Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Fokus / Banyak Transaksi E-Commerce Bermasalah Karena tidak Menganut Asas Syariah
FOTO I Dok. sharianews.com
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mengatakan, keluhan konsumen belanja online yang disediakan oleh sejumlah platform e-commerce pada periode Januari sampai Desember 2018, tercatat mencapai 40 dari total 500 aduan yang masuk ke lembaga BPKN.

Sharianews.com, Jakarta ~ Belanja online kini telah membumi bagi generasi milenial. Belanja memangkas rantai jual beli—produsen langsung ke konsumen, tidak ada tangan ke dua dan ke tiga—juga lebih efisien waktu, tidak harus datang ke tempat penjualan langsung.

Tetapi, semakin banyaknya peminat e-commerce atau niaga daring tentu bermunculan juga sisi negatifnya. Baik ketidakpuasan konsumen karena ketika barang datang tidak sesuai pesanan, kecurangan penjual, sampai pemesanan hotel ataupun transportasi tidak sesuai yang terpampang di foto.

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mengatakan, keluhan konsumen belanja online yang disediakan oleh sejumlah platform e-commerce pada periode Januari sampai Desember 2018, tercatat mencapai 40 dari total 500 aduan yang masuk ke lembaga BPKN.

Wakil Ketua BPKN Rolas Sitindak mengatakan pengaduan belanja online nomor dua tertinggi setelah aduan mengenai pembiayaan rumah. Mayoritas aduan soal belanja online bahkan ikut menyeret nama platform e-commerce besar, seperti Traveloka, Lazada dan Tokopedia.

“Paling banyak Traveloka, karena sampai ada gugatan. Nah, kalau sampai ada gugatan itu biasanya ke Singapura,” tegas Rolas.

Dua lain yang masuk ke BPKN adalah berasal dari konsumen Lazada dan Tokopedia. Permasalahan terkait transaksi beli konsumen. Namun Rolas tidak merinci jumlah masing-masing e-commerce tersebut.

Menanggapi hal tersebut CEO aplikasi Nyayur, Arfian Fuady mengatakan jual beli baik online maupun offline perlu menjujung asas kejujuran. Hal tersebut juga kami terapkan dalam perusahaan kami. Jika pelanggan tidak puas, bisa dikembalikan. Packing sayur rusak bisa dikembalikan.

“Menurut saya itu syariah banget. Tidak merugikan orang. Jualan dengan jujur. Kepuasan pelanggan dijaga maka akan meningkat. Dan pelanggan tidak akan berpaling. Itu pelajaran dasar dari jual-beli,” kata Arfian.

Arfian menambahkan, akad jual beli atau bisa disebut ijab Kabul dalam jual beli memiliki tiga syarat utama yang harus dipenuhi agar tidak menimbulkan dosa atau ketidakpuasan satu dengan yang lain. Di antara syarat tersebut antara lain, ridha penjual dan pembeli. Dalam melakukan akad jual beli kedua belah pihak yang melakukan proses jual beli haruslah ridho atau suka sama suka dalam melakukan proses transaksi dan tidak ada paksaan di antara keduanya.

“Jadi transaksi sesuai dengan syariah itu pasti menguntungkan dan akan menyelamatkan kita dari ketidakpuasan pembeli,” tandas Arfian.

Sementara itu Khoirunnisa pelaku jual beli online mengatakan, belakangan makin banyaknya penjual online maka pembeli juga harus hati-hati. Tidak asal beli karena foto bagus. Cara pertama yang perlu dilihat adalah jumlah bintangnya. Kedua melihat foto produknya yang sudah sampai di kolom komentar. Kalau bagus dan banyak yang puas berarti barang bagus.

“Kalau foto komentarnya bagus berarti produk yang dijual bagus. Namun, ada juga yang beli banyak tapi ada beberapa orang yang komplain karena barang tidak sesuai dengan di foto,” pungkas Nisa. (*)

 

 

Repoter: Munir Abdillah Editor: Achi Hartoyo