Sabtu, 23 Januari 2021
10 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Keuangan / BI Ungkap Ada Dua Poin Menuju Indonesia Maju
Foto dok. Pexels
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pun memaparkan bahwa dua poin menuju Indonesia maju

Sharianews.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pun memaparkan bahwa dua poin menuju Indonesia maju, yaitu optimis dan digitalisasi.

Optimis di sini berarti seperti yang diketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2020 membaik begitu pula proyeksi di triwulan IV, dan optimis bahwa pertumbuhan ekonomi tahun depan akan mencapai 5 persen dan lima tahun ke depan mencapai 6 persen.

“Sementara digitalisasi, merupakan salah satu kunci sumber pertumbuhan ekonomi ke depan. Selaras dengan transformasi digital yang digagas oleh Presiden RI, BI pada tahun 2019 memulai transformasi digital pada sistem pembayaran dengan meluncurkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025,” tuturnya, dalam Indonesia Fintech Summit (IFS) 2020.

Hal itu kini, disebut Perry, telah mengalami kemajuan yang luar biasa dengan serangkaian inisiatif. Pertama, QRIS yang telah mencapai lebih dari 5 juta merchant di seluruh Indonesia. Kedua, mendorong digitalisasi perbankan dan interlink dengan fintech melalui standarisasi API,

Ketiga, BI-FAST yang mendukung infrastruktur SP ritel yang real-time, 24/7, dan efisien. Keempat, reformasi pengaturan pembayaran digital. Digitalisasi sistem pembayaran berperan sangat penting untuk mendukung transformasi digital ekonomi dan keuangan.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menambahkan, digitalisasi sektor jasa keuangan harus didukung dengan iklim regulasi yang memadai untuk menghindari regulatory arbitrage dan praktik moral hazard, serta tetap melindungi kepentingan konsumen, namun tetap kondusif mendukung inovasi.

Sehingga ke depannya penting untuk disiapkan percepatan penerbitan Undang-Undang (UU) Perlindungan Data Pribadi dan UU Keamanan dan Ketahanan Siber, melakukan enhancement ketentuan dengan prinsip Same Business-Same Risks-Same Rules, memperkuat pengawasan berbasis teknologi (Suptech) bagi seluruh lembaga jasa keuangan dan perusahaan fintech, melakukan enhancement regulatory sandbox dan mengoptimalkan peran Self-Regulatory Organization seperti Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dalam pelaksanaan pengawasan market conduct.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menjelaskan bahwa IFS 2020 merupakan momentum yang tepat bagi seluruh pelaku industri fintech dan regulator terkait untuk bersama-sama saling mendukung, mengedukasi dan meliterasi keuangan digital kepada masyarakat.

Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa di bidang ekonomi digital, namun potensi ini tidak akan menjadi sesuatu yang konkrit apabila kita tidak membangun submission dan necessary condition.

“Hal ini berarti kita perlu memiliki infrastruktur yang memungkinkan untuk seluruh masyarakat agar tidak mengalami ketertinggalan. Berdasarkan riset dari World Economic Forum, potensi kita berada pada empat kunci, yakni infrastruktur, SDM, institusi, dan regulasi,” kata Sri Mulyani.

Rep. Aldiansyah Nurrahman