Sabtu, 19 Oktober 2019
20 Ṣafar 1441 H
Home / For Beginners / Beda Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
FOTO | Dok. finansial.bisnis.com
Perbedaan asuransi syariah dan konvensional masih menjadi pertanyaan kalangan awam.

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional masih menjadi pertanyaan kalangan awam.

Sharianews.com, Jakarta. Hingga saat ini beda asuransi syariah dan konvensional masih menimbulkan tanya di kalangan awam. Tidak sedikit yang ragu dan bingung untuk ikut program asuransi syariah karena pengetahuan terkait perbedaan yang belum dipahami ini.  

Terkait dengan hal ini, Dewan Pengawas Syariah (DPS), Dana Pensiun Lembaga Keuangan, (DPLK) Bank Muamalat, Ahmad Nuryadi menjelaskan beda asuransi syariah dengan konvensional dapat dilihat dari sumber rujukannya.

Jika asuransi syariah merupakan bagian dari penafsiran terhadap nilai-nilai dalam ayat Al-Quran dan sunah Nabi, asuransi konvensional tidak demikian. Asuransi syariah bagian dari implementasi penjelasan para sahabat Nabi dan para fuqoha' terhadap teks nash Al-Quran maupun sunah Nabi, sementara asuransi konvensional hasil pemikiran murni berdasar kebutuhan dan kepentingan manusia. 

Lebih simpelnya, asuransi syariah adalah asuransi yang sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional, No:  21/DSN-MUI/X/2001, tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Menurut fatwa DSN-MUI, ini yang dimaksud dengan asuransi  syariah   (ta’min,  takaful  atau  tadhamun) adalah  usaha  saling  melindungi  dan  tolong-menolong  di  antara sejumlah  orang/pihak  melalui  investasi  dalam  bentuk  aset  dan /atau  tabarru’  yang  memberikan  pola  pengembalian  untuk  menghadapi  resiko  tertentu  melalui  akad  (perikatan)  yang  sesuai  dengan  syariah.  

Akad  yang  sesuai  dengan  syariah  yang  dimaksud  adalah  yang  tidak  mengandung  gharar  (penipuan),  maysir   (perjudian),  riba,  zhulm  (penganiayaan),  risywah (suap), barang  haram  dan  maksiat. 

“Sementara asuransi konvensional adalah suatu bisnis yang prinsip-prinsip dasar yang diterapkannya bukan dari wahyu Ilahi, tidak mengacu Kitab Suci Al Quran dan Nabi,” jelas Nuryadi, di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Lebih lanjut, Nuryadi mengungkapan sistem konvensional diambil dari kesepakatan antar manusia atau musyawarah antar lembaga, menyangkut hal atau kesepakatan apa yang dituangkan dalam dokumen resmi.

Standar nilai dan kemanfaatanya pun sama sekali tidak mengacu kepada nilai-nilai yang diambil dari kitab suci, tetapi dari kebiasaan dan kepentingan yang disepakati berlaku menurut kebiasaan manusia.   

“Jadi, hanya dari dasar pemikiran manusia. Tergantung siapa yang berkumpul di dalam organisasi tersebut. Misalnya, jika orang-orang yang suka sambal, makan pedas, maka makanan yang paling bagus adalah sambal,”ujarnya.

 

Unsur bisnis dan tolong-menolong 

Perbedaan lainnya, asuransi syariah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan DPS. Sementara asuransi konvensional hanya diawasi oleh OJK.

“Lalu, akad dalam transaksi konvensional adalah jual beli. Seperti pertukaran, contohnya bila orang membayar air mineral Rp 5 ribu, kemudian dapat satu botol,” kata Nuryadi.

Sementara, dalam syariah adalah tolong-menolong, saling menolong antar anggota masyarakat, saling memberikan kontibusi dari derma, berupa dana tabarau’ ( dana yang berasal dari kontribusi peserta, yang dimaksudkan untuk tujuan kebajikan, saling tolong-menolong atau santunan-red), yang disesuaikan dengan hitungan under writing ( proses identifikasi dan seleksi faktor risiko) dari pihak pengelola.

“Prinsip secara investasi dana, asuransi syariah, berdasarkan prinsip syariah dan akad syariah. Jadi dana yang kita sumbangkan ini merupakan hibah. Kontribusi dan dana hibah ke satu pihak, kemudian ada investasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, investasi dana syariah, sudah ada DPS-nya, yang apaabila terjdi pelanggaran akan dikenai sanksi atau denda oleh OJK," katanya.

Sehingga, dana hibah itu dikelola, prinsipnya setiap orang yang memberikan hibah tidak boleh berharap pengembalian, hanya berharap ridho Allah. “Prinsipnya seperti orang saling mendoakan,” imbuhnya.

Dengan begitu, dana yang terkumpul menjadi dana milik bersama, bukan milik pengelola atau dapat dikatakan dana yang terkumpul merupakan milik peserta asuransi, perusahaan hanya sebagai pemegang amanah,”

Dibandingkan dengan konvensional, dalam hal kepemilikan dana, asuransi konvensional, dana yang terkumpul menjadi milik perusahaan. Perusahaan bebas untuk menentukan investasinya.

Secara pembayaran iklim, tambah Nuryadi, asuransi syariah dari dana tabarru’ seluruh peserta yang sejak awal telah mengikhlaskan, bahwa ada penyisihan dan yang akan dipakai sebagai dana tolong-menolong di antara peserta jika terjadi musibah. Sementara konvensional berasal dari rekening dana perusahaan.(*)

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil