Rabu, 20 November 2019
23 Rabi‘ al-awwal 1441 H
Home / Opini / Berkartini Zaman Now

Berkartini Zaman Now

Minggu, 21 April 2019 12:04
FOTO I Dok. Sharianews.com
Apa perbedaan mendasar posisi perempuan di zaman Kartini tempo doeloe, masa kini dan masa mendatang? Ternyata di setiap zaman  sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan cara memandang peran “kolonialisme”  dalam kehidupan perempuan.

Sharianews.com, Kita tidak asing lagi dengan sosok Ibu Kartini, atau Raden Adjeng Kartini, pahlawan perempuan kontroversial di zamannya. Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kartini. Merupakan keturunan berdarah biru, puteri Bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan selirnya (yang merupakan rakyat jelata) bernama Ngasirah, Kartini juga dikenal lewat bukunya berjudul “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) berisi 150 surat yang sebagian besar sangat sensitif untuk ditampilkan, disusun oleh sahabat Belanda-nya bernama J.H Abendanon dalam Bahasa Belanda. 

Meskipun hidup di lingkungan feodal Jawa, jiwa Kartini memberontak. Dengan kefasihan berbahasa Belanda memungkinkan dirinya terhubung dengan dunia luar untuk menyuarakan cita-citanya. Meskipun akhirnya kandas karena harus menikah atas dasar perjodohan, namun cita-cita Kartini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan tidaklah padam.

Tahukah Anda, bahwa Kartini ternyata juga memiliki jiwa bisnis.  Sejak sebelum menikah, Kartini muda mendirikan sebuah bengkel ukir kayu untuk para pemuda di Rembang, karena ia memahami betul bahwa kriya ukir kayu telah lama menjadi tulang punggung perekonomian rakyat di Kabupaten Jepara dan Rembang namun pamornya belum terangkat secara optimal.

Berkat jasanya, hingga kini kriya ukir kayu tetap bertahan sebagai ikon Kabupaten Rembang dan Jepara. Kartini telah berhasil membuktikan bahwa apa pun yang dipilih tidak akan menghalanginya untuk mewujudkan impian, meskipun jalan yang ditempuh sangat berliku.

SEMANGAT PEREMPUAN DI ERA KARTINI ZAMAN NOW

Apa perbedaan mendasar posisi perempuan di zaman Kartini tempo doeloe, masa kini dan masa mendatang? Ternyata di setiap zaman  sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan cara memandang peran “kolonialisme”  dalam kehidupan perempuan.

Perempuan di zaman Kartini tempo doeloe (kita sebut sebagai Kartini Era 1.0) sarat oleh penindasan yang dipengaruhi iklim kolonialisme dan penjajahan secara militerisme di satu sisi, dan terlarangnya dunia publik bagi perempuan. Perempuan hanya bisa berada di dunia domestik, menyuarakan kebebasan dalam hati saja, dan terlarang untuk mengenyam pendidikan setingkat laki-laki.

Sementara itu, di Kartini Era 2.0 budaya kolonialisme sudah mulai berubah, tidak lagi merupakan simbol penjajahan dan invasi, melainkan serangkaian nilai dan pemikiran yang menjajah jati diri perempuan hingga bangsanya sendiri. Peluang bagi perempuan untuk memasuki dunia publik sudah mulai terbuka pelan-pelan. Tantangan yang muncul adalah mengatasi dilemma yaitu ingin seimbang antara menjalankan peran di sektor publik dan domestik.

Kartini Era 3.0 yang didominasi generasi Milenial dan “sisa-sisa” generasi X yang melek teknologi informasi,  dihadapkan pada persoalan yang penuh tantangan sebagai warga bangsa dan manusia pada umumnya, di mana persamaan akses dengan laki-laki, kesempatan, keterbukaan justru menjadi tantangan baru supaya harkat hidupnya terangkat.  

Di era digital telah memberi kesempatan luas pada perempuan untuk tetap berada di sektor domestik namun pada saat yang sama ia juga bisa berperan sektor publik. Berkarya hingga berbisnis membantu perekonomian keluarga tanpa harus meninggalkan rumah bisa menjadi salah satu pilihan jitu. Sebaliknya, mereka yang berada di sektor publik juga tidak perlu lagi kehilangan momen mengikuti perkembangan anak dan keluarga karena setiap saat bisa terhubung dengan mereka.

Kartini Era 4.0 yang didominasi generasi Milenial dan sebagian kecil masuk generasi Z mempertanyakan eksistensi perannya di masyarakat. Tantangan yang dihadapi adalah tentang kesadaran perempuan untuk memilih menjadi apa dan siapa hari ini, dan di esok lusa, tanpa takut mendapatkan stigma negatif dari publik.

Menjadi perempuan yang cerdas, bernas, berpendidikan dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang di sekitarnya menjadi tujuan mulia generasi ini. Jangan lupa, mereka sangat bergairah dengan suatu pencapaian apabila bisa mempengaruhi orang lain – khususnya sesama perempuan – untuk melakukan hal-hal bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya, bahkan hingga ke tingkat bangsa dan seluruh dunia.

Bagaimana dengan Kartini Era 5.0? Jika society 5.0 adalah fase di mana manusia memasuki era super smart society, era di mana big data dan teknologi telah melebur menjadi satu hingga masalah sosial pun menjadi semakin kompleks. Pergerakan perempuan di era ini sangat didukung adanya digitalisasi informasi sehingga apa pun yang disuarakan perempuan dan disebarkan ke media sosial bisa secara cepat menular kepada perempuan lain.

Tidak heran suara perempuan di era ini sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan di berbagai sektor, baik sosial, ekonomi, hingga politik. Meskipun kadang-kadang partisipasi perempuan di masyarakat yang sudah cukup tinggi tidak berjalan linier dengan kualitas kehidupan dan perubahan “nasib” para perempuan di dunia nyata, sebab Konsep empowerment yang dibutuhkan perempuan bukanlah “give power” melainkan “give opportunity”.

BER-KARTINI DENGAN CARA BERBEDA

Kartini Era Millenial adalah perempuan yang harus mampu mengubah nasib hidupnya dari kebodohan menuju perubahan wawasan, pengetahuan dan kemandirian. Kartini Millenial bukan berarti berbeda dengan RA Kartini di masa lalu, akan tetapi jenis tantangan dan peluangnya yang berbeda.

Sudah saatnya perempuan di Indonesia tidak hanya memusingkan persamaan hak dengan laki-laki atas nama emansipasi. Sejatinya secara insaniah (akal, naluri dan kebutuhan jasmani) posisi perempuan dan laki-laki adalah setara atau sama, sekali pun dalam kadar tertentu mereka diperlakukan secara berbeda.

Mereka hanya berbeda ketika dilihat dari fisik dengan kekhasan mereka masing-masing, sehingga mengharuskan adanya perbedaan dalam mengatur kehidupan mereka. Adanya perbedaan ini tidak kemudian dipandang sebagai bentuk ketidakadilan, karena semua ini telah ditetapkan oleh Tuhan semata-mata demi kesucian dan ketentraman hidup manusia dengan cara saling melengkapi dan bekerjasama sesuai dengan kodrat masing-masing. Kemuliaan manusia tidak dipandang dari jenis kelamin atau kedudukan seseorang, melainkan karena ketakwaannya kepada Tuhan.

Oleh: Nastiti Tri Winasis

Tags: