Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Keuangan / Bank Wakaf Mikro Murni Sebagai Pemberdayaan
FOTO I Dok. industry.co.id
“Keuntungan dari deposito itu digunakan untuk membiayai karyawan Bank Wakaf Mikro, karena Bank Wakaf Mikro tidak boleh seperti koperasi atau BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dia tidak boleh mengambil keuntungan, maka gaji karyawan itu diambil dari dana dalam bentuk deposito tadi,” papar Agus.

Sharianews.com, Jakarta ~ Bank Wakaf Mikro yang dibuat oleh pemerintah di bawah Otoritas Jasa Keuangan dinilai berbeda dengan koperasi maupun lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) lainnya.

Pengamat Keuangan Mikro, Agus Yuliawan mengatakan keberadaan dari Bank Wakaf Mikro ini fungsinya adalah pemberdayaan, tidak berfungsi sebagai bisnis. Sementara seperti koperasi, fungsinya adalah pemberdayaan dan bisnis.

“Jadi secara perspektif Bank Wakaf Mikro ini bagus untuk memberdayakan, karena peran dari koperasi sangat minim melakukan aktivitas-aktivitas pemberdayaan,” jelas Agus, saat dihubungi Sharianews.com, Rabu (27/2).

Kurangnya aktivitas pemberdayaan oleh koperasi, menurutnya disebabkan kurangya sumber daya manusia yang concern terhadap pemberdayaan, sehingga praktiknya koperasi seperti perbankan, simpan dan pinjam uang.

Dosen Keuangan Mikro Azzahra ini juga mengungkapkan, Bank Wakaf Mikro memiliki sistem permodalan yang unik. Dana yang diberikan pemerintah bisa mencapai Rp4 miliar untuk satu Bank Wakaf Mikro.

Dari dana tersebut kemudian disalurkan ke dalam beberapa sektor unit usaha mikro. Namun, tidak semuanya disalurkan menjadi pembiayaan. Sebagian dialokasikan dalam bentuk deposito di bank syariah.

“Keuntungan dari deposito itu digunakan untuk membiayai karyawan Bank Wakaf Mikro, karena Bank Wakaf Mikro tidak boleh seperti koperasi atau BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dia tidak boleh mengambil keuntungan, maka gaji karyawan itu diambil dari dana dalam bentuk deposito tadi,” papar Agus.

Kemudian dana yang digulirkan kepada anggota Bank Wakaf Mikro, disalurkan dengan skema tanggung renteng.

Dari sinilah anggota diberikan edukasi, pemahaman literasi terkait dengan ekonomi syariah, bagaimana membangun wirausaha, dan bagaimana keluar dari jerat kemiskinan.

Di dalam penyaluran dana, pada prinsipnya disesuaikan dengan jumlah nominative anggotanya.

“Kalau jumlah anggotanya 200, dibutuhkan hanya Rp300 juta, ya Rp300 juta itu yang diambil. Lalu, dari setiap penyaluran uang tersebut, Bank Wakaf Mikro mendapatkan admin dari setiap penyaluran entah itu dua persen atau tiga persen, dari segi administrasi,” ujar Agus.

Karena sifat penyaluran dana Bank Wakaf Mikto itu qardhul hasan, maka anggota diberikan pembiayaan dalam bentuk uang. Pembiayaan tersebut tidak menggunakan kolateral, tetapi berdasarkan sistem tanggung renteng hanya dengan membayar pokoknya saja. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo