Kamis, 4 Juni 2020
13 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Besaran Aset Asuransi Syariah Naik Hingga Rp 42 Triliun
FOTO | Dok. www.iklankoranku.com
Jika dilihat dari nilai aset, asuransi syariah terus mengalami kemajuan. Tetapi, dari segi jumlah perusahaannya, masih stagnan.

Jika dilihat dari nilai aset, asuransi syariah terus mengalami kemajuan. Tetapi, dari segi jumlah perusahaannya, masih stagnan.

Sharianews.com, Jakarta. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang Statistik Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah Indonesia, per Mei 2018 baik swasta atau milik pemerintah, mencatatkan total aset asuransi syariah sebesar Rp 42.067 triliun.

Capaian angka pembukuan ini naik sekitar 13,77 persen dari  tahun 2017 di bulan yang sama atau setara dengan Rp 36.276 triliun.

Rinciannya adalah total aset dari asuransi jiwa syariah sebesar Rp 34.624 triliun. Dari asuransi umum syariah beserta aset Rp 5.634 triliun, dan dari reasuransi syariah atas aset Rp 1.808 triliun.

Diperkirakan, hingga akhir tahun 2018 ini, jumlah aset asuransi syariah di Indonesia akan terus mengalami kenaikan.

Produk Populer Asuransi Syariah

Menurut pengamat asuransi syariah, yang juga anggota Badan Pleno Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Endy M. Astiwara, peningkatan jumlah aset industri asuransi syariah ini antara lain disumbang dari bertambahnya pemasukan dari produk-produk yang populer digunakan oleh masyarakat, baik produk dari asuransi jiwa maupun umum syariah.

“Di antaranya, ialah jenis dari asuransi umum syariah untuk kendaraan (all risk),” Kata Endy M. Astiwara, saat dihubungi sharianews.com, terkait perkembangan asuransi syariah di Indonesia, Rabu (15/8/2018).

Beberapa produk populer lain yang menyumbang kenaikan aset adalah asuransi syariah yang diperuntukan bagi pemilik barang perseorangan, lembaga ataupun perusahaan, yang memerlukan perlindungan atas pengangkutan barang, baik itu pengangkutannya dengan menggunakan armada sendiri maupun yang menggunakan jasa perusahaan pengangkutan.

“Jenis produk asuransi syariah ini disebut dengan asuransi pengangkutan,” jelas Dosen Pasca Sarjana Institut Ilmu al Qu’an (IIQ), Jakarta, ini.     

Adapun produk yang populer dari asuransi jiwa syariah, contohnya  ialah unit link, yakni asuransi dengan dua kantong, kantong untuk proteksi dan kantung investasi. Uang premi yang dibayarkan sebagian digunakan untuk membayar proteksi dan sebagian lagi ditempatkan pada reksa dana dalam bentuk unit link.

Endy yang juga anggota Komisi Fatwa MUI ini, menambahkan, produk populer dari asuransi jiwa syariah lainnya ialah asuransi pendidikan. Yaitu memberikan perlindungan atau proteksi kepada orang tua sebagai pencari nafkah. Jenis asuransi ini juga sekaligus memberikan kepastian dana pendidikan, jika terjadi sesuatu dengan orang tua.

“Selain itu asuransi jenis ini memiliki kelebihan, yaitu waktu pencairan dapat disesuaikan dengan periode pendidikan, misal ketika masuk TK, SD, SMP, SMA dan kuliah,”terangnya.

Program jangka panjang yang diberikan secara sekaligus sebelum peserta memasuki masa pensiun, bisa diterimakan kepada janda/duda, anak atau ahli waris peserta yang sah apabila peserta meninggal dunia. Porgram asuransi syariah ini disebut dengan asuransi hari tua, yang juga populer digunakan oleh masyarakat.

“Namun, tidak semua perusahaan asuransi syariah memiliki semua produk asuransi syariah seperti yang saya sebutkan barusan. Bahkan ada yang hanya punya satu jenis produk, karena sudah merasa dapat untung banyak, misal unit link saja,” papar Endy.

Meski aset naik, jumlah perusahaan masih stagnen

“Kalau dari sisi aset, asuransi syariah terus mengalami kemajuan. Namun, jika dilihat dari segi jumlah perusahaannya, masih tetap. Antara lain, hingga saat ini belum ada lagi asuransi swasta beralih atau bermigrasi ke sistem syariah,”kata Endy M. Astiwara

Selain itu, menurutnya, belum meningkatnya jumlah perusahaan asuransi syariah ini secara umum disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, motivasi pemilik industri asuransi masih minim untuk mengkonversi perusahaannya menjadi syariah.

“Justru kesadaran para anggota manajemennya lebih tinggi dibanding pemiliknya untuk menjadikan perusahaannya sebagai syariah,” kata Endy.

Ditambah, juga masih banyak anggapan bahwa industri asuransi syariah sudah banyak pemainnya, sehingga pasarnya menjadi minim. Selain itu, kebanyakan pemilik perusahaan asuransi adalah orang asing, sehingga relatif sulit untuk diyakinkan beralih ke sistem syariah.

“Berbeda jika pemiliknya asli Indonesia, besar kemungkinan lebih mudah untuk dikonversi menjadi asuransi syariah,”lanjutnya.

Meski begitu secara umum memang masih ada kekhawatiran dari pemilik industri asuransi bakal kehilangan nasabah non-muslimnya jika perusahaannya dikonversi menjadi asuransi syariah. (*)

 

Reporter: Ehma S. Asror  Editor:Ahmad Kholil