Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Biang Pesta Riba

Kamis, 27 September 2018 15:09
Foto: Nu.or.id
Berbagai transaksi di Bank Konvensional biang dan nyawa dari pesta Riba. Transaksi Anda di Bank Konvensional menyebabkan pesta Riba kian lestari.

Ada fenomena unik yang muncul di masyarakat tersebab ketidakakuratan memahami persoalan Riba dalam perbankan. Tak sedikit yang mengatakan bahwa punya rekening di Bank Konvensional itu bukan Riba. Ada pula yang menyatakan bahwa punya rekening di Bank Konvensional asalkan tidak mengambil bunganya berarti tidak Riba. Adalagi yang mengatakan bahwa bertransaksi di Bank Konvensional itu tidak Riba jika hanya sekadar melakukan transaksi berbasis jual-beli jasa.

Mari kita buktikan, apakah anggapan tersebut punya landasan yang masuk akal atau tidak. Hal ini perlu ditegaskan agar masyarakat memiliki pandangan yang terang benderang (bayyinun) tentang transaksi yang mereka lakukan ini Riba atau bukan. Jika memang transaksinya adalah Riba, mari kita bersama-sama segera meninggalkannya.

Pertama, logika punya saldo di Bank Konvensional. Mari gunakan logika sederhana. Tersebab adanya saldo di Bank Konvensional, maka Bank Konvensional tetap bisa hidup, tetap bisa pesta Riba, tetap bisa menjalankan bisnis dan operasionalnya, bahkan saldo Anda merupakan sumber nyawa paling utama dari Bank Konvensional.

Bisa dibilang, saldo rekening Anda di Bank Konvensional adalah biang pesta Riba bagi Bank Konvensional. Saldo rekening Anda di Bank Konvensional adalah satu-satunya nyawa utama pesta Riba di Bank Konvensional. Tanpanya, Bank Konvensional mati.

Ada kaidah fikih, ‘sesuatu yang tiada sempurna sebuah kewajiban tanpa sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib’ (maa laa yatimmu al-waajib illaa bihi fahuwa waajib). Kaidah ini tentu senada dengan kaidah ‘sesuatu yang tiada sempurna sebuah keharaman tanpa sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi haram’ (maa laa yatimmu al-haraam illaa bihi fahuwa haraam).

Perhatikan bahwa ketika saldo itu tidak ada, maka mati sudah Bank Konvensional, sehingga saldo rekening Anda di Bank Konvensional ikut terhukum haram oleh karena selain sebagai sumber nyawa pesta Riba Bank Riba, juga merupakan transaksi pesta Riba itu sendiri.

Perhatikan skema tabungan, giro, deposito di Bank Konvensional. Ketika Anda menabung di Bank Konvensional, maka otomatis bersyarat pengembalian kelebihan bunga dari pokok pinjaman. Bahkan dari sisi logika bisnis, skema ini mengajarkan manusia untuk berlagak jadi Tuhan, berlagak jadi Allah. Uang belum ditransaksikan, namun sudah bisa menjanjikan hasil pasti sebesar % x pokok simpanan. Padahal, hanya Allah yang layak melakukan hal itu. Hanya Allah yang Mahatahu kepastian takdir atas hasil bisnis.

Dengan demikian, ketika Anda memiliki saldo di Bank Konvensional, maka otomatis melakukan beberapa hal sekaligus, yakni berlagak jadi Allah, melakukan transaksi pesta Riba, dan menjadi biang dari transaksi pesta Riba.

Kedua, logika punya saldo di Bank Konvensional tanpa ambil bunga. Ini perilaku unik yang tampak jelas membuktikan bahwa pelakunya punya jiwa pejuang Riba sejati tanpa pamrih, rela berkorban demi pesta Riba tetap lestari.

Perhatikan, ketika Anda punya saldo di Bank Konvensional, maka otomatis Anda akan valid disebut sebagai Pejuang Riba, oleh karena Anda valid melakukan pesta Riba. Saldo Anda menjadi biang dan nyawa dari pesta Riba, dan Anda pun melakukan transaksi berlagak jadi Tuhan, sebagaimana kita bahas sebelumnya.

Ketika perjuangan Anda melaksanakan pesta Riba dan menjadi biang pesta Riba ini Anda ikhlas tidak memperoleh bunga yang seharusnya menjadi jatah Anda, maka Anda terbukti semakin baik hati dan berani berkorban jiwa-raga menegakkan pesta Riba di Bank Konvensional. Maka tepat kiranya Anda sangat layak disebut sebagai pejuang Riba sejati tanpa pamrih.

Catatan tambahan, ketika Anda memiliki saldo di rekening Bank Riba namun tidak ambil bunganya, maka ini semakin memanjakan para bankir pejuang Riba karena akan otomatis menambah keuntungan hasil bisnis pesta Riba yang menyebabkan pesta Riba mereka menjadi semakin lestari dan leluasa. Anda layak disebut pejuang Riba sejati tanpa pamrih.

Ketiga, logika transaksi berbasis jasa di Bank Konvensional. Ada lagi satu anggapan bahwa tidak masalah Anda bertransaksi di Bank Riba jika transaksinya hanya jual-beli jasa atau menggunakan fasilitas pembayaran, misalnya, pembayaran listrik, air, pajak, pulsa, dan sejenisnya.

Ketika Bank Konvensional menggunakan dana penabung dan pendeposito Riba untuk disalurkan dalam kredit pesta Riba kok menghasilkan keuntungan, maka keuntungan atau hasilnya dibagikan kepada penabung atau pendeposito dalam bentuk janji bunga di awal akad. Lain halnya ketika Anda melakukan transaksi berbasis jasa, maka keuntungan yang diperoleh Bank Riba akan sepenuhnya menjadi hak milik Bank Riba. Dengan demikian, Anda semakin valid menjadi pejuang Riba sejati, semakin memanjakan dan menguntungkan bisnis pesta Riba. Anda valid menjadi penyebab bisnis pesta Riba tetap lestari.

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa apapun transaksi Anda di Bank Konvensional, maka kemungkinannya hanya ada dua, yakni (1) pesta Riba, (2) pelestari pesta Riba. Begitu juga ketika Anda punya saldo di rekening Bank Konvensional, otomatis kemungkinannya hanya ada dua juga, yakni (1) pejuang Riba, (2) pejuang Riba sejati tanpa pamrih. Satu rupiah saldo Anda, secara akuntansi dan fakta di lapangan, otomatis menjadi nyawa pesta Riba.

Demikian logika fikih biang pesta Riba. Jangan sampai Anda kampanye anti-Riba dengan malah mengajak diri sendiri dan orang lain menjadi pejuang pesta Riba dengan punya saldo di Bank Konvensional. Jangan sampai Anda kampanye perang melawan Riba dengan malah mengajak diri dan orang lain menjadi pejuang pesta Riba dengan bertransaksi apapun di Bank Konvensional.

Solusinya, menurut Fatwa No. 1 tahun 2004 itu jelas, yakni mari gunakan Lembaga Keuangan Syariah. Adalagi anggapan tidak usah berurusan dengan Bank apapun, berarti otomatis Anda pasti tidak lagi butuh uang. Ayo Ke Bank Syariah. #iLoveiB

Wallaahu a’lam.

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin