Minggu, 28 November 2021
23 Rabi‘ at-akhir 1443 H
Home / Keuangan / BOPO BPRS Al Hijrah Amanah Mengalami Kenaikan Sebesar 90 Persen
FOTO | Dok. mahia-desa.id
Rerata angka BOPO BPRS mengalami kenaikan. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menurunkan BOPO adalah dengan mengefisiensikan biaya-biaya.

Rerata angka BOPO BPRS mengalami kenaikan. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menurunkan BOPO adalah dengan mengefisiensikan biaya-biaya.

Sharianews.com, Jakarta. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Al Hijrah Amanah (AHA) Juni 2018 mencapai 90 persen.

Direktur BPRS AHA, Arie Wahyuning Tyas mengatakan BOPO di BPRS AHA mengalami kenaikan yang tinggi, yaitu naik 10 persen dari yang sebelumnya 80 persen di akhir Desember 2017.

“Salah satu penyebab kenaikan Bopo adalah kondisi ekonomi di Indonesia saat ini yang sedang tidak stabil. Harga-harga menjadi tidak stabil, terlebih dengan mata uang dolar yang semakin melambung tinggi,” jelas Tyas, saat dihubungi Sharianews.com, Selasa (31/7/2018).

Tyas mencontohkan kasus terkait penjualan rumah komersil, banyak masyarakat sekarang menahan membeli karena harga semakin tinggi. Ini berpengaruh kepada beberapa nasabah kami (BPRS AHA), harga telur saja tidak turun-turun,” ujarnya.

Karena itu, salah satu strategi yang dilakukan untuk menurunkan BOPO adalah dengan mengefisiensikan biaya-biaya. "Salah satunya dengan sumber pendanaan murah, yaitu dari tabungan, bukan dari deposito yang berbiaya mahal. Oleh karena itu BPRS AHA menggalakkan tabungan umroh dan qurban,” papar Tyas.

Lebih lanjut, Tyas mengungkapkan, rata-rata hangka besaran BOPO BPRS di Indonesia merasakan hal yang sama. Karenanya, ia mengharapkan ada peran pemerintah yang lebih untuk selalu berupaya mengangkat performa BPRS.

Berapa besaran angka BOPO aman?

Terkait BOPO BPRS skala nasional, berdasarkan data terakhir, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mei 2018, sebesar 85,85 persen, itu dinilai kurang baik. Mengingat angka aman itu di bawah 83 persen.

Secara hitungan bulan per bulan BOPO, Mei 2018 mengalami kenaikan di banding April 2018 yang mencapai 85,31 persen. Meningkat 0,54 persen.

Padahal pada Maret 2018 sudah berada di angka 84,23 persen, sudah mengalami penurunan di banding Februari 2018, sebesar 1,04 persen dari 85,27%.

Kisaran angka BOPO per tahunan

Tidak berbeda dengan hitungan bulan per bukan, secara perhitungan tahun per tahun BOPO juga fluktuatif, mengalami kenaikan dan penurunan.

OJK akhir Desember 2013. menyatakan bahwa BOPO BPRS masih sehat, hanya berada di angka 80,75 persen. Sebelum menlonjak naik setahun berikutnya, akhir Desember 2014 menjadi  87, 79 persen atau naik 7.04 persen. 

Angka BOPO kembali mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen, menjadi 88,09 persen pada Desember 2015.

Angka tersebut, menjadi yang tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. Setehun setelahnya, turun satu persen, menjadi 87,09 persen di akhir Desember 2016.


Kemudian, pada akhir Desember 2017 BOPO BPRS, berada di kisaran angka sebesar 85,34 persen. Artinya mengalami penurunan 1,75 persen. Jika dibandingkan dengan data terbaru OJK, Mei 2018,  di mana  BOPO BPRS nasional naik sebesar 0,51 persen menjadi 85,85 persen. (*)