Rabu, 30 September 2020
13 Ṣafar 1442 H
Home / Sharia insight / Belajar dari Wakaf Sumur Utsman Bin Affan r.a
Pembelajaran yang menginspirasi dari kisah Utsman r.a adalah mengajarkan bahwa kolaborasi iman, ilmu (pengetahuan), dan amal perlu menjadi satu kesatuan untuk meruntuhkan bangunan kapitalis yang ada dan menjadi momentum kekuatan Ekonomi Islam.

Sharianews.com, Sekitar 14 abad silam, masyarakat Madinah mengeluh kesulitan kepada Rasulullah SAW ketika terjadi kekeringan. Di masa kekeringan itu, satu-satunya sumur yang tersisa untuk mencukupi kebutuhan air penduduk Madinah adalah sumur milik warga Yahudi. Sayangnya, eksploitasi sumur oleh warga tersebut membuat penjualan air menjadi sangat mahal kepada masyarakat. Kaum Muslimin dan penduduk Madinah lainnya harus antri dan membayar mahal untuk air bersih. Prihatin dengan kondisi tersebut, Rasulullah saw pun bersabda: “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala,” (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah langsung ditanggapi sahabat Utsman bin Affan ra, beliau bertekad membeli sumur tersebut. Singkat cerita negosiasi terjadi antara Utsman ra dan warga pemilik sumur tersebut. Utsman ra kemudian berhasil membeli sumur tersebut dengan setengah kepemilikan. Utsman ra bersepakat dengan pemilik sumur bahwa penguasaan sumur dilakukan secara bergantian hari. Utsman ra langsung menyerukan kepada penduduk Madinah untuk memanfaatkan air sumurnya secara gratis sekaligus menghimbau memanfaatkanya untuk masa keperluan dua hari, karna hari esoknya sumur telah dimiliki oleh pemilik awal tadi. Strategi tersebut berhasil memberikan kerugian bagi pemilik awal sumur hingga pada akhirnya ia menjual sisa setengah kepemilikan sumur tersebut kepada Utsman bin Affan ra. Akhirnya sumur itu dibeli oleh Utsman ra dan diwakafkan untuk kebermanfaatan penduduk Madinah kala itu.1         

Perilaku Kapitalis dalam Kisah Sahabat Utsman

Pembelajaran pertama dari kisah sahabat Utsman ra adalah memahami pola perilaku kapitalis yang sekarang telah menghegemoni sistem perekonomian dunia. Berbicara kapitalis artinya bicara individu atau subjek dari produk Sistem Ekonomi Kapitalis. Produk individu dari sistem tersebut tergambar dari kisah sahabat Utsman bin Affan ra dengan perilaku self interest, penumpukan modal atau kekayaan dan eksploitasi sumber daya alam guna meraih sebesar-besar keuntungan pribadi. Self Interest atau kepentingan individu adalah bagian dari corak kapitalisme yang dihalalkan. Catatan Kapitalisme membenarkan perilaku tersebut sebagai bagian optimalisasi produksi dan faktor motivasi. Saat perilaku tersebut dibatasi, maka hasilnya adalah jurang kelangkaan. Pembatasan ini dapat menghalangi faktor motivasi yang memacu produktivitas dalam berproduksi. Lebih jelasnya self interest melihat sesuatu atas kepentingan diri untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya (penumpukan modal/kekayaan). Kisah sahabat Utsman ra dengan pemilik sumur awal memberikan gambaran lebih jelas atas ciri-ciri tersebut.

Perilaku Islamic Man Pada Kisah Utsman sebagai Solusi Hegemoni Kapitalisme

Berbalik dengan individu produk kapitalisme yang mengutamakan kebebasan individu dengan orientasi kepentingan diri (self Interest), Islamic Man adalah pribadi yang dicirikan dan digambarkan melalui sahabat Utsman bin Affan ra. Dimana orientasi ekonomi adalah kemaslahatan banyak orang. Pembelajaran kedua dari sirah sahabiyyah ini adalah cerminan perilaku Utsman bin Affan ra yang tertuang dengan kata kunci berikut ; Maslahah oriented dan Pemerataan Distribusi Kekayaan. Seperti ini cara  ekonomi syariah mengatur individunya dalam aktivitas ekonomi. Ketika seorang individu memiliki orientasi kemaslahatan, maka pertimbangan atas berbagai aktivitas ekonominya didasarkan selain pada kepentingan individu juga pada kepentingan masyarakat luas. Sebagai contoh dalam kisah kesulitan air tersebut, saat itu pertimbangan terbaik adalah memberikan air dengan harga murah kepada penduduk yang secara ekonomi sedang dalam masa kesulitan akibat kekeringan. Sebaliknya ketika perilaku individu yang tercipta hanya fokus kepada kepentingan individu saja, maka menjadi sesuatu yang wajar jika kelangkaan dapat menciptakan tarif tinggi karena saat itu permintaaan sedang besar (sesuai hukum pasar).

