Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Cara Mengkritik Bank Syariah

Senin, 27 Agustus 2018 08:08
Foto: NU Online
Bank Syariah sangat terbuka terhadap kritik. Kritik Bank Syariah mesti dilakukan secara sistematis, positif-konstruktif, dan memberikan solusi atas kritiknya dari sisi konsep maupun praktik demi kemajuan Bank Syariah.

Bank Syariah sangat terbuka terhadap kritik. Kritik Bank Syariah mesti dilakukan secara sistematis, positif-konstruktif, dan memberikan solusi atas kritiknya dari sisi konsep maupun praktik demi kemajuan Bank Syariah.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Saya ingin menyampaikan kritik atas praktik Bank Syariah. Bagaimana cara agar langkah saya dalam mengkritik ini sesuai Syariah?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dewi, tinggal di Samarinda.

Jawaban:

Saudari Dewi yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten hanya mau menggunakan rekening Bank Syariah saja dalam menggunakan transaksi perbankan. Amin.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini banyak kritik terhadap Bank Syariah, termasuk dari para Ustadz dan follower-nya. Kalau Ustadz yang mengkritik itu bisa diajak dialog, itu lumayan bagus. Tapi, biasanya follower-nya taqlid buta ikut mengkritik, namun tidak berbekal ilmu. Mereka tidak tahu maksud kritik yang disampaikannya.

Jika bersedia objektif dan memang benar-benar bermental positif-konstruktif, pengkritik bisa memberikan solusi atas kritiknya dari dua sisi. Yakni, sisi konsep atau praktik.

Selain itu ada rumus langkah yang harus dilakukan jika ada kesalahan di Bank Syariah. Rumus ini berdasarkan Hadits:

من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان

Artinya, sesiapa yang telah melihat kemungkaran (di antara kalian), maka ubahlah dengan tangan (kekuasaan). Jika tidak mampu (mengubah dengan kekuasaan), maka ubahlah dengan lisan. Jika tidak mampu (mengubah dengan lisan), maka ubahlah dengan hati (ingkari) dan itulah selemah-lemah iman.

Hadits tersebut juga dengan lugas menyatakan bahwa tugas mengubah keadaan dan memberi solusi adalah bagi orang yang melihat (man ro'aa) atas kemungkaran tersebut. Otomatis, tugas pengkritik itu tidak ringan karena harus mengubah atas hal yang ia kritik.

Hadits tersebut juga diakhiri dengan pernyataan bahwa jika tidak mampu mengubah kemungkaran (hal yang ia kritik), maka ubahlah dengan hati, cukup dengan mengingkari, diam, mendoakan. Diamnya pengkritik jika ia tidak mampu memberikan solusi positif-konstruktif yang menandakan ia masih punya iman, walau lemah.

Jika Salah Konsep

Jika Anda menuding ada salah konsep di Bank Syariah, berarti Anda menuding bahwa ada kesalahan pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), Fatwa MUI, Opini Dewan Pengawas Syariah (DPS) DSN MUI, Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran Bank Syariah (SEBI), Peraturan dan surat edaran Otoritas Jasa Keuangan (POJK dan SEOJK),  Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Standar Operasional Prosedur (SOP), Juklak, Juknis, Berkas Legal, dan aturan internal dan eksternal lainnya.

Solusi jika Anda benar-benar yakin menemukan kesalahan di konsep Bank Syariah adalah silakan Anda mengubah semua dokumen tersebut, baik dengan proses dan cara audiensi dengan praktisi maupun regulator terkait. Yakinkan pihak yang berwenang. Jika Anda tidak mampu melakukan atau memberi solusi yang benar, maka diamnya Anda adalah ciri Anda masih memiliki Iman, walau lemah.

Ingat baik-baik bahwa tugas mengubah kemungkaran adalah ada di orang yang melihat kemungkaran. Tugas pengkritik adalah memberi solusi nyata atas kritiknya. Bukan tugas orang lain.

Jika Salah Praktik

Jika Anda mengkritik bahwa ada salah praktik di lapangan sedangkan konsep Bank Syariah sudah benar, berarti Bank Syariahnya memang sudah benar. Jangan salahkan Bank Syariahnya, yang salah adalah praktisinya. Selanjutnya menjadi tugas Anda (yang mengkritik) adalah mengajarkan kepada praktisi dan/atau nasabahnya agar mereka taat aturan Bank Syariah yang sudah benar itu, bukan tugas orang lain.

Langkahnya harus urut. Yang harus dibenerkan dulu adalah konsepnya, baru praktiknya. Praktik di lapangan pun harus ikut teori (prosedur) Bank Syariah. Jangan dibalik.

Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa kemungkaran yang dimaksud (dikritik) adalah benar-benar kemungkaran. Jika yang dikritik adalah akadnya, maka harus paham ilmu fikih muamalah dan ilmu hukum legal formal. Jika yang dikritik adalah akuntansinya, maka harus paham pedoman akuntansi. Jika yang dikritik adalah praktiknya, maka harus paham praktik, minimal pernah menjadi praktisi atas pekerjaan pada posisi yang dikritik.

Saya, Ahmad Ifham Sholihin, pernah melakukan langkah nyata mengkritik Bank Syariah, sampai terfakta melakukan audiensi resmi dengan belasan praktisi dari lima divisi berbeda, lanjut dengan menemui regulator secara langsung. Saya berhenti mengkritik ketika produk Bank Syariah tersebut resmi dibekukan dan berlaku bagi semua Bank Syariah yang terlanjur memiliki fitur produk tersebut.

Saya berkesimpulan bahwa ternyata Bank Syariah sangat terbuka terhadap kritik. Syaratnya, kritik itu harus punya landasan kuat dari sisi Ushul Fiqh, regulasi legal-formal sampai praktik.

Demikian, semoga bisa menjadi bekal bagi Anda yang ingin mengkritik Bank Syariah secara sistematis, positif dan konstruktif, demi kemajuan Bank Syariah. (*)

ShariaCorner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin