu, penggunaan flavor, laktosa, dan whey juga merupakan hal lumrah dalam cokelat. Laktosa dan whey menjadi bahan kritis karena bisa berasal dari hasil samping produksi keju yang mungkin menggunakan bahan haram dalam proses pembuatannya.

Ia berpesan, hal ini dapat diantisipasi dengan terus memilih produk dengan kemasan berlabel Halal MUI.

Terakhir, jangan lupa untuk memperhatikan kondisi kemasan yang tidak rusak, bocor dan sirup yang keruh. Masa berlaku atau expired date juga mesti diperhatikan agar sirup yang akan kita konsumsi selain halal namun juga aman (thayyib) untuk dikonsumsi. Mari budayakan memilih bahan-bahan halal, minimal untuk menjaga diri sendiri dan keluarga kita.

Rep. Aldiansyah Nurrahman