Rabu, 27 Oktober 2021
21 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Lifestyle / Berantas Pemalsuan Pangan, Ketelusuran Pangan dan Pembuktian Keaslian Pangan Diperlukan
Foto dok. Pexels
Pemalsuan pangan atau food fraud terjadi di tengah masyarakat. Dampaknya, pemalsuan tak hanya merugikan masyarakat sebagai konsumen, melainkan juga pelaku usaha.

Sharianews.com, Jakarta - Pemalsuan pangan atau food fraud terjadi di tengah masyarakat. Dampaknya, pemalsuan tak hanya merugikan masyarakat sebagai konsumen, melainkan juga pelaku usaha.

Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Ratna Irawati menjelaskan pemalsuan pangan adalah upaya sengaja mengganti, menambah, mengubah atau merepresentasikan secara keliru suatu bahan dan/atau produk pangan, kemasan pangan, serta memberikan informasi tidak benar pada label, untuk tujuan menipu konsumen demi keuntungan ekonomi.

“Karena menyangkut keamanan, mutu dan gizi pangan, kepatuhan terhadap regulasi serta daya saing ekonomi, maka diperlukan tindakan antisipasi pemalsuan pangan berupa sistem ketertelusuran pangan (food traceability) dan pembuktian keaslian pangan (food authentication),” jelasnya dalam webinar halal dengan tema Food Fraud Prevention, dari Izin Edar hingga Label Halal, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman mengatakan bahwa traceability harus disusun dan dimonitor kefeektifannya oleh pelaku usaha di sepanjang rantai pangan (produsen, importir, dan/atau distributor).

“Seiring dengan era teknologi industri 4.0, besarnya informasi yang dapat diperoleh dengan kecepatan yang optimal, mampu meningkatkan efektifitas ketertelusuran dari semua tahapan supply chain, mulai dari bahan baku, proses, pengiriman produk hingga sampai ke konsumen,” jelasnya.

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Tags: