Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / BPRS HIK Cibitung Hapus Tagih Atas Pembiayaan Rp 803,72 Juta
FOTO | Dok. Aldi sharianews
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Harta Insan Karimah (HIK) Cibitung melakukan hapus tagih atas pembiayaan yang telah dihapus buku sampai dengan 31 Desember 2014 dengan total nilai mencapai Rp 803,72 juta.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Harta Insan Karimah (HIK) Cibitung melakukan hapus tagih atas pembiayaan yang telah dihapus buku sampai dengan 31 Desember 2014 dengan total nilai mencapai Rp 803,72 juta. 

Sharianews.com, Jakarta. Direktur Utama BPRS HIK Cibitung, Heriyakto Setyo Hartomo mengatakan sebagai perseroan setiap tahun harus menghapus buku, karena secara ketentuan peraturan dibolehkan. Pertimbangan penghapusan buku ini, sudah sedemikan rupa dibahas dalam rapat direksi dan komisaris.

“Sebelum diakusisi oleh grup HIK pada 2010, BPRS Saleh Arta, ternyata sudah memiliki catatan pernah melakukan hapus buku, yaitu dari tahun 2000 sampai 2008,  senilai  Rp 309,79 juta,”kata Hartomo, di Bekasi, Sabtu (11/8/2018).

Kemudian setelah diakusisi, jelas Hartomo, juga melakukan hapus buku kembali, persisnya pada 2013 dan 2014, dengan total mencapai Rp 493,93 juta.

“Sehingga jika diakumulasikan, sejak 2000 sampai 2014, hapus buku yang telah dilakukan perseroan mencapai angka Rp 803,72 juta. Angkai-angka ini selalu diaudit, jadi ini transparan, baik kepada Otoritas Jangka Keuangan (OJK), maupun publik, kerana diaudit oleh Kantor akuntan publik,”papar Hartomo.

Menurutnya, catatan hapus buku tersebut telah ada dan dapat dilihat dokumnetasinya dalam laporan resmi, sesuai dengan peraturan mengenai pencadangan, hapus buku, dan hapus tagih.

“Hapus buku yang dilakukan betul-betul dikaji. Faktanya mau tidak mau, suka tidak suka, harus tutup buku, karena memang sudah hopeless. Jadi ini sudah tidak mungkin kita recovery,” ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Hartomo, tutub buku tersebut sudah masuk ke dalam rekening administratif, sehingga sama sekali tidak mempengaruhi neraca maupun laba rugi, karena sudah dihapus dalam pembukuannya.

“Jadi ini hapus buku itu masih mungkin di-recovey kalau memang masih ada kemungkinan. Tapi fakta di lapangan sepertinya sudah mustahil,” katanya terkait dengan alasan tubup buku yang dilakukan.

Proseduran setelah tutup buku

Hartomo, menjelaskan, secara prosedural akuntansi, sebelum tagihan di dihapusbuku-kan, berlaku pertimbangan dan ketentuan, sebagai berikut. Pertama, dapat  di-recovery dan menjadi pendapatan lain-lain, bila dimungkinkan ada pelunasan.

Kedua, jika sudah tidak mungkin ditagih, baru diberlakukan ketentuan hapus buku. “Ini yang secara bertahap  HIK Cibitung lakukan hingga  2014,"jelas Hartomo. (*) 

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil