Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Kamus / Berkah dalam Utang

Berkah dalam Utang

Senin, 21 Januari 2019 00:01
FOTO I Dok. wildones.wikia.com
“Belilah dan berikan kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar utangnya.”

Sharianews, Santri yang biasa ngaji Kitab Kuning, pasti tahu kitab Subulus Salam. Kitab Subulus Salam yang merupakan syarah dari Kitab Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, mengutip hadis berikut ini:

عَنْ سُهَيْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النبَِّيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ : ثَلاَثَ فِيْهِنَّ اْلبَرْكَةُ : اَلْبَيْعُ إِلَى أَجَلٍ وَاْلمُقَارَضَةُ وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ (رواه ابن ما جه)

Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda:  “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan, yakni jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah dengan sanad Dhaif).

Hadis ini merumuskan bahwa ada berkah dalam transaksi jual beli tidak tunai (utang) dan mudharabah (utang kewajiban). Hadis ini merumuskan bahwa ada berkah dalam utang.

Hadis tersebut bersanad daif, tapi jelas tidak masalah menggunakan hadis daif sebagai rujukan dalam rangka menguatkan fadhail al amal (keutamaan amal), apalagi tidak menentang dalil terkait lainnya. Alhafizh Ibnu Hajar al Asqalany malah jelas mengabadikan hadis tersebut di Kitab Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, dan tentu saja, Kitab Subulus Salam pun membedahnya. Alquran pun mengabadikan tema dan tata cara berutang dalam ayat terpanjangnya.

Mari kita cermati dalil terkait lainnya yang sejalan dengan hadis daif tersebut. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ قَالَ لأنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لا يَسْتَقْرِضُ إِلا مِنْ حَاجَةٍ

“Pada waktu peristiwa isra’, aku melihat pada pintu surga tertulis ‘Sedekah dibalas dengan sepuluh kali lipat, dan memberi utangan dibalas dengan delapan belas kali lipat’. Maka aku (Rasulullah SAW) bertanya ‘Wahai Jibril, mengapa memberi utangan lebih afdhol dibanding sedekah? Jibril menjawab ‘Karena seorang peminta-minta dia meminta sedekah padahal dia sudah mempunyai sesuatu, sedangkan orang yang berutang tidaklah ia berutang kecuali karena ia memang sangat membutuhkan.”

Hadis tersebut juga menegaskan keutamaan dalam utang piutang dibandingkan dengan amalan sedekah. Makin kuatlah rumus bahwa ada berkah dalam utang.

Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan ketika mengembalikan utang, berilah kelebihan dalam pengembalian atas utang tersebut. Hal ini semakin menguatkan adanya berkah dalam utang.

Hadis lain yang mendukung rumus tersebut adalah Hadis dari Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Rasulullah SAW:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

“Aku menemui Rasulullah SAW saat Beliau berada di masjid, lalu Beliau membayar utangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku.” (HR. Bukhari).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berutang seekor unta dari seorang laki-laki. Hingga beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut kepada Rasulullah SAW untuk menagih untanya. Lalu Rasulullah SAW meminta para sahabat untuk mencari unta semisal untuk dibayarkan kepada laki-laki tersebut. Setelah dicari kesana kemari unta yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ternyata tidak ada melainkan unta yang lebih berumur dari yang diutang oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun bersabda kepada sahabat;

فَاشْتَرُوْهُ فَأَعْطُوْهُ إِيَّاهُ فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Belilah dan berikan kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar utangnya.”

Makna dari pemberian kelebihan dalam pinjaman atau utang ini bisa berupa kelebihan yang sifatnya kualitatif maupun kuantitatif. Kelebihan pengembalian tersebut bisa berupa tambahan kebaikan yang diberikan peminjam kepada pemberi pinjaman, bisa juga berupa tambahan harta kepada pemberi pinjaman. Hal tersebut mempertegas rumus bahwa ada berkah dalam utang.

Berikutnya adalah hadis berisi fadhilah (tambahan keutamaan) bagi orang berutang yang tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Siapa yang mengambil harta manusia (berutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari).

Demikian uraian sebagian dalil tentang berkah dalam utang. Selain ada berkah dalam utang, tentu saja ada bencana dalam utang, yakni ketika pengutang tidak tanggung jawab. Wallahu a'lam. (*)

Oleh: Ustaz Ahmad Ifham Solihin Editor: Achi Hartoyo