Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Bayarlah, Walau Riba!

Selasa, 9 Oktober 2018 17:10
ILUSTRARI FOTO | Dok. penapembaharu.com
Jika kita masih mau disebut sebagai orang beriman. Ketika punya hutang, bayarlah.

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Ada Ustadz yang menyatakan bahwa Hutang Riba itu tidak boleh dibayar karena merupakan transaksi yang diharamkan. Bagaimana menurut pendapat Ustadz?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Iwan, tinggal di Pangkalanbun.

 

Jawaban:

Sdr. Iwan yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan di Lembaga Keuangan Syariah saja. Amin.

Islam mengajarkan kita untuk tanggung jawab. Al Maidah ayat 1 memaksa kita untuk menunaikan kewajiban, termasuk kewajiban membayar hutang. Itu jika kita masih mau disebut sebagai orang beriman. Ketika punya hutang, bayarlah.

Ada sebagian Ustadz berpendapat bahwa kita tidak wajib membayar hutang jika terlanjur berhutang Riba. Ajaran ini sama saja merendahkan ajaran Islam. Atau, bisa saja publik salah tangkap dengan perkataan sang Ustadz.

Sebelumnya mari perhatikan logika sederhananya, tapi harus siap konsisten serasi.

Ketika Anda merintis usaha bisnis dengan bantuan Bank Konven, usaha makin lama makin besar, begitu Anda merasa sudah punya cukup ilmu Muamalah kemudian ingin Hijrah dengan cara tidak mau bayar hutang Riba, kenapa tidak Anda serahkan saja seluruh aset yang pernah dibiayai oleh transaksi Riba? Kenapa Anda egois hanya mau menikmati hasil pesta Riba tanpa mau tanggung jawab bayar hutang Riba?

Buat siapapun Anda yang berkeyakinan bahwa ketika Anda tidak mau membayar hutang Riba, jika Anda taat logika, silahkan serahkan semua aset kepada Bank Riba. Silahkan Anda serahkan semua manfaat yang hadir atas keberadaan usaha Anda selama bertahun-tahun, misalnya berhasil membiayai anak sekolah, membiayai Haji, membiayai pengobatan, membeli rumah, dan lain-lain, serahkan semuanya yang senilai kepada Bank Konven. Itu semua yang Anda nikmati, hadir berkat pesta Riba Anda bareng Bank Konven. Kembalikan, jika siap konsisten dengan logika Anda.

Siapkah begitu? Jika siap, silahkan. Jika tidak siap, silahkan tetap bayar hutang.

Solusi menurut Islam

Islam sudah memberikan solusi bahwa ketika Anda terlanjur berhutang di Bank Konven, sebagai warga negara yang taat hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka bayarlah hutang sebagaimana yang tercantum dalam kontrak legal dengan Bank Konven. Hukumnya wajib taat Ulil Amri.

Ingat, bahwa hukum NKRI itu mengikat kepada setiap warga negara dan menghilangkan khilaf yang tidak perlu (hukmu al haakim ilzaamun wa yarfa'u al khilaaf). Saya yakin, Anda sebenarnya tidak berniat makar terhadap hukum NKRI. Begitu Anda sudah terikat suatu kontrak legal, maka Anda harus menunaikan kewajiban sesuai kontrak legal tersebut.

Andai Anda berpendapat bahwa Umara Dewan atau NKRI ini melakukan kezhaliman karena merestui keberadaan Bank Konvensional yang sudah difatwakan haram oleh Ulama Dewan, maka justru itu menjadi tugas Anda untuk mengubahnya secara legal formal juga, sesuai hukum positif. Tugas Anda yang melihat (hal tersebut) untuk meluruskannya, bukan tugas orang lain. Jika tidak mampu melakukan hal itu, cukup Anda diam mengingkarinya, agar masih termasuk dalam golongan orang beriman.

Bahkan, agama merumuskan bahwa ketika ada pemimpin negara yang zhalim, silahkan Anda taati dengan Anda terus berusaha dengan baik untuk mengingatkan pemimpin itu agar tidak zhalim.

Akhirnya, sebenarnya rumusnya sederhana sekali ketika Anda sudah terlanjur punya Hutang Riba, ya lunasi hutang itu, trus jangan Anda ulangi. Insya Allah harta yang Anda nikmati selama ini dari hasil pesta Riba, masuk perut Anda dan anak istri sebagai makanan, digunakan sebagai bekal hidup anak istri, digunakan untuk kebutuhan Anda selama bertahun-tahun, kebutuhan pendidikan, pengobatan, ibadah Haji, Umrah dan lain sebagainya, Insya Allah dimaafkan Allah, tak perlu dikembalikan ke Bank Konvensional.

Ingat bahwa Rasulullah SAW merumuskan bahwa ada barakah dalam hutang, dan ada bencana dalam hutang. Kunci utama keberkahan hidup adalah miliki mental amanah. Bayarlah hutang, walau Riba. Lunasi, take over ke Lembaga Keuangan Syariah, atau angsur sampai lunas. Insya Allah hidup kita berlimpah barakah dari Allah SWT. Wallahu a'lam. (*)

 

ShariaCorner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin