Jumat, 23 April 2021
12 Ramadan 1442 H
Home / Fokus / Cash Waqf Linked Sukuk Model Wakaf Modern
Foto dok. Pexels
Wakaf sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa

Sharianews.com, Jakarta - Wakaf sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa. Dari yang dulu berwakaf dilakukan hanya menyerahkan sebidang tanah, kini wakaf sudah bisa dengan uang atau yang biasa disebut wakaf uang.

Bentuk dari wakaf uang pun juga beragam. Paling terbaru dan bisa dikatakan paling modern salah satu bentuk dari wakaf uang adalah Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) yang diterbitkan pemerintah.

Penerbitan CWLS atau Sukuk Wakaf tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah untuk mendukung Gerakan Wakaf Nasional, membantu pengembangan  investasi sosial dan pengembangan wakaf produktif di Indonesia.

Melalui Sukuk Wakaf, Pemerintah memfasilitasi para pewakaf uang baik yang bersifat temporer maupun permanen agar dapat menempatkan wakaf uangnya pada instrumen investasi yang aman dan produktif.

Dalam CWLS, imbalannya disalurkan untuk program/kegiatan sosial yang memiliki dampak sosial dan ekonomi untuk masyarakat. Penyaluran imbalan akan dilakukan oleh nazir yang kredibel yang ditunjuk oleh Lembaga Keuangan Syariah-Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) dan disetujui oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai regulator dan pengawas Nazir.

Untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan penyaluran dana imbakan CWLS, maka nazir wajib membuat laporan kepada BWI, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, dan wakif (pembeli CWLS).

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Dwi Irianti Hadiningdyah menerangkan, CWLS diterbitkan dengan cara private placement dan ritel. Pemeritnah menerbitkan CWLS private placement dengan seri SW001 dan ritel dengan seri SWR001 di 2020.

“Melalui private placement SW001, minimum pembeliannya Rp50 miliar, seperti yang dilakukan BWI yang mengumpulkan dana wakaf minimum Rp50 miliar, kemudian ditempatkan di sukuk. CWLS yang perdana nazirnya BWI,” ujarnya.

Diskontonya dibayarkan sekali di awal transaksi penerbitan CWLS private placement digunakan BWI untuk pengembangan aset wakaf baru, yaitu renovasi dan pembelian alat kesehatan guna mendukung pembangunan retina center pada Rumah Sakit Wakaf Achmad Wardi di Serang, Banten.

Sementara itu, kupon dibayarkan setiap bulan dan digunakan untuk pelayanan operasi katarak gratis bagi kaum duafa di rumah sakit yang sama, dengan target jumlah duafa yang dilayani selama lima tahun sebanyak 2.513 pasien, serta pengadaan mobil ambulan untuk menjangkau pasien-pasien yang jauh dari rumah sakit tersebut. Selanjutnya dana sukuk wakaf tersebut akan kembali 100 persen kepada wakif saat jatuh tempo.

Kemudain untuk CWLS ritel, Dwi menjelaskan, jika hanya dengan CWLS private placement maka pengumpulan wakaf akan pasif, hanya menunggu investor. Maka dari itu, pemerintah mencoba lebih agresif dalam mendorong wakaf uang dengan cara menerbitkan CWLS yang ritel.

Perbedaan ritel dan private placement terletak difiturnya, yaitu ritel tenornya dua tahun, minimum pembelian Rp1 juta dan tidak ada batas jumlah pengumpulan. Artinya, berapapun yang terkumpul tidak harus Rp50 miliar tetap dieksekusi.

Pada penebitan CWLS ritel pertama, seri SWR001, total volume pemesanan pembeliannya sebesar Rp14,91 miliar dan menjangkau 1.041 wakif di seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam menjalankan CWLS, pemerintah bersinergi dengan semua stakeholder, diantaranya BWI sebagai regulator maupun pengawas dari nazir, Kementerian Agama yang memberikan perizinan LKSPWU, Bank Indonesia berperan agen pengelola sukuk, Otoritas Jasa Keuangan mengawasi LKPSWU, dan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk mensinergikan terkait dengan program-program pemerintah secara keseluruhan.

Pemerintah dalam CWLS ritel menunjuk empat bank sebagai mitra distribusi (midis) bisnis LKSPWU, yakni Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, BNI syariah, dan BRI Syariah. Masing-masing midis dipersilahkan untuk menunjuk nazir maksimum dua. Total terkumpul tujuh nazir, karena Bank Syariah Mandiri hanya menunjuk satu nazir.

“Jadi dari awal mereka (midis) sudah menunjuk nazir, Kemenkeu meminta nazirnya itu untuk membuat list project-nya. Waktu kami launching itu sudah tahu, masyarakat calon wakifnya sudah tahu, untuk apa proyek-proyeknya. Jadi ada pilihan apakah bidang pendidikan, kesehatan, sosial atau mereka bisa memilih proyek impact ekonomi,” ungkap Dwi.

Misalnya, ada proyek untuk membeli bibit sapi di Trenggalek, membeli bibit unggul di Lampung. Kemudian untuk kesehatan, ada yang digunakan untuk membeli alat dengar bagi anak-anak usia 1-18 tahun dengan target 1.000 anak, dan anak-anak itu tidak hanya dibelikan alat tapi juga dibantu dari mulai pemeriksaan sampai alatnya dipastikan bekerja dengan baik. Kemudian, hampir semua nazir mengalokasikan juga untuk beasiswa, terutama beasiswa terdampak Covid-19. Ada juga diberikan untuk subsidi guru yang terdampak Covid-19.  

Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS Ahmad Juwaini mengatakan berwakaf dikalangan milenial semakin mengalami perkembangan hal itu bisa dilihat dari banyaknya milenial tertartik dengan CWLS ritel seri SWR001.

Berdasarkan generasi pemesanan CWLS seri SWR001, wakif Generasi X (kelahiran 1965-1979) mendominasi pemesanan dengan total nominal sebesar Rp5,6 miliar dan jumlah wakif sebanyak 453 orang. Jumlah nominal pemesanan dari Generasi Y/Millenial sebesar Rp1,62 miliar (13,18 persen) dari 277 wakif. Sementara itu, Generasi Z (usia di bawah 20 tahun) juga ikut berpartisipasi dengan jumlah pemesanan sebesar Rp9 juta dari 4 wakif.

CWLS dianggap metode yang cocok dikalangan para milenial, bahwa berwakaf bisa dengan nominal yang sedikit. Terlebih kampanye CWLS tersebar di media digital yang notabene erat dengan milenial. Akhirnya milenial berbondong-bondong meskipun nominalnya sedikit, tapi hasilnya ditotal jadi besar.

Dwi berharap di CWLS ritel tahun 2021, seri SWR002, pengumpulan dananya akan lebih besar dibanding 2020. CWLS ritel seri SWR002 sendiri dijadwalkan terbit pada 1 April 2021.

Rep. Aldiansyah Nurrahman