Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Keuangan / Begini Nasib Industri Asuransi Syariah Kala Pandemi
Tidak semua sektor terpukul telak saat pandemi Covid-19, hal itu terjadi dalam dunia asuransi, karena industri asuransi adalah sisi lain mata uang risiko.

Sharianews.com, Jakarta - Tidak semua sektor terpukul telak saat pandemi Covid-19, hal itu terjadi dalam dunia asuransi, karena industri asuransi adalah sisi lain mata uang risiko.

Pakar Asuransi Syariah Agus Edi Sumanto mengatakan saat risiko muncul, industri asuransi terbiasa dan sifat bisnisnya adalah mengelola risiko.

“Ketika muncul risiko saat pandemi, itu adalah peluang. Pesawat tidak bisa terbang, kapal tidak bisa berlayar dan satelit tidak bisa dluncurkan jika tidak diasuransikan,” ujarnya menegasakan, kepada Sharianews.com, akhir pekan kemarin.

Sementara itu, Founder Taksasila Edukasi Insani Andry Priharta memaparkan dampak pandemi Covid-19 dalam kehidupan. Pertama, Covid-19 memaksa masyarakat dunia tinggal di rumah. Kedua, perubahan ekstrem bidang pendidikan, budaya, sosial dan ekonomi. Ketiga, industri terpaksa mengambil keputusan untuk karyawannya masuk kerja bergantian, dirumahkan, atau memberhentikan. Keempat, permintaan barang dan jasa berkurang, karena pusat perbelanjaan tutup, pasar terbatas, hanya belanja skala prioritas.

“Makro ekonomi Indonesia terganggu, bagaimana asuransi syariah, sepanjang 2019 total aset industri asuransi syariah senilai Rp 45,45 triliun meningkat 8,44 persen dibandingkan akhir tahun 2018 senilai Rp41,91 triliun. Aset asuransi syariah ditargetkan tumbuh hingga 10 persen di tahun ini,” jelas Andry, dalam seminar daring bertajuk Peluang dan Tantangan Asuransi Syariah saat krisis Ekonomi.

Aset asuransi syariah terhadap industri asuransi per November 2019 sebesar 6,17 persen. Memang belum dominan, pangsa pasar baru 6,8 persen.  Peluang besar bagi asuransi syariah, ada 270 juta warga Indonesia, 75 persen adalah muslim, potensi besar bagi industri syariah.

Namun, menurut Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia (KCI) Adiwarman A Karim, keberhasilan dalam industri syariah tidak hanya besarnya pangsa pasar atau besarnya aset, tetapi ada ukuran lain.

Ukuran itu diantaranya adalah seberapa banyak orang yang terlibat, sejauh mana memberikan manfaa, dan seberapa besar bisa membawa orang berhijrah. Tercatat nasabah produk asuransi syariah di Indonesia sebesar 40 juta orang. Ini melampau populasi di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Bahrain.

Lebih lanjut, Adiwarman menyampaikan ada empat tantangan yang dihadapi, mengapa asuransi syariah. Pertama, asuransi belum menjadi prioritas, khususnya menengah kebawah. Kedua, kurangnya literasi tentang asuransi, apalagi asuransi syariah. Ketiga, produk syariah yang realatif belum berbeda jauh dengan konvensional. Keempat, hijrah belum seutuhnya menjadi pertimbangan dalam memilih produk asuransi.

Yoga Prasetio, Managing Director Sharia Allianz Life Indonesia, melanjutkan pandemi membuka kesadaran tentang pentingnya proteksi. Meski begitu pangsa syariah tidak bergerak dari 6 persen

“Seharusnya masih terbuka banyak peluang dengan memanfaatkan positioning dan diferensiasi produk. Tantangannya masih ada persepsi negatif tentang asuransi,” imbuh Yoga.

Salah persepsi terhadap asuransi syariah, karena dimulai dari anggapan bahwa produk asuransi identik dengan investasi dan tabungan, masyarakat tidak siap saat risiko investasi terjadi. Padahal asuransi adalah instrumen untuk melindungi nilai ekonomi. Maka kenali jenis asuransi, fahami cara kerja, pilih sesuai kebutuhan.

Yoga menjelaskan asuransi syariah lebih adil, karena risiko dibagi antara pengelola (perusahaan asuransi) dan masyarakat. Masyarakat mengumpulkan dana untuk saling tolong menolong diantara peserta.

Rep. Aldiansyah Nurrahman