Kamis, 14 November 2019
17 Rabi‘ al-awwal 1441 H
Home / Lifestyle / Cari Masjid Terdekat? Gunakan Aplikasi Simas
FOTO I Dok. islamiclandmarks.com
Data pada SIMAS juga dilengkapi dengan GIS (Geographic Information System) sehingga lokasi masjid atau mushala dapat dipetakan dengan tingkat akurasi yang baik di atas peta dunia (citra satelit).

Sharianews.com, Jakarta ~ Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama terus melakukan pendataan rumah ibadah, masjid dan mushala. Guna memudahkan untuk akses publik, pendataan tersebut dilakukan secara daring melalui aplikasi Sistem Informasi Masjid atau SIMAS.

"Hingga saat ini, data masjid dan mushalla yang telah diinput melalui aplikasi SIMAS sebanyak 511.899. Jumlah ini terdiri dari 242.823 masjid dan 269.076 mushala," terang Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Mastuki seperti dinukil dari laman bimas Islam Kemenag, Senin (26/11/2018).

Menurut Mastuki, seluruh data masjid dan mushala yang tersaji di SIMAS sudah memiliki nomor ID Nasional Masjid. Data itu mencakup nomor identifikasi masjid atau mushala, tipologi, lokasi, dan juga nomor urut pendataan. "Data pada SIMAS juga dilengkapi dengan GIS (Geographic Information System) sehingga lokasi masjid atau mushala dapat dipetakan dengan tingkat akurasi yang baik di atas peta dunia (citra satelit)," tutur Mastuki.

Proses sosialisasi dalam mendata dan input masjid, mushala ke dalam aplikasi SIMAS sudah dilakukan sejak 2014. Meski demikian, Mastuki mengakui bahwa belum semua masjid dan mushala terdata di SIMAS. Namun, pendataan terus dilakukan oleh operator Kantor Urusan Agama (KUA). Harapannya, seluruh data masjid dan mushala pada setiap kecamatan terinput dalam SIMAS hingga 2019 mendatang.

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun secara manual melalui Kanwil Kementerian Agama Provinsi, ada 741.991 rumah ibadah umat Islam di seluruh Indonesia, dengan rincian 296.797 masjid dan 445.194 mushala. Artinya, masih ada sekitar 230ribuan data yang masih dalam proses verifikasi dan validasi untuk kemudian diinput ke dalam SIMAS.

"Ini jelas bukan data final. Karenanya, kami juga mengundang pengurus masjid dan mushala untuk proaktif mendaftar, utamanya bagi mereka yang belum memiliki ID Nasional Masjid dan Mushala," tutur Mastuki. Mengenai caranya, "Silahkan datang ke KUA terdekat," Ia menambahkan.

Di setiap KUA, lanjut Mastuki, Kemenag sudah menugaskan PNS yang secara khusus bertanggungjawab dalam menginput data. Mekanisme ini dilakukan untuk memastikan entry data dilakukan secara benar dan tepat sehingga data yang diinput akurat serta dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, ada juga mekanisme kontrol atau pengecekan yang dilakukan administrator pusat melalui akurasi koordinat Google Map.

"Jika ada masjid atau mushala berdasarkan laporan terkena musibah seperti roboh atau hancur akan dilakukan pembaruan data. Pembaruan data rumah ibadah selalu dilakukan seiring dengan perkembangan situasi di lapangan," jelas Mastuki.

Kementerian Agama sangat concern dalam pendataan rumah ibadah. Sebab, data masjid dan mushala sangat penting dalam proses pemberdayaan, baik fisik maupun SDM pengelola (takmir). Aplikasi SIMAS dibangun dalam kerangka itu.

Aplikasi yang dibangun sejak 2013 ini didesain sebagai bentuk layanan publik dalam upaya meningkatkan kualitas pengeloaan dan pemberdayaan potensi masjid dan mushala Indonesia. Tujuan dari aplikasi ini adalah memperluas layanan informasi dan data kemasjidan, mengidentifikasi dan pemetaan potensi maupun problematika masjid untuk optimalisasi pemberdayaan masjid dan terwujudnya modernisasi layanan data bidang kemasjidan. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo