Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Cara Cepat Kaya Menurut Islam

Senin, 10 September 2018 10:09
FOTO ILUSTRASI | Dok. projetogospel.com
Seperti apa kreteria kaya menurut Islam, dan bagaimana cara memperoleh kekayaan yang sesuai dengan Alquran? Agar kekayaan yang didapat tidak hanya bisa kita nikmati di dunia saja, tetapi bisa kekal hingga akhirat kelak, apa saja yang harus kita lakukan?

Sharianews.com, Jakarta. Ingin kaya adalah hal yang wajar. Islam mengajarkan kepada kita untuk kaya. Islam mengajarkan kepada kita untuk menunaikan zakat, dari zakat fitri, zakat mal, zakat pertanian, zakat perdagangan dan lain-lain saat harta sudah mencapai haul (jangka waktu tertentu) dan nishab (kadar dan ukuran tertentu).

Islam juga mewajibkan kepada kita untuk menunaikan ibadah haji jika mampu, memberikan harta dalam bentuk sedekah, wakaf, dan hibah. Itu semua pertanda bahwa kita ini diajarkan untuk menjadi orang kaya.

Ada beragam tolok ukur kaya yang ditemukan di masyarakat. Misalnya kaya adalah orang yang banyak hartanya, banyak perusahaannya, rumah megah, mobil mewah, tanah melimpah luas, dan lain-lain. Itu tolok ukur kaya menurut manusia.

Indikator manusia yang kaya, oleh Rasulullah disebutkan dalam hadits yang artinya, “Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, do’a anak yang saleh.” (HR. Muslim No. 1631).

Hadits ini menyuratkan bahwa setelah manusia meninggal, maka terhentilah semua amalannya, manusia tidak punya apa-apa lagi kecuali ada 3 hal indikator kekayaan manusia yang akan menjadi bekal di akhirat kelak. Tiga hal yang patut diketahui itu adalah sedekah jariyah (yang mengalir), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Indikator kaya menurut Islam

Indikator kaya yang pertama yakni tatkala kita bisa memberikan sedekah jariyah. Orang yang mampu sedekah tentu saja adalah orang yang memiliki harta. Paling tidak, orang tersebut sudah mampu memberikan nafkah wajib kepada diri sendiri, kepada keluarga dan orang tuanya.

Bahkan, sedekah ini tidak hanya dimaknai sebagai sedekah harta. Sedekah pun bisa berupa sedekah ilmu dan amal kebaikan. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa senyuman itu sedekah.

Indikator kaya kedua adalah ketika kita memiliki ilmu yang bermanfaat. Logikanya, orang yang banyak ilmu akan memiliki dampak yang luas bagi diri, keluarga dan manusia lain. Ilmu yang bermanfaat bisa menyebabkan penghormatan dan penghargaan dari Allah. Allah saja sudah menghargai dan menghormati orang berilmu, apalagi manusia.

Tentu saja, punya ilmu ini harus dilengkapi dengan punya iman dan amal shalih. Hal ini senada dengan Al Quran Surah al Mujadalah ayat 11, “Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Indikator kaya yang ketiga adalah ketika kita punya anak shalih yang mendoakan kita. Anak shalih dalam hadits tersebut disebut dengan walad, hal ini menyuratkan bahwa anak shalih tersebut selain anak secara biologis, bisa juga berarti anak didik kita ketika semasa kita di dunia. Misalnya murid kepada guru, anak asuh atau anak yatim terhadap pengasuhnya. Mari kita ciptakan generasi terbaik, untuk kebaikan kita di dunia dan di akhirat.

Rumus menjadi kaya menurut Alquran

Setelah kita memahami indikator orang kaya, selanjutnya adalah cara menjadi orang kaya dengan cepat. Sah-sah saja ketika kita pengen cepat kaya. Tentu, coba kita perhatikan rumus-rumusnya. Ada 3 rumus inti yang bisa diterapkan ketika kita ingin jadi cepat kaya. Rumus ini berasal dari Alquran. Syarat utama dan pertama untuk meresapi rumus ini adalah keyakinan kita kepada Allah dan firman Allah. Setelah percaya, selanjutnya amalkan dengan baik.

Rumus pertama tersurat dalam Alquran Surah Ath Thalaq ayat 2-3, “barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Jalan takwa

Ayat Alquran ini menegaskan bahwa ketika kita sedang dan terus menjalankan aktivitas takwa, maka Allah sedang dan terus memberikan jalan keluar kepada kita atas berbagai persoalan. Ayat Alquran ini pun menegaskan bahwa ketika kita sedang dan terus menjalankan takwa, maka Allah sedang dan terus memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Intinya adalah takwa.

Takwa adalah menjalankan semua perintah dan menjauhi larangannya. Terkait ayat ini, Rasulullah pernah berkata kepada Abu Zar, “Hai Abu Zar, seandainya semua manusia mengamalkan ayat ini, niscaya mereka akan diberi kecukupan.”

Jalan tawakal

Ayat ini disempurnakan dengan tuntunan kepada kita untuk sedang dan terus melakukan tawakal agar selalu dicukupi oleh Allah. Tawakal adalah mewakilkan semua urusan kepada Sang Maha Wakiil (Allah). Kita tidak mungkin disebut mewakilkan semua urusan jika kita belum ikhtiar sebagai sesuatu yang diwakilkan kepada Allah. Itulah rumus pertama, yakni takwa dan tawakkal.

Rumus kedua tersurat dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini menyuratkan bahwa ketika kita sedang dan terus menafkahkan harta di jalan Allah, maka Allah sedang dan terus membalasnya 700 kali lipat. Jalan Allah adalah jalan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Termasuk di sini adalah memperoleh dan membelanjakan harta secara halal, terhindar dari riba dan transaksi haram lainnya. Itu rumus matematika rezeki menurut Allah.

Berniaga kepada Allah SWT

Rumus ketiga tersurat dalam Alquran Surah Fathir ayat 29-30 menyuratkan: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ayat ini menyuratkan bahwa agar bisnis kita secara duniawi dan ukhrowi tidak merugi, ada 3 hal penting yang patut kita lakukan. Tiga hal tersebut adalah membaca Alquran, mendirikan sholat, menafkahkan harta (di jalan Allah). Allah berjanji, perniagaan kita (baik secara duniawi maupun ukhrowi), tidak akan merugi.

Coba kita perhatikan ketiga rumus tersebut, semua poin penting pada ayatnya menggunakan fi’il mudhari’ atau kata kerja bentuk sekarang dan terus menerus, baik dari sisi aktivitas maupun balasan dari Allah. Balasannya bersifat langsung ketika aktivitas berlangsung, tanpa menunggu. Balasannya cepat, tanpa ketidakpastian. Itu jika kita memang beriman kepada Allah dan Rasulullah dalam Alquran dan Hadits di atas.

Andai saja kita merasa sudah melakukan hal yang dirumuskan pada ayat-ayat Alquran di atas namun belum berasa langsung menjadi orang yang kaya sejati (harta, ilmu dan amal shalih), maka ketahuilah, tatkala kita masih bisa membaca tulisan ini, masih bisa bernafas, masih bisa hidup, itulah salah satu kekayaan yang tak ternilai harganya. Wallahu a’lam.

 

Oleh : Ahmad Ifham Sholihin