Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x

Bayarlah Bunganya!

Senin, 5 November 2018 10:11
Terlanjur memiliki pinjaman di bank konvensional dan baru menyadari ada unsur ribanya? Bagaimana solusinya? Apakah harus membayar hutang pokok sekaligus bunganya? Ini dia jawabannya...

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Ada Ustadz yang menyatakan bahwa ketika kita menjadi nasabah kredit di bank konvensional, dan menggunakan akad kredit berbunga, maka yang merupakan hutang dan wajib dibayar adalah Pokok Kredit-nya saja. Bunga-nya tidak wajib dibayar.

Ada juga yang bilang bahwa dalam akuntansi, yang merupakan hutang adalah pokok kreditnya, sedangkan bunga bukanlah hutang, jadi yang wajib dibayar adalah pokok kreditnya saja. Bagaimana menurut pandangan Ustadz Ifham?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Ammi, tinggal di Jogjakarta.

Jawab:

Sdr. Ammi yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah SWT agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Sangat positif jika seseorang terlanjur bertransaksi dengan skema kredit bersyarat bunga bagi si pemberi kredit, sebagaimana yang dipraktikkan di Bank Konvensional, asalkan tak terulang dan mengusahakan solusi terbaik sesuai arahan Fatwa MUI dan Fatwa DSN MUI.

Transaksi kredit bersyarat bunga di Bank Konvensional valid disebut dengan Riba, sesuai Alquran Hadits dalam tafsiran Fatwa MUI No. 1 tahun 2004. Fatwa tersebut memberikan solusi agar kita menggunakan Lembaga Keuangan Syariah.

Ketika kita terlanjur melakukan transaksi kredit bersyarat bunga tersebut, berarti kita sudah terlanjur terikat kontrak dengan Ulil Amri bagian Umara, yakni legal formal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlu kita ketahui bahwa di NKRI ini berlaku hukum positif perbankan konvensional dan hukum positif perbankan syariah.

Kedua jenis aturan tersebut harus ditaati. Masing-masing ada aturannya. Jika sudah terlanjur kontrak legal dengan NKRI kok kita melawannya, maka berarti kita sedang melawan NKRI. Makar terhadap NKRI.

Jika sudah terlanjur transaksi kredit bersyarat bunga tersebut, DSN MUI sudah memberikan solusi agar kredit bersyarat bunga di Bank Konven dialihkan ke pembiayaan di lembaga keuangan syariah, seperti bank syariah. Hal tersebut sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 31 tentang Pengalihan Hutang dan Fatwa DSN MUI No. 89 tentang Pembiayaan Ulang. Yang pasti, DSN MUI tidak memberikan solusi agar ngemplang (tidak bayar hutang).

DSN MUI pasti tidak serampangan dalam memberikan solusi. Di balik solusi yang diberikan DSN MUI tersebut pasti sudah berdasarkan kajian mendalam terkait dengan ushul fikih dan tashowwur praktiknya di semua lini. Solusi yang disampaikan merupakan hasil Fatwa Ulama Dewan, bukan sekedar pendapat Ulama Dewean (sendirian).

Namun, ada saja pihak tertentu yang melawan solusi dari DSN MUI dan NKRI tersebut dengan kampanye agar nasabah tidak bayar bunga kredit. Ada kampanye bahwa yang merupakan hutang adalah pokok hutangnya, bukan bunga hutangnya. Menurut sebagian kalangan ada yang berpendapat bahwa hutang adalah pokoknya, bukan bunganya, sehingga mereka berpendapat bahwa bunga bukanlah kewajiban.

Anggapan seperti ini tanpa dasar yang jelas. Padahal secara akuntansi (sebagai bukti sangat kuat atas keabsahan transaksi) bahwa yang dimaksud dengan hutang di Bank Konvensional adalah semua kewajiban, baik kewajiban pengembalian pokok maupun kewajiban bayar bunga. Jadi, pokok dan bunga merupakan kewajiban.

Dengan demikian, ketika misalnya Anda memiliki kewajiban di Bank Konvensional, bayarlah semua kewajiban pokok kredit dan bunganya, agar tidak valid disebut dengan makar terhadap hukum legal formal NKRI.

Ada yang berpendapat lagi bahwa transaksi kredit bersyarat bunga di Bank Konvensional kan merupakan transaksi Riba. Riba kan haram, berarti harus ditinggalkan? Jika berpikir demikian, silahkan putar kembali dunia dan takdir. Ulangi hidup Anda, jangan lakukan transaksi berbasis bunga tersebut. Padahal yang mampu melakukan hal itu tentu cuma Tuhan, hanya Allah SWT. Oleh sebab itu, jika sudah terlanjur transaksi, jadilah muslim tanggung jawab. Selesaikan urusan legal formal dalam naungan NKRI. Agar tidak liar.

Saran untuk rekan-rekan yang sudah terlanjur kontrak kredit berbasis riba dan ingin agar tidak dikenakan bunga, maka ajukan saja keringanan pembayaran marjin. Jika tidak dikabulkan, ikhlaslah. Tunaikan kewajiban, atau alihkan ke lembaga keuangan syariah. Ke depan, jangan diulang lagi. Wallahu a’lam.(*)

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin