Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO | Dok. istimewa
Teknologi blockchain dapat dengan cepat mengkonfirmasi tingkat kepatuhan terhadap prinsip-prinsip halal pada setiap tahap produksi.

Sharianews.com, Jakarta ~ Teknologi sangat berpotensi meningkatkan perkembangan ekonomi syariah, meskipun dampak positifnya saat ini masih dinilai minim. Tak terkecuali teknologi blockchain. Teknologi teranyar di bidang keuangan ini, ke depan diyakini dapat membantu tingkat kepatuhan terhadap prinsip dan ketentuan industri halal, karena dapat membantu mempermudah pelacakan terhadap produk-produk berlabel halal yang diperdagangkan.

Dalam proses produksi produk halal, teknologi blockchain dapat dengan cepat mengonfirmasi tingkat kepatuhan terhadap prinsip-prinsip halal pada setiap tahap produksi. Penggunaan peranti ini dapat menghilangkan penipuan, dan dengan dukungan dari pemangku kebijakan, teknologi blockchain diyakini dapat meningkatkan daya tarik terhadap pasar halal, khususnya dalam industri makanan halal.

Dengan dukungan bitcoin, pasar online atau marketplace dapat memudahkan dan mempercepat transaksi perdagangan produk-produk dan kreasi lifestyle halal, serta melancarkan perdagangan dan meningkatkan manajemen rantai pasok halal.

Pemanfaatan teknologi blockchain

Pada 2018, perkembangan blockchain terlihat menjanjikan dalam penerapannya pada produk dan perdagangan halal. Beberapa tahap kemajuan pemanfaatan teknologi blockchain antara lain dapat dilihat dari perekembangan berikut ini.   

Pertama, platform berasal dari Dubai yang diaplikasikan melalui blockchain, Artificial Intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT), yakni HalalChain telah mengembangkan teknologi yang dapat melacak setiap jejak rantai pasokan makanan, kosmetik dan produk farmasi halal dengan data yang tidak dapat diubah, menggantikan kebutuhan akan seorang pengawas (inspectors).

Kedua, solusi serupa juga telah dirilis oleh HalalTrail, namun berfokus pada rantai pasok makanan halal dengan menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh TE-Food, sementara HealthFX yang berkantor di Singapura fokus pada produk obat-obatan halal.

Ketiga, supermarket halal terbesar di Singapura, MyOutlet, merilis penawaran koin perdana (Initial Coin Offering /ICO) atau penggalangan dana dalam mata uang kripto senilai 86 juta dolas AS menggunakan 'Halaldinar', koin berbasis blockchain, bertujuan mengembangkan pasar halal digital (halal marketplace) dengan jenis business to business (B2B) dan business to customer (B2C).

Peta jalan pengembangan

Lalu bagaimana agar teknologi blockchain bisa memberikan manfaat lebih bagi pengembangan ekonomi dan industri syariah? Peta jalan untuk mewujudkan peluang tersebut, setidaknya harus melibatkan upaya bersama dari berbagai pemangku kepentingan, khususnya oleh regulator.

Peta jalan tersebut diupayakan untuk dan berhubungan dengan beberapa aspek, antara lain terkait dengan pertama, standar dan badan akreditasi dalam mendorong kesesuaian dan rasionalisasi standar halal, yang akan menjadi penting untuk keberhasilan penerapan blockchain.

Kedua, bagaimana mengadaptasikan teknologi blockchain pada seluruh ekosistem rantai pasokan dan dimasukkan ke dalam kerangka pengoperasian lembaga sertifikasi serta lembaga pajak dan pemerintah.

Ketiga, bagaimana pemerintah dan investor memainkan peran penting dalam mendukung pengembangan skalabilitas teknologi blockchain. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil