Kamis, 21 Maret 2019
15 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. sharianews.com
Wakil Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Taufik Aljufri menjelaskan, penyebab sedikitnya fintech syariah dikarenakan rumitnya masalah regulasi. 

Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) mencatat baru ada tiga fintech syariah yang telah diregistrasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dari total 99 fintech syariah yang sudah teregistrasi, di mana sisanya sebanyak 96 fintech merupakan fintech konvenisonal.

Wakil Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Taufik Aljufri menjelaskan, penyebab sedikitnya fintech syariah dikarenakan rumitnya masalah regulasi. 

”Kita maunya semua (fintech syariah) disetujui, tapi ada regulator di sana, kemudian ada persyaratan-persyaratan yang tidak mudah dipenuhi,” jelas Taufik, pada acara Jakarta Syariah Halal Festival bertajuk , di Jakarta Convention Center, bertajuk Arah Baru Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal, Jakarta, Kamis (7/3).

Taufik juga mengungkapkan banyaknya syarat yang harus dipenuhi fintech syariah. Misalnya, secara keuangan membutuhkan keuangan modal yabg cukup besar, kemudian persiapan sumber daya manusia (SDM) yang juga membutuhkan biaya tinggi.

Alasan tersebut yang membuat fintech syariah tidak mudah untuk dijalankan. Fintech syariah membutuhkan keberpihakan dari regulator atau pemerintah untuk mengayomi fintech syariah yang belum mampu memenuhi syarat.

“Kalau kita standar pendaftarannya seperti yang konvensional, yang mungkin lebih mampu secara keuangan dan SDM, memang agak sulit bergerak. Harapan kita ke regulator, bukannya diberi kemudahan secara khusus, tetapi diperlakukan secara adil. Syukur-syukur jika ada keberpihakan ke kita (fintech syariah),” papar Taufik.

Menurut AFSI, pelaku fintech syariah mampu memenuhi seluruh syarat. Apabila ada yang tidak bisa memenuhi seluruh syarat, bisa saling berkolaborasi. Sampai saat ini, terdapat 60 fintech syariah yang tergabung dalam AFSI.

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo
#Fintech #AFSI