Kamis, 12 Desember 2019
15 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Forum Milenial / Berbagi dengan Wakaf Uang, Mungkinkah?
FOTO I Dok. sharianews
Saat ini, gerakan wakaf yang banyak mendapat perhatian dari cendekiawan Muslim adalah wakaf tunai.

Sharianews.com, Wakaf adalah sedekah jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan umat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama umat .

Di zaman modern ini, salah satu bentuk dan gerakan wakaf yang banyak mendapat perhatian cendekiawan dan ulama adalah cash waqf (wakaf tunai). Wakaf tunai (Cash Wakaf/waqf al-nuqud) adalah wakaf yang diberikan oleh Muwakif/Wakif (orang yang berwakaf) dalam bentuk uang tunai yang diberikan kepada lembaga pengelola wakaf (Nazir) untuk kemudian dikembangkan dan hasilnya untuk kemaslahatan umat. sementara pokok wakaf tunainya tidak boleh habis sampai kapan pun.

Dalam sejarah Islam, cash waqf berkembang dengan baik pada zaman Bani Mamluk dan Turki Usmani. Namun, baru belakangan ini menjadi bahan diskusi yang intensif di kalangan ulama dan pakar ekonomi Islam. Dalam sejarah Islam, wakaf tunai sudah dipraktikkan sejak abad kedua Hijriyah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Imam az Zuhri (wafat 124 H), salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadis, memberikan fatwanya untuk berwakaf dengan Dinar dan Dirham agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembangunan, dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam.

Cara yang dilakukan adalah dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha (modal produktif) kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf. Kebolehan wakaf tunai juga dikemukakan oleh Mazhab Hanafi dan Maliki. Bahkan sebagian ulama Mazhab Syafii juga membolehkan wakaf tunai sebagaimana yang disebut Al-Mawardy, Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam Syafii tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham.

Kebolehan wakaf tunai sudah diatur dalam UU No 41 tahun 2004 yang belum lama ini disahkan oleh DPR RI serta berdasarkan fatwa MUI Indonesia tanggal 11 Mei 2002 yang berbunyi :
Pertama, Wakaf uang (cash wakaf/ waqf al-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
Kedua, Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
Ketiga, Waqaf uang hukumnya jawaz (boleh)
Keempat, Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syari. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan dan atau diwariskan.

Dengan diundangkannya UU No. 41 Tahun 2004, maka kedudukan wakaf menjadi sangat jelas dalam tatanan hukum nasional, tidak saja dari sisi hukum Islam (fiqh).

Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa kebolehan wakaf tunai pada tanggal 11 Mei 2002. Wakaf tunai juga sudah dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama no.4/2009 dan undang-undang nomor 41 tahun 2004 diatur dalam pasal 28 sampai pasal 31. Jadi, jangan ragu untuk menjadikan wakaf tunai sebagai salah satu pilihan untuk berwakaf.

Dengan krisis yang dialami oleh Indonesia, maka wakaf tunai ini dapat menjadi salah satu instrumen dalam program pengentasan kemiskinan. Karena dengan wakaf tunai arahnya adalah wakaf menjadi produktif dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan di bawah garis kemiskinan. Seseorang yang memiliki uang atau dana yang terbatas pun dapat melaksanakan wakaf tunai ini dengan kemampuannya. Hal ini pernah diungkapkan oleh KH Tholchah Hasan, Ketua Umum BWI, bahwa saat ini berwakaf tidak harus menjadi kaya terlebih dahulu, berapa pun dapat berwakaf tidak dibatasi.

Nah, dengan semikian, wakaf tunai bisa dilakukan oleh siapapun meski dana yang dimiliki cukup terbatas. Karena wakaf tunai ini memberi jalan kepada kaum muslimin yang ingin berwakaf, meskipun ia bukan dari golongan aghniya (orang kaya).

Melihat perkembangan sistem perekonomian yang berkembang sekarang, sangat mungkin untuk melaksanakan wakaf tunai. Misalnya uang yang diwakafkan itu dijadikan modal usaha seperti yang dikatakan oleh mazhab Hanafi, atau diinvestasikan dalam wujud saham di perusahaan yang tepercaya, atau didepositokan di perbankan syariah, kemudian keuntungannya disalurkan sebagai hasil wakaf.

Wakaf tunai yang diinvestasikan dalam wujud saham atau deposito. Wujud atau lebih tepatnya nilai uang tetap terpelihara dan menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu lama. Kebolehan wakaf tunai ini telah ditetapkan pada konferensi ke-15, Majma al-Fiqh al-Islami OKI, no: 140, di Mascot, Oman, pada tanggal 14-19 Muharram 1425 H/ 6-11 Maret 2004 M.

Pengelolaan wakaf surat berharga yang berbentuk saham dan obligasi terbuka ditujukan untuk memaksimalkan perolehan deviden (bagi hasil), serta pengembangan portofolio untuk menghindari terjadinya aset yang default. Deviden atau bagi hasil yang diperoleh menjadi surplus yang akan didayagunakan untuk program-program sosial sesuai peruntukannya (pendidikan, kesehatan, pemberdayaan).

Mengutip dari Kontan.co.id News Data Financial Tool. Jakarta 2017 - Dengan semangat membangun peradaban yang lebih baik melalui instrumen wakaf, Global Wakaf Corporation (GWC) kembali menyelenggarakan Waqf Business Forum (WBF), Kamis 19 oktober 2017 Berlangsung di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, acara tersebut dihadiri oleh 84 perusahaan yang tergabung dalam Komunitas Tangan di Atas serta sejumlah individu. Presiden Global Islamic Philanthropy (GIP) Ahyudin, Presiden Direktur GWC Imam Teguh Saptono, serta Direktur Bisnis GWC J.E. Robbyantono turut hadir sebagai pemateri WBF.

Sebagaimana mengutip dari laman act.id, Jumat, 20 Oktober 2017 Waqf Business Forum menekankan pentingya wakaf dalam menjawab masalah kesejahteraan umat serta krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Dalam paparannya, Ahyudin mengungkapkan, apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini tidak lagi terbatas pada praktik zakat, infak, dan sedekah. Lebih dari itu, problematika umat membutuhkan praktik wakaf yang luas.

Ia menambahkan, wakaf tidak hanya menebarkan maslahat luas dan menjadi solusi bagi masalah kesejahteraan umat. Wakaf juga menjadi cara umat Islam untuk mengabadikan hartanya hingga ke akhirat.

“Umat Islam belum dikatakan hebat jika belum ‘melepaskan’ hartanya dan membawanya ke akhirat. Bagaimana caranya? Wakaf!” seru Ahyudin.

Dalam diskusi forum tersebut, dijelaskan pula bagaimana wakaf produktif mampu menjadi energi atau penggerak produktivitas umat. Presiden Direktur Global Wakaf Corporation Imam Teguh Saptono mengungkapkan, sebagai bagian dari Global Islamic Philanthropy, GWC telah menggalakkan urgensi wakaf produktif. Dalam hal ini, GWC memfokuskan pada pengelolaan wakaf saham.

Menurut Imam, sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa jenis wakaf, seperti wakaf lahan yang dijadikan pemakaman maupun masjid. Padahal di masa Rasulullah, wakaf bersifat lebih dari itu, yakni produktif. Misalnya saja, kebun kurma yang diwakafkan Umar bin Khattab dan sumur yang diwakafkan Usman bin Affan.

Wakaf saham menjadi aset wakaf yang bisa diproduktifkan. Perusahaan-perusahaan bisa mewakafkan sekian persen sahamnya melalui nazir (lembaga pengelola wakaf) yang terpercaya.

“Di GWC sendiri, perusahaan yang berniat berwakaf saham bisa mewakafkan 10 persen sahamnya. Setelah diwakafkan, saham tersebut telah lepas kepemilikan dan menjadi milik Allah dan akan dikelola GWC,” papar Imam.

Ia juga menerangkan bagaimana status saham yang telah diwakafkan akan selamanya milik Allah. Dengan kata lain, saham tersebut tidak bisa dialihkan, diperjualbelikan, maupun diwariskan.

Hasil dari pengoptimalan saham yang diwakafkan tersebut akan disalurkan kepada para penerima manfaat (mauquf alaih). Dalam hal ini, penyaluran keuntungan dari pengelolaan wakaf saham akan didistribusikan untuk program-program kemanusiaan, hasil kerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Sejak diluncurkan September lalu, Waqf Business Forum menjadi wadah edukasi wakaf produktif, khususnya wakaf saham. Dari serangkaian forum diskusi yang diselenggarakan, setidaknya 25 perusahaan telah mengikrarkan pihaknya untuk berwakaf saham melalui GWC.

JAKARTA 13 Mei 2019, dalam rangka milad yang ke 19 tahun, salah satu Organisasi di Indonesia yang bergerak di bidang Ekonomi Islam atau dikenal dengan FoSSEI ( Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam ) mewakafkan 19 Lot Saham Bank BRI syariah dengan kode saham BRIS melalui Philip Sekuritas dan di salurkan melalui Dompet Dhuafa di mainhall Kantor IDX Jakarta pusat sekaligus melaksanakan pembukaan perdagangan saham pada pukul 09.00 yang di pandu langsung oleh ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) pusat.

Tak bisa dimungkiri, peran wakaf dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan makin dirasakan urgensinya. Di Indonesia sendiri, sosialisasi dan praktik wakaf produktif sudah mulai gencar digerakkan. (*)

 

Oleh: Rika Armita Editor: Achi Hartoyo