Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Bappenas: Indonesia Harus Jadi Rujukan Standar Halal Global
Dok. Sharianews.com
Selain berpeluang besar menjadi rujukan standar halal global, Indonesia sangat potensial sebagai produsen sekaligus pasar produk halal terbesar di dunia.

Selain berpeluang besar menjadi rujukan standar halal global, Indonesia sangat potensial sebagai produsen sekaligus pasar produk halal terbesar di dunia.

Sertifikasi halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah diakui dunia. Lebih dari 50 negara meminta sertifikasi halal dari lembaga yang berusia 29 tahun ini.

Menanggapi hal itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang PS. Brodjonegoro mengatakan, sudah saatnya Indonesia menjadi rujukan standar halal global.

Menurutnya, produk halal tak hanya berbentuk barang, tapi juga jasa. Salah satu industri yang bisa diekspor adalah jasa standar halal MUI.

“Nantinya semua produk dari Jepang, Eropa, Amerika, Australia yang ingin mendapatkan sertifikasi halal itu harus mengikuti standar halalnya Indonesia,” katanya saat diskusi “Indonesia: Pusat Ekonomi Islam Dunia” pada Rabu (25/7/18) di Jakarta.

Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) ini menambahkan, pengujian standar halal ini bisa dilakukan di Indonesia atau di laboratorium atau lembaga-lembaga di luar negeri yang sudah mendapatkan akreditasi.

“Akreditasi ini nantinya dikeluarkan oleh badan yang nantinya mengurusi standar halal Indonesia,” paparnya.

Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), lanjutnya, nantinya akan diarahkan fokus pada industri halal. Selama ini, katanya, belum ada perhatian khusus untuk industri halal.

“Pemerintah harus jeli dan cermat dalam memantau komoditas yang permintaannya tinggi. Salah satunya adalah produk dan jasa halal,” ungkap Sekretaris Dewan Pengarah KNKS ini.

Menurut data Halal Industry Development Corporation tahun 2016, lanjutnya, diperkirakan produk halal mencapai USD 2,3 triliun. Produk dan jasa halal ini mencakup beberapa sektor. Di antaranya makanan, kosmetik, makanan hewan, obat-obatan dan vaksin, keuangan syariah, farmasi, dan logistik.

“Jadi semua produk halal mesti terus kita kembangkan. Mulai dari wisata (tourism) halal, berbagai produk halal beserta sektor riilnya sampai keuangan syariah dan zakat, infak, shadaqah, dan wakaf. Ini yang menjadi perhatian kami,” jelasnya.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini juga mengakui potensi industri halal sangat besar. Peran ekspor halal Indonesia mencapai 21 persen dari total ekspor secara keseluruhan, menurut data Comtrade 2017.

“Angka itu sebenarnya belum maksimal, tapi perkembangan ekspor halal Indonesia terus mengalami peningkatan sebesar 19 persen sejak 2016,” urainya.

Di masa mendatang, harapnya, peran ekspor produk halal Indonesia harus dapat ditingkatkan dengan memaksimalkan pemanfaatan permintaan dari negara tujuan ekspor produk halal serta potensi ekspor ke negara anggota Organisasi Konferensi Islam seperti Mesir dan Uni Emirat Arab.

“Indonesia berpeluang menjadi pasar produk halal terbesar di dunia sekaligus menjadi produsen produk halal. Hal ini karena Indonesia berada di posisi strategis bagi halal superhighway link dalam global halal supply chain,” paparnya.

Beberapa perusahaan manufaktur punya kemampuan untuk berkompetisi secara global. Strategi-strategi di sektor perdagangan dan upaya diversifikasi produk perlu difokuskan pada beberapa pasar tujuan potensial produl halal.

“Kita tinggal perlu terus memperkuat industri halal ini,” imbuhnya. (*)

Penulis: A.Rifki