Kunci Kesuksesan Merebut Kekuasaan Kapitalis pada Kisah Utsman bin Affan r.a

Pembelajaran selanjutnya dari kisah Utsman ra adalah mengajarkan bahwa kolaborasi iman, ilmu (pengetahuan), dan amal perlu menjadi satu kesatuan untuk meruntuhkan bangunan kapitalis. Utsman bin Affan ra begitu yakin terhadap sabda Rasulullah yang menjanjikan kebaikan akhirat atas usahanya merebut kepemilikan sumur, disinilah letak kunci iman. Selanjutnya, beliau juga memiliki kemampuan dan pengetahuan bernegosiasi yang mumpuni, maka disinilah kunci pengetahuan. Selanjutnya, yang menyempurnakan ikhtiar adalah amal dengan manifestasinya sumbangan harta. Dalam konteks amal, harta juga diperlukan sebagai objek wakaf yang dapat menjadi amal jariyah. Atas dasar ketiga aspek tersebut hikmah sirah sahabiyyah ini menunjukkan bahwa kolaborasi Iman, Ilmu, dan Amal menjadi kunci dalam pembangunan dinasti kemaslahatan ummat.

Mari Berjuang!

Kesimpulan dari hikmah kisah sumur Utsman bin Affan ra ini adalah perilaku kapitalis sejatinya sudah ada sejak jaman dahulu. Pada konteks kekinian, perilaku tersebut menjadi bungkusan ilmu pengetahuan yang selanjutnya termanifestasi dalam sebuah sistem. Saat ini produknya telah banyak dapati, seperti saat keran globalisasi terbuka lebar sebagai bagian agenda untuk memperlancar keran eksploitasi negara-negara dengan pemilik modal. Hal ini membuat distribusi kekayaan mengalir dari negara miskin kepada negara maju. Perdagangan bebas diperjuangkan dengan dalih pertumbuhan ekonomi nasional dan global. Wacana itu bisa jadi benar namun, ukurannya terlampau bebas sehingga malah membuat ketergantungan negara miskin kepada hutang dan negara-negara maju menjadi semakin besar melalui rantai supply chain global. Pada akhirnya, tidak terbentuk kesejahteraan bagi makhluk bumi secara keseluruhan melainkan karena hanya sekelompok orang kaya pada negara miskin dan kemakmuran bagi negara-negara maju melalui alat swastanya. Akibatnya, ketimpangan ekonomi melebar dengan penguasaan setengah kekayaan bumi oleh sangat sedikit manusia tanpa diiringi kemashlahatan bagi orang banyak .

Maka, menjadi langkah kecil namun sangat kontributif jika ada gerakan nasional bahkan global untuk menjadi salah satu solusi dalam pemecahan permasalahan ini. Pada wakaf, pemanfaatan kekayaan berpindah dari individu atau sekelompok menjadi kepentingan banyak orang. Selain itu, wakaf lebih diarahkan untuk sektor ekonomi produktif, tidak hanya terpusat di sektor sosial. Hal ini agar menambah kebermanfaatan dan kemampuannya dalam pemecahan masalah ekonomi umat saat ini. Sama halnya seperti wakaf sumur Utsman bin Affan ra. Sumur ini kondisinya kekal hingga sekarang. Mari bertekad menumbuhkan wakaf untuk beragam asset publik agar pemanfaatannya bisa dijangkau masyarakat ekonomi bawah. Tumbuhkan wakaf untuk akses pendanaan usaha mikro, ataupun wakaf dalam bentuk hutan, agar tidak melulu tergurus oleh badai kepentingan kapitalis. Hal demikian bukanlah utopis belaka, karena faktanya sejarah telah mencatat kesuksesan wakaf dalam sirah sahabiyyah. Semoga Allah kuatkan untuk membangun kejayaan Islam melalui wakaf! Aamin.

 

 

Oleh: Andi Firmansyah & Yekti Mahanani