Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Keuangan / Bank Wakaf Mikro Hadir untuk Atasi Kesenjangan Sosial dan Kemiskinan
BWM hadir untuk atasi kesenjangan sosial dan kemiskinan yang masih cukup tinggi dan menjadi masalah bagi Indonesia.

Sharianews.com, Jakarta. Kehadiran Bank Wakaf Mikro (BWM) dilatar bekalangi oleh persoalan kemisikinan serta ketimpangan antara si kaya dan si miskin di Tanah Air.

Demikian dikatakan oleh Penasihat Komite Strategis dan Pusat Riset Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ahmad Buchori. Lebih lanjut Ahmad Buchori memaparkan, sampai saat ini tingkat kemiskinan masih cukup tinggi, dan hal itu masih menjadi masalah bagi Indonesia.

"Selain itu, kesenjangan antara pengusaha kaya dengan pengusaha miskin juga masih sangat lebar,"tuturnya dalam seminar di acara Indonesia Syariah Fair 2018, di Balai Kartini Jakarta, Selasa (27/11/18). 

Disebutkan olehnya, Indonesia adalah negara dengan tingkat ketimpangan nomor empat di dunia, di mana menurut Credit Suisse Research Institute (2016) disebutkan bahwa satu persen orang Indonesia menguasai 49,3 kekayaan nasional, dan 10 persen menguasai 75,7 persen kekayaan nasional.

Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik (2018), juga menyebutkan, adanya ketimpangan yang masih tinggi, yaitu pada tingkat 0,389 di mana ketimpangan terbesar berada di perkotaan yaitu sebesar 0,401.

Hal tersebut diikuti dengan jumlah penduduk miskin di Indonesia yang masih sebanyak 25,95 juta atau sekitar 9,82 persen. “Sehingga atas dasar data tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan arahan kepada OJK bagaimana supaya para pengusaha kaya ini bisa membantu usaha-usaha mikro di pedesaan,”jelas Buchori, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Usaha mikro ini berkaitan dengan upya peningkatan kesejahteraan, berhubungan dengan akses keuangan dengan skema syariah dengan skema bagi hasil atau marginnya rendah, sehingga tidak membebani usaha mikro.

“Karena selama ini yang usaha mikro itu rata-rata dapat kredit atau pembiayaan perbankan itu biasanya besar, bagaimana supaya lebih murah. Kemudian juga tidak ada agunan, sama sekali tidak ada agunan,” ucap Buchori.

OJK menjembatani pengusaha kaya dan mikro

Untuk menerjemahkan arahan presiden tersebut, OJK kemudian mencoba menjembatani pengusaha kaya dengan pengusaha mikro, sehingga dana-dana yang berasal dari pengusaha kaya yang mewakafkan hartanya, kemudian dapat untuk mendirikan BWF atau secara legalitas disebut Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah.

Buchori mengungkapkan para pengusaha kaya ini, tentunya berharap dana yang disalurkan itu supaya tepat sasaran, jangan sampai nanti karena target atau misi tertentu akhirnya tidak tepat sasaran yang tidak layak menerima tetapi dia jadi menerima.

Karena itu, harus ada lembaga yang bisa mengawasi, dalam hal ini adalah OJK, sehingga para pengusaha kaya yang menyalaurkan dananya ini mejadi lebih tenang.

“OJK menggunakan pendekatan BWF ini didirikan di pondok-pondok pesantren. Karena memang sejarahnya pesantren itu punya hubungan yang erat dengan masyarakat sekitar pondok pesantren,”tutur Buchori.

Sementara, Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2018 pernah mengatakan akan terus membuka BWF. 

“Terus kita perbanyak, untuk dapat membantu usaha kecil, masyarakat kecil untuk mengakses kredit. Tahun ini, kita akan tambah jumlahnya dan kita perluas cakupannya,” jelas Jokowi (18/1/2018). (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